MEMBANGUN & MEMELIHARA
KETERHUBUNGAN DENGAN ALLAH
oleh :
Prof. Dr. H.
Muzakkir, MA
(Guru Besar Fakultas
Ushuluddin dan Studi Islam
Universitas Islam
Negeri Sumatera Utara)
A.
PENDAHULUAN
Dari sudut pandang agama, kebutuhan manusia terhadap
sistem kepercayaan merupakan salah satu naluri yang paling mendasar, bahkan
lebih mendasar dari naluri manusia untuk makan dan minum. Naluri ini
sesungguhnya merupakan penyaluran dari dorongan yang jauh mendalam di alam
bawah sadarnya, yaitu dorongan gerak kembali kepada Tuhan karena adanya “Perjanjian Primordial” dengan
Penciptanya itu dalam alam rohani[1].
Karena
alasan tersebut, upaya untuk memahami
dan mendekati serta memelihara keterhubungan dengan Tuhan dengan segala
konsekwensi yang ditimbulkannya
menjadi objek pembahasan yang
sangat diminati dan juga dilakukan dengan sangat hati-hati.[2]
Sederet manifestasi yang bermacam-macam
atas usaha tiada henti terus dilakukan untuk mengenal dan dekat dengan Tuhan.
Kaum mistikus, ringkasnya, adalah para pencari pengetahuan tentang Allah secara
praktis yang juga disebut dengan al-’arif.[3]
Para ahli irfan (Arifbillah)
beranggapan bahwa segala ma’rifat dan pengetahuan yang bersumber dari
intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih sesuai dengan kebenaran
daripada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal.
Mereka menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya
menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasi-Nya, namun manusia
dapat berhubungan secara langsung (immediate)
dan intuitif dengan hakikat tunggal alam (baca: Sang Pencipta) melalui
dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika
manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan
ketergantungan-ketergantungan lahiriah. Sebagian karena penyingkapan (Kasyf) seringkali
berbentuk pengetahuan visioner-imajistik dan mereka kerap menggunakan syair
untuk mengekspresikan ajaran-ajaran mereka tentang Allah, dunia dan jiwa
manusia. Banyak diantara mereka merasa bahwa syair merupakan medium ideal untuk
mengekspresikan kebenaran-kebenaran tentang hubungan paling dekat dan misterius
yang bisa dijalin manusia dengan Allah.[4]
Mengapa
kita perlu mendekatkan diri dan membina hubungan yang harmonisdengan Allah? Secara
logika, dalam kehidupan inikita berupaya untuk menjalin hubungan yang baik penuh
ketaatan dengan orang tua kita, dengan keluarga kita, dengan teman-teman kita,
dengan rekan bisnis, dengan atasan, dengan bawahan, dengan tetangga maupun
dengan lingkungan masyarakat sekitar kita. Namun, mengapa Allah tidak juga
mendapat perhatian khusus dan paling utama dari kita, sedangkan Dia yang
menciptakan kita dan makhluk-makhluk di sekitar kita tersebut. Wajarkah kita
mengabaikan keterhubungan dengan Sang Khaliq? Tidakkah kita sadari bahwa
sebelum terlahir ke dunia, ruh setiap
pribadi kita sudah terikat “Perjanjian
Primordial” dengan-Nya?Dan ruh ini juga yang akan kembali ke sisi-Nya untuk
mempertanggungjawabkan ikrar tersebut. Tidakkah kita sadari bahwa kehidupan ini
Allah yang atur dan uruskan untuk kita? Dia Penguasa dan Pengatur seluruh alam
beserta isinya, kehidupan di dunia ini sesungguhnya berjalan dan terjadi menurut
Sunnatullah. Kita tidak sepenuhnya
bertakwa pada-Nya dalam menjalani kehidupan, lalai terhadap perintah ataupun
larangan-Nya, kita tidak berperilaku seperti tuntunan syariat yang tercermin
dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Persoalan-persoalan hidup serta
krisis multidimensi yang terjadi saat inisesungguhnya adalah sebagai akibat jalinan
hubungan yang tidak harmonis dengan Allah Swt., Dzat yang Maha Agung. Tentang
hal ini telah dijelaskan Allah Swt. dalam Al-Qur’an, diantaranya :
· QS.
At-Thalaaq [65] ayat 2, 3 dan 4 :
“(2)...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan
baginya jalan keluar; (3)Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu; (4)...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan
baginya kemudahan dalam urusannya.”
· QS.
Al-A’raaf [7] ayat 96 :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.”
Disamping itu, terhindar atau
tersadarkannya diri kita dari kemaksiatan, serta jalan kita untuk meraih surga
dikehidupan yang kekal nanti Allah juga lah yang berkehendak. Dia lah sebagai
Penolong utama kita, yang memberikan Hidayah, Petunjuk, Karunia, Ampunan
terhadap hamba yang dikehendaki-Nya melalui Ilmu-Nya. Alangkah bahagianya jika
kita termasuk hamba pilihan-Nya yang mendapatkan anugerah ini. Sebagaimana Firman
Allah Swt. :
·
QS. An-Nuur [24] ayat 21 :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-
langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka
Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang
mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu
sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan
keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang
dikehendaki-Nya.Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
·
QS. Al-Anfaal [8] ayat 29 :
“Hai
orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan
kepadamu Furqaan[5]. Dan Kami akan jauhkan
dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai
karunia yang besar.”
· QS.
Al-Qashash [28] ayat 56 :
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang
yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk.”
· QS.
Al-Baqarah [2] ayat 213 :
“...Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya
kepada jalan yang lurus.”
·
Allah berfirman
memberitakan tentang penduduk surga dalam surah Al-A’raaf[7] ayat 43 :
“...Dan mereka berkata : "Segala puji bagi Allah yang telah
menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat
petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk...”
Dari beberapa keterangan ayat-ayat
di atas, jelaslah bahwasanya kita butuhkan keterhubungan dengan Allah, dan oleh
karenanya kita harus berupaya membangun dan memelihara secara intensif keterhubungan
yang harmonis dengan-Nya agar
Petunjuk, Pertolongan, Perlindungan, Ampunan, limpahan Rahmat Karunia Allah senantiasa
tercurah dalam kehidupan kita sehingga hidup ini menjadi terarah dan “lurus” (on the right track), seimbang,
aman, damai, tentram dan penuh keberkahan. Tali-temali
pengikat erat keterhubungan antara manusia dengan Allah adalah iman dan taqwa, melakukan
ibadah serta amal sholeh sesuai tuntunan syariat dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah,
yang pada akhirnya akan tertanam sifat-sifat ihsan pada jiwa setiap insan yang terpancar lewat akhlak-akhlak
terpuji baik itu di hadapan Allah maupun dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Dalam makalah ini penulis akan mengeksplorasi tentang
bagaimana membangundan
memelihara keterhubungan dengan Allah yang meliputi; upaya membangun
keterhubungan melalui pemantapan tauhid (keimanan) sebagai dasar utama
pembentukan jiwa-jiwa yang bertakwa, pembahasan tentang hakikat tujuan
penciptaan manusia, mengenal potensi dimensi ruhaniah manusia, tazkiyatun nafs, serta kiat-kiat
memelihara keterhubungan dengan Allah.
B. UPAYA MEMBANGUN KETERHUBUNGAN DENGAN
ALLAH
1. Pemantapan Tauhid (Keimanan/Keyakinan)
“Barangsiapa
yang telah beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
utas tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]:
256)
“Hai
manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu.
Adakah
Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan
bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia;
Maka
Mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?
(QS. Faathir [35]: 3)
Dalam
Islam, tauhid atau keimanan tentang Allahsebagai Rabb dan satu-satunya Ilahmerupakan
hal utama dan paling mendasar yang harus ditanamkan dan diperbaiki karena itu
merupakan pondasi yang menopang kehidupan keislamannya nanti. Jika diibaratkan
dengan sebuah bangunan, keimanan adalah pondasi yang menopang segala sesuatu
yang berada di atasnya, kokoh tidaknya bangunan itu sangat tergantung pada kuat
tidaknya pondasi tersebut.
Setiap orang akan mampu mengucapkan
kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, tetapi
apakah setiap orang akan mampu merealisasikan makna yang terkandung dari
kalimat tersebut?
Keimanan
tidaklah sempurna jika hanya diyakini dalam hati tapi juga harus diwujudkan
dengan diikrarkan oleh lisan dan dibuktikan melalui tindakan dalam kehidupan
sehari-hari sesuai dengan syariat ajaran Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an
dan as-Sunnah. Iman bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan yang dapat
membentuk seseorang jadi bertakwa serta keyakinan yang dapat memotivasi
seseorang berbuat amal sholeh.
Proses pembentukan iman diawali
dengan perkenalan tentang “siapa” Allah
sebenarnya. Berikut ini akan
dijelaskan tentang pembuktian “wujud”
Tuhan dalam pandangan Al-Qur’an dan para sufi, agar keimanan kita semakin kuat
dan kokoh sehingga terjalin ikatan batin yang kuat dengan-Nya. Dengan mengetahui,
memahami dan mengenal Dzat Allah
dengan segala Kekuasaan-Nya maka akan membuahkan rasa takut kepada-Nya,
tawakkal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya.
Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa
yang dilarang oleh-Nya, yang akan menentramkan hati ketika mengalami
gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika rasatakut,serta akan
berani, tangguh dan sabar dalam menghadapi segala macam problema kehidupan.
v Tuhan
Dalam Pandangan Al-Qur’an
Al-Qur’an sebenarnya telah memaparkan
beragam argumentasi akliah bersamaan dengan sentuhan-sentuhan rasa untuk
membuktikan keesaan Tuhan. Melalui Al-Qur’an, Tuhan memerintahkan manusia untuk
memuji “Ulul al-Baab” yang berzikir dan berfikir tentang kejadian langit dan
bumi serta pergantian waktu antara siang dan malam.[6]Bahkan selain itu, Tuhan juga telah memerintahkan
manusia untuk memandang alam dan fenomenanya dengan pandangan nalar serta
memikirkannya.
Ibnu Taimiyah pernah mengatakan bahwa, “Tidak adanya pengetahuan
bukanlah berarti pengetahuan tentang sesuatu itu tidak ada” (‘adamu ‘Ilmi laysa ‘ilman bil ‘adami).Artinya
bahwa, jika seseorang tidak mengetahui sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak
ada. Pengetahuan seseorang yang semata-mata mengandalkan rasionalitas akhirnya
akan mengkebiri dirinya sendiri, sehingga dengan sendirinya ia tidak akan
memiliki perangkat untuk dapat menjangkau sesuatu yang “tidak nampak” atau
gaib.
Berkaitan dengan hal itu, Muhammad Asad[7]
berpendapat bahwa perkataan Arab “al-ghaib”
sering diartikan secara salah sebagai “yang tidak nampak”. Padahal menurutnya,
perkataan itu dalam Al-Qur’an dimaksudkan untuk menunjukkan kepada
sektor-sektor atau tingkat-tingkat kenyataan yang berada di luar jangkauan
persepsi manusia, dan karenanya tidak dapat dibuktikan benar tidaknya dengan
pengalaman ilmiah, atau malah tidak dapat dicakup dalam kategori-kategori yang
umum diterima dengan pemikiran spekulatif, seperti misalnya adanya Tuhan dan
adanya maksud yang jelas di balik alam raya, kehidupan sesudah mati, hakikat
sebenarnya dari waktu, adanya kekuatan-kekuatan rohani dan kegiatannya yang
saling berhubungan, dan seterusnya.
Selanjutnya Muhammad Asad mengatakan bahwa hanya orang yang yakin tentang
adanya hakikat mutlak yang berada amat jauh di luar lingkungan kita yang
teramati, yang bakal mencapai keimanan kepada Tuhan, dan dengan begitu,
keimanan bahwa hidup ini mempunyai makna dan tujuan. Akhirnya Asad menegaskan
bahwa “dengan menyebutkannya sebagai petunjuk untuk mereka yang percaya kepada
sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi manusia”, Al-Qur’an sebenarnya mengatakan
bahwa dengan demikian Kitab Suci itu akan tetap merupakan buku tertutup untuk
mereka yang hanya dapat menerima premis asasi tersebut.[8]
Sungguh merupakan hal yang sangat
mengagumkan dan unik ketika Tuhan memperkenalkan diri-Nya sendiri, seperti yang
diperkenalkan-Nya melalui kitab suci Al-Qur’an. Tuhan yang diperkenalkan Al-Qur’an bukanlah sebagai
sesuatu yang bersifat materi. Jika demikian pastilah Tuhan berbentuk, dan jika
Dia berbentuk maka Tuhan pasti terbatas dan akan membutuhkan tempat. Jika Tuhan
terbatas dan membutuhkan tempat maka itulah yang menjadikan Dia bukan Tuhan,
karena Tuhan tidak terbatas dan tidak pula membutuhkan sesuatu apapun.
Kata
“Allah” dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 2697 kali, belum termasuk kata-kata
semacam; wahid, ahad, al-Rabb, al-Ilah
atau kalimat yang menafikan adanya sekutu bagi-Nya baik dalam perbuatan atau
wewenang dalam menetapkan hukum, atau kewajaran beribadah kepada selain-Nya
serta penegasan lain yang semuanya mengarah kepada penjelasan tauhid.[9]
Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada
dalam diri setiap insan, dan hal tersebut merupakan fitrah bawaan manusia sejak
asal kejadiannya.[10] Itu
sebabnya Al-Qur’an memerintahkan jika ingin memahami dan mengenal-Nya, maka pikirkanlah dan pahamilah sesuatu dibalik
ciptaan-Nya, termasuk diri manusia sendiri.
Setidaknya
ada dua metode jalan mengenal Tuhan. Pertama, manusia mengenal diri
kemanusiaannya sendiri, sebagaimana di dalam Al-Qur’an Allah menegaskan agar
manusia memperhatikan dan memikirkan dirinya sendiri (QS. Al-Dzariyat [51]:
21). Kedua, manusia memikirkan
cakrawala (pengetahuan tentang alam) dan diri manusia sendiri, sebagaimana
Allah menegaskan dalam bunyi Firman-Nya, “Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di segenap penjuru
jagat-raya (cakrawala) dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka
bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkah(bagi kamu) bahwasesungguhnya
Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”(QS. Fushshilat [41]: 53).
Inilah cara
yang terbaik yang dipilihkan Tuhan , yang merupakan cara yang tepat bagi manusia yang ingin
memahami dan mengenal-Nya. Sehingga Ali ibn Abi Thalib pun pernah menyatakan,
“Barangsiapa mengenal dirinya maka sesungguhnya dia telah mengenal Tuhannya”.
Adapun kedua
cara pendekatan dan pengenalan kepada Tuhan tersebut, banyak diceritakan di
dalam Al-Qur’an. Misalnya, Allah memuji “Ulul al-Baab” yaitu orang-orang yang
memperhatikan dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, atau
silihbergantinya siang dan malam.[11] Kemudian Allah juga menyanjung orang-orang yang
memikirkan jejak-jejak tindakan yang menunjukkan keberadaan wujud
(eksistensi)-Nya. Adapun maksud Tuhan menyanjung dan memuji “Ulul al-baab”[12] yang memikirkan setiap wujud dan gerak alam, adalah
Dia hendak mengatakan bahwa cara yang demikian itu sudah merupakan hal yang
tepat sebagai sarana untuk berjalan mengenal dan memahami-Nya. Kemudian dengan
fitrah bawaan berupa “akal” dan “nurani” yang diberikan oleh Allah kepada
manusia itulah, manusia berjalan memahami dan mengenal-Nya.
Sebenarnya Tuhan dengan sendirinya
telah menerangkan kepada manusia akan keberadaan-Nya berikut keesaan-Nya,
tetapi mungkin kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Mengenai tanda
(bukti-bukti) bahwa Tuhan telah menunjukkan keberadaan-Nya dan keesaan-Nya itu,
menarik untuk disimak ungkapan yang dikemukakan Fakhruddin al-Razi (544–606 H), yang menerangkan dengan lima macam
bukti:
1. Pertama,
Tuhan menunjukkan bukti keesaan-Nya dengan keberadaan diri mereka (manusia)
sendiri, dengan Firman-Nya, “Sembahlah
Tuhan kalian yang menciptakan kalian”.
2. Kedua,
dengan keberadaan orang-tua dan nenek-moyang mereka, seperti yang ditunjukkan
oleh Firman-Nya, “dan orang-orang sebelum
kalian”.
3. Ketiga,
dengan kondisi bumi, seperti yang ditunjukkan oleh Firman-Nya, “Yang menjadikan bumi sebagai hamparan
bagimu”.
4. Keempat,
dengan kondisi langit, seperti yang ditunjukkan oleh Firman-Nya, “dan langit sebagai atap”.
5.
Kelima, dengan berbagai
kondisi yang berkaitan dengan langit dan bumi, seperti yang ditunjukkan oleh Firman-Nya,
“Dan Dia (Allah) menurunkan air hujan
dari langit. Lalu dengan hujan tersebut Dia mengeluarkan segala
macam buah sebagai rezeki untukmu”. Maka langit ibarat ayah dan bumi ibarat ibu, air hujan
turun dari sulbi langit ke rahim bumi hingga melahirkan beragam macam
tumbuh-tumbuhan.[13]
Ketika menyebutkan kelima bukti di atas
maka Tuhan menyertainya dengan sebuah tuntutan, “Karena itu, janganlah membuat sekutu bagi Allah padahal kalian
mengetahui”.[14]Semua
bukti tadi menunjukkan keberadaan Sang Pencipta sekaligus mengukuhkan
keesaan-Nya. Hal ini dipertegas lagi dengan Firman-Nya, “Seandainya di langit dan bumi ada tuhan-tuhan lain selain Allah, pasti
keduanya akan hancur”.[15]
Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah
[2]: ayat 21–22 di atas, terdapat hal yang perlu dicermati, yaitu bahwa urutan
yang tepat dalam mengajar adalah dimulai
dari yang paling mudah dan jelas, hingga meningkat ke bagian yang paling rumit
dan samar. Disini Tuhan menjelaskan pembuktian terhadap kedirian manusia dahulu
daripada yang lain. Manusia selalu mengalami perubahan dalam hidupnya,
terkadang senang dan susah, gembira dan sengsara, sakit dan sehat, mengalami
masa muda dan tua. Terjadinya peralihan dari satu kondisi ke kondisi lainnya itu
tentu bukan keinginan pribadi manusia sendirinya.Seseorang akan sadar dengan hal tersebut bahwa pasti
ada Zat Yang Mengatur, yang aturan-Nya mengalahkan aturan dan rencana manusia.
Dalam menafsirkan Al-Qur’an, Buya Hamka (1908–1981) pernah mengatakan, bahwa dalam Al-Qur’an
lebih banyak dijumpai ayat-ayat yang memerintahkan untuk merenungi ciptaan-Nya
ketimbang yang menguraikan persoalan peribadatan. Dari ungkapan tersebut Buya
Hamka ingin mengatakan bahwa merenungi dan memahami sesuatu bentuk ciptaan
Tuhan, jika benar-benar dilakukan dengan penuh penghayatan maka seseorang itu
akan terhantarkan kepada Sang Penciptanya. Dengan demikian maka hasil
perenungan tersebut dengan sendirinya tidak membutuhkan penjelasan karena sesungguhnya
telah terang dan jelas bahwa hakikat esensi (wujud) Tuhan ada di balik setiap
ciptaan-Nya.Barulah kemudian meyakini dan mengimaninya dengan sepenuh hati.Maka
selanjutnya bagi siapa yang melakukan perenungan pada setiap ciptaan-Nya dapat
dinilai sebagai kebajikan yang tidak lain adalah sebagai pelaksanaan dari pesan
(ruh) ibadah itu sendiri.
Dari perenungan dan pemahaman terhadap setiap bentuk
ciptaan Tuhan, maka dengan sendirinya manusia akan menemukan jejak-jejak
Penciptanya. Itulah tauhid yang menjelaskan sejelas-jelasnya, hingga manusia
itu dapat membedakan yang mana ciptaan (makhluk)
dan yang mana Penciptanya (Khaliq).
Dan upaya menuju ke tingkat pemahaman yang demikian merupakan suatu bentuk
ibadah yang tak ternilai, karena menghantarkan pelakunya untuk berjumpa kepada
Khaliqnya yaitu Raja dari segala raja, Raja Yang Maha Sucidari kekotoran
sangkaan setiap hamba-Nya. Itulah hakikat pencarian dan perenungan seorang
hamba yang dapat dinilai sebagai ibadah yaitu pengakuan akan adanya Tuhan Yang
Maha Esa sekaligus pengesaan kepada-Nya.
Dengan demikian, maka
jelaslah makna dibalik penciptaan alam terdapat tanda (bukti-bukti)
kekuasaan-Nya sekaligus yang mengukuhkan keesaan-Nya.Apabila manusia mau
menyadarinya Tuhan pasti memberikan hikmah yang mendalam dan rahasia-rahasia
tertentu dibalik penciptaan alam semesta ini. Sungguh Maha Suci, Zat Yang
ilmu-Nya tidak terbatas dan hikmah-Nya tidak terhingga, yang telah memberikan
pelajaran bagi seluruh bangsa manusia akan keagungan dan keesaan-Nya, cukup
dengan menciptakan alam beserta seluruh isinya.
v Tuhan Dalam Perspektif Sufi
Tuhan dipersepsi dengan beraneka cara oleh manusia.
Pada hakikatnya Tuhan sangat bergantung pada persepsi dan keyakinan
masing-masing penganutnya.Cinta manusia
pada apa pun, haruslah merupakan jalan untuk mencintai dan mendapatkan cinta
Allah. Karena itu, anak, istri, kekasih, jabatan, harta, baru bernilai ketika
dapat menjadi jembatan untuk menjumpai sang Khalik.[16]
Dalam tradisi sufi, Tuhan digambarkan sebagai Sang
Kekasih, yang kepada-Nya puncak cinta dan rindu manusia hendak ditambatkan.
Lain lagi dengan tradisi filsafat yang menggambarkan Tuhan sebagai prinsip asal
dari segala yang ada (Maujudat) dan Dia wajib adanya (Wajib al-wujud)[17].
Ada juga yang mengatakan bahwa Tuhan adalah sebab utama, cahaya, ataupun
sebagai wujud murni.[18]
Begitu juga ada yang menyebut Tuhan sebagai Supreme Intellect, Absolute
Being, sumber segala Wujud, dan lain sebagainya, yang semua istilah
itu memang merupakan konstruksi nalar dan untuk bisa memahami kandungan
maksudnya memang memerlukan penalaran yang serius dan sistematis.[19]
Mengutip perkataan
al-Junayd, Ibn al-'Arabi berkata:
"Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya" (Lawn al ma'
lawn ina'ihi). Itulah sebabnya mengapa Tuhan melalui sebuah hadits qudsi
berkata: "Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku" (Ana 'inda
zhann 'abdi bi).[20] Tuhan disangka, bukan diketahui. Dengan kata lain, Tuhan
hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya.
Jalaluddin
Rumi mewakili para sufi mengatakan bahwa mengetahui Tuhan
melalui pengabdian, bukan pemikiran; melalui cinta, bukan kata; melalui taqwa
bukan hawa. Ia tidak ingin mendefinisikan Tuhan; ia ingin menyaksikan Tuhan.
Dengan menggunakan intelek, ia yakin hanya akan mencapai pengetahuan yang dipenuhi
keraguan dan kontroversi. Melalui mujahadah
dan 'amal, kita dapat menyaksikan Tuhan dengan penuh keyakinan.[21]
Rumi menunjukkan bahwa dengan intelek kita tidak akan
memperoleh pengetahuan tentang Tuhan. Intelek mempunyai kemampuan terbatas; dan
karena itu, tidak akan mampu mencerap Tuhan yang tidak terbatas.[22]
Sekiranya intelek mencoba memahami Tuhan, ia akan memberikan batasan
kepada-Nya. Tuhan para pemikir adalah Tuhan yang didefinisikan, bukan Tuhan
yang sesungguhnya.[23]
v Syirik Merusak Keseimbangan Seluruh Alam
Syirik
atau mempersekutukan Tuhan merupakan salah satu perbuatan yang menjadi penyebab
rusaknya dunia dan pranatanya, karena segala bentuk praktek penyembahan selain
kepada Allah merupakan hal yang melawan konsep keseimbangan seluruh alam
semesta.Demikian juga sebaliknya, setiap yang melawan prinsip keseimbangan seluruh alam semesta merupakan perbuatan syirik
yang nyata.
Manusia
diciptakan Tuhan terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Dalam
pelaksanannya agar tidak mengalami kegoncangan baik fisik maupun mentalnya maka
manusia harus mampu menyeimbangkan antara keduanya. Dalam menjalankan kehidupan
ini, antara jasmani dan rohani haruslah sama-sama diperhatikan pemeliharaannya
karena keduanya merupakan anugerah yang diberikan Tuhan
kepada manusia. Atas dasar itu maka dapatlah dikatakan bahwa jasmani dan rohani
merupakan fitrah terbesar yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia, dan untuk
mempertahankan keutuhan dan keharmonisan jasmani dan rohahinya setiap manusia
harus menjaga fitrahnya itu.
Menyeimbangkan
jasmani dan rohani merupakan pemeliharaan manusia terhadap fitrahnya sendiri,
yang berarti manusia itu telah turut memberikan kontribusi terhadap aturan yang
mengatur sistem keseimbangan jagad raya. Pemeliharaan terhadap fitrah
itu,mengandung makna bahwa manusia telah menjaga hubungan batin atau rohaninya
kepada Tuhan yang berarti manusia telah menyingkirkan salah satu bentuk
kemusyrikan yang melekat pada kediriannya. Perhatikan bunyi Firman-Nya :
“Hampir
saja langit terpecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena
ucapan itu).{90}Karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pemurah mempunyai
anak.{91}.”
(QS. Maryam [19]: 90–91).
“Seandainya
pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya
itu telah binasa (hancur). Maka Maha Suci Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa
yang mereka sifatkan.”
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 22).
Jika demikian adanya, maka tauhid
merupakan faktor terpeliharanya dunia, dan yang menjadi lawannya adalah syirik
atau menyekutukan Tuhan.[24]
Karena itu Allah melalui Nabi-Nya selalu memperingatkan agar manusia selalu
menegakkan tauhid secara benar (sikap patuh dan tunduk hanya kepada Allah
semata).Penegakan tauhid merupakan agenda utama setiap para Nabi dan
Rasul.Kebenaran tauhidlah yang memerdekakan manusia dari segala bentuk
kemusyrikan dan diskriminasi rasialisme.Melalui kebenaran tauhid yang hakiki
itu, mengantarkan manusia untuk terlepas dari segala macam cengkraman kekuatan
jahat yang mengancam jiwanya maupun merepotkan fisiknya.
KehadiranNabi dan Rasul adalah untuk
meyerukan setiap kaumnya untuk beribadah hanya kepada Tuhanyaitu menyeimbangkan
pemenuhan kebutuhan antara jasmani maupun rohani, kemudianjuga yang seiring
dengan ibadah adalah untuk melawan tirani (thaghut).
Dengan singkat dan padat pesan kerasulan itu serta
bagaimana manusia menyikapinya digambarkan dalam Firman-Nya sebagai
berikut :
“Dan
sungguh Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Hendaklah kalian semua hanya menyembah Allah (saja), dan
jauhilah tirani (thaghut) itu", maka di antara mereka ada yang diberi
petunjuk (hidayah) oleh Allah, dan di antara mereka ada yang sudah pasti
mengalami kesesatan. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan kebenaran (Rasul-Rasul) dahulu
itu”.(QS.
Al-Nahl [16]: 36)
Menyingkirkan tirani thaghut yang
membelokkan kita dari memelihara kefitrahan jasmani dan rohani merupakan tugas
utama manusia di dunia ini. Apabila
antara jasmani dan rohani
berjalan sendiri-sendiri, ini
tidak sesuai sunnatullah yang dapat menyeret manusia ke dalam bentuk
banyak kesalahan yang jika dikaitkan dengan konsep hukum keseimbangan alam raya
merupakan kejahatan kosmis, yang berarti manusia telah terjatuh ke dalam
kemusyrikan.
Apabila
tauhid atau pengesaan kepada Tuhan benar-benar telah tegak dan kokoh
tertancap di bumi ini, maka akan mendatangkan rahmat dan karunia kepada
penghuninya karena musibah terbesar yang menyerang manusia adalah melupakan
asal usul dirinya dan lupa kepada Tuhan yang menciptakannya. Agar manusia tidak
mengalami kepincangan dalam menjalankan kehidupan ini. Islam telah memberikan
pandangan melalui ajarannya tentang konsep keseimbangan. Mari kita simak Firman-Nya
yang berbunyi :
“Dan
langit telah ditinggikan oleh-Nya, dan Dia (Allah) ciptakan keseimbangan.{7}
Agar janganlah kamu merusak keseimbangan itu.{8} Dan tegakkanlah keseimbangan
itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.{9}.”(QS. Ar-Rahman
[55]: 7–9)
Jika dipahami dari FirmanAllah yang
mengaitkan prinsip keseimbangan itu dengan penciptaan langit, maka manusia pun
tahu bahwa prinsip keseimbangan adalah hukum Allah untuk seluruh jagad raya,
sehingga melanggar prinsip keseimbangan itu merupakan dosa kosmis, karena
melanggar hukum yang menguasai jagad raya. Dan kalau manusia itu disebut “jagad
kecil–mikrokosmos”, maka ia harus memelihara prinsip keseimbangan dalam dirinya
sendiri, termasuk dalam urusan kehidupan spiritualnya demi terpeliharanya alam
semesta beserta seluruh isinya.
Apabila sistem keseimbangan alam itu
sudah mengalami kegoncangan berarti manusia telah melanggar “sunnatullah” yang sebenarnya akan
berakibat pada kediriannya sendiri, yaitu berupa hijab atau hilangnya kepekaan hatinya kepada alam semesta dan juga
termasuk kepada Penciptanya yakni Allah Sang Pengatur jagad raya. Hal itu
berarti secara sadar atau tidak, perbuatannya itu telah menyeretnya ke dalam
kemusyrikan yang nyata. Sebab ulah tangannyalah segala makhluk yang hidup
di jagad ini mengalami kegoncangan fisik dan jiwa untuk selalu bermesraan
dengan Tuhannya. Karena hakikat jiwa alam adalah kerinduan yang amat mendalam
untuk berkumpul kepada asalnya Yang Maha Kasih yaitu Sang Maha Pencipta. Dan
semua makhluk hidup yang berada dipelukan bumi ini, tanpa terkecuali semuanya
mempertahankan eksistensi keseimbangan yang merupakan baktinya kepada Tuhan.
Dengan demikian jelaslah bahwa
merusak sistem keseimbangan seluruh alam semesta merupakan dosa kosmis yang
merupakan perbuatan syirik, dan syirik atau mempersekutukan Tuhan berarti
merupakan penyebab rusaknya jagad raya.
Mengapa syirik dapat dikatakan
sebagai penyebab rusaknya dunia? Karena syirik juga merupakan perbuatan yang
melawan sistem keseimbangan kehidupan pelakunya, yang menyimpang dari
tujuan sebenarnya yaitu menyembah
satu-satunya Tuhan yang patut disembah, yakni Tuhan Yang Maha Esa, yang di
antara bentuk penyembahannya dengan cara melakukan kebajikan kepada seluruh
alam (ethical monotheisme).
Kedudukan manusia di dunia ini adalah sama, dan yang
membedakan disisi Tuhan hanyalah takwanya yaitu sikap patuh dan tunduk kepada
seluruh aturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya,
manusia dengan lingkungan dan alam sekitarnya, terlebih lagi hukum yang
mengatur hubungan manusia dengan Sang Penciptanya.
Apabila manusia dipandang sama di hadapan Tuhan maka
implikasinya manusia harus memperlakukan dan diperlakukan secara adil. Pesan
keadilan ini menduduki posisi yang penting di dalam Islam (ummahat al-Akhlaq).[25]
Karena hakikat keadilan adalah objektif dan tidak berubah, sehingga ia
merupakan sunnatullah, maka penegakan keadilan dipastikan akan mendatangkan
kebaikan, bagi siapa pun yang melaksanakannya. Sebaliknya pelanggaran keadilan
dan terjadinya kezaliman dalam masyarakat atau Negara akan mengakibatkan
malapetaka dan kehancuran siapa pun yang melakukannya.[26]Keadilan
dalam Al-Qur’an disebut sebagai bagian dari hukum kosmos yaitu hukum
keseimbangan (al-mizan)[27]
yang menjadi hukum kesemestaan alam raya.
Pada sebuah tananan sosial dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, korupsi, kolusi untuk bermanipulasi
merupakan tindakan ketidakadilan yang merugikan banyak orang. Perbuatan itu
mengakibatkan terhambatnya pemerataan dalam kesejahteraan rakyat banyak, yang
akhirnya membawa dampak kesengsaraan pada mereka. Sebuah tindakan yang
menyebabkan kepincangan dalam sebuah tatanan kemasyarakatan juga merupakan
pelanggaran terhadap hukum kosmis yaitu hukum ketetapan Tuhan tentang
keseimbangan jagat raya ini.
Korupsi, dan segala bentuk kecurangan
yang terjadi dalam sebuah sistem sosial itu, jika dipandang dari sudut tauhid
tentu merupakan perbuatan syirik (mempersekutukan Tuhan), karena merupakan dosa
kosmis terbesar, sebab perbuatan tersebut telah melanggar hukum keseimbangan yang
telah ditetapkan Tuhan sebagai hukum kesemestaan alam.
Adapun dampak negatif dari kepincangan
alam ini akan membawa malapetaka bagi siapa saja yang ada di dalamnya termasuk
manusia. Perhatikan Firman-Nya:“Sesungguhnya
mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Lukman [31]: 13)
Jika tirani (thaghut) yang kita defenisikan pada awal pembahasan di atas adalah
segala macam kekuatan jahat yang bercirikan membelenggu, merampas kemerdekaan
manusia maka bentuk kejahatan yang merusak tatanan komunitas kehidupan bersama
banyak orang adalah tirani yang harus disingkirkan. Karena keberadaan pelakunya
baik secara langsung ataupun tidak, telah mengganggu dan mengusik kejiwaan
spiritual setiap manusia yang berada dalam wadah bersama itu, untuk senantiasa
berkasih-sayang antar sesamanya dan melakukan keintiman kepada Tuhannya.
Melihat realitas yang terjadi di negeri
kita belakangan ini, serta merenungi betapa besarnya bahaya latin yang
ditimbulkan akibat penyalahgunaan konsep keseimbangan (keadilan, mizan) maka setiap Muslim kapan pun dan
di mana pun wajib untuk menegakkan hukum keseimbangan kesemestaan alam itu.
Kemudian memerangi bagi siapa saja yang melanggarnya, sebab, menegakkan hukum
keseimbangan alam dan memerangi siapa yang melanggarnya juga merupakan bagian
dari penegakan terhadap “amar ma’ruf nahi
munkar”.
Dengan bertauhid yang benar manusia
telah menjaga keseimbangan sistem hukum jagad raya ini, yang berarti
menyelamatkan kehidupan dari banyak individu-individu termasuk manusia itu sendiri.
Kemudian memberantas korupsi dan sekutunya sama halnya dengan mengusir segala
bentuk kemusyrikan dan memerangi tirani (thaghut)
di bumi yang kita cintai ini.
Jika kondisi alam semesta ini tidak
pincang dan ekosistem dalam sebuah wadah kehidupan bersama tidak rusak dan
berjalan sesuai sunnatullah maka segala kemudahan akan didapatkan dan rezeki
pun akan turun melimpah ruah secara alamiah atas rahmat Sang Pencipta, yang
senantiasa menurunkan kasih-sayang kepada setiap makhluk-Nya. Perhatikan Firman-Nya
berbunyi :
“Dan
sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami (Allah) akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf
[7]: 96)
“Dan
tidak satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS.
Hud [11]: 6)
Apabila setiap komunitas masyarakat
meluruskan keyakinannya kepada Tuhan, membentuk akidahnya secara mapan hanya
kepada Allah, kemudian pengakuan kebertuhanan itu dibuktikan dengan ibadah atau
pengabdian dalam bentuk tindakan yang nyata secara sosial, itulah yang dimaksud
dengan iman dan takwa yang ditandai dengan sikap patuh dan tunduk serta
mengakui hanya Allah satu-satunya Tuhan yang patut diyakini dan disembah.
Ketika keyakinan kebertuhanan dan
diiringi dengan bentuk perbuatan sosial maka kita akan mendapatkan curahan
rahmat-Nya yang tiada terkira, bukan hanya kepada pribadi individu tetapi juga
terhadap komunitas kelompok masyarakat semuanya, karena tiada satu makhluk pun
yang tidak dijamin oleh Allah hak hidupnya termasuk dalam urusan rezekinya. Rahmat
Allah itu datang bisa saja dalam bentuk-bentuk, kemudahan dalam kesulitan,
pemerataan dalam kesejahteraan, kemakmuran dalam berkeadilan, dan rasa aman sat
berada di dalam komunitasnya.
Allah akan mencurahkan segala rahmat
dan karunia-Nya yang tiada terhingga dan terus berkesinambungan apabila
hamba-Nya terbebas dari kemusyrikan dan tidak ada penindasan manusia atas
manusia lainnya. Jadi kita memiliki barometer untuk dapat mengetahui seberapa
besar kelebihan dan seberapa besar pula kekurangan di antara kita, dan atas
dasar itu kita semua hendaknya merenungi serta menginsafi seluruh apa yang
sudah pernah kita perbuat.
Kita semua tanpa terkecuali memiliki
nurani yang sama yaitu sama-sama bertuhan, dan memiliki tujuan hidup yang sama
guna mencapai kebahagiaan hakiki yaitu “dari Allah kita berasal dan kepada-Nya
kita akan kembali” yang selanjutnya kita semua harus menginsafi bahwa seluruh
perbuatan kita selaku manusia pasti akan dimintai pertanggungajawaban dari apa
yang sudah kita lakukan.
2. Hakikat Tujuan Penciptaan Manusia
Allah tidaklah menciptakan sesuatu
kecuali memiliki maksud dan tujuan khusus, begitupula dengan penciptaan manusia
yang tidak diciptakan sia-sia, yang kelak semuanya akan dipertanggungjawabkan
di hadapan-Nya.Firman Allah Swt. berbunyi : “Maka
Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”(QS. Al-Mu’minun [23] : 115)
Mengetahui
dan memahami dengan benar tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah
sebagai salah satu upaya dalam membangun keterhubungan dengan Allah. Berdasarkan
beberapa surah di dalam Al-Qur’an ,
hakikat tujuan penciptaan manusia itu adalah sebagai berikut :
v Manusia Sebagai Hamba Allah
Sebagai hamba Allah, manusia
diwajibkan beribadah kepada Allah, dalam arti selalu tunduk dan taat atas
perintah-Nya guna mengesakan dan mengenal-Nya sesuai dengan petunjuk syariat
yang telah diberikan-Nya.Firman Allah Swt. dalam surah Adz-Dzariyatayat 56 :“Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.
[51] : 56)
Ibadah mengandung
dua pengertian, pertama, ibadah dalam
pengertian khusus, yaitu melaksanakan
peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara hamba dan Tuhannya yang tata
caranya telah diatur secara terperinci di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kedua, ibadah dalam pengertian luas,
yaitu aktivitas yang titik tolaknya ikhlas dan ditujukan untuk mencapai ridha
Allah berupa amal sholeh. Dari segi sasarannya, ibadah dapat diklasifikasikan
atas tiga macam, yaitu ibadah personal, ibadah antar personal dan ibadah
sosial.
v Manusia
Sebagai Khalifatullah
Manusia adalah
wakil Allah di muka bumi, yang menjadikan manusia berkuasa di bumi, yang
bertanggungjawab atas kenyataan dan kehidupan di dunia sebagai pengemban amanah
Allah. Perhatikan Firman Allah Swt. berikut :
·
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”Mereka
berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"Tuhan berfirman: “Sesungguhnya
aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(QS.
Al-Baqarah [2] : 30)
·
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa)
di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari
jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat
azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”(QS.
Shaad [38] : 26)
·
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[28] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu Amat zalim dan Amat bodoh.”(QS.
Al-Ahzab [33] : 72)
v Manusia Sebagai
Warosatul Anbiya’
Dalam melakukan
misi sebagai warosatul anbiya’, perlu
bertolak pada prinsip-prinsip kerasulan, yakni amar ma’ruf – nahi mungkar dan menyebarkan
misi Iman, Islam dan Ihsan dengan menjadikan prinsip tauhid sebagai inti
pendakwahan. Setiap pribadi adalah pendakwah
bagi dirinya sendiri serta bagi orang lain.
Nabi Muhammad Saw.
diutus ke bumi adalah mengemban misi “rahmatan lil alamin”, yakni misi yang mengajak
dan membawa manusia untuk tunduk dan taat pada syariat-syariat dan hukum Allah Swt.agar
tercapai kesejahteraan, kedamaian, dan keselamatan dunia akhirat. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan
untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’[21] : 107)
Misi itu disempurnakan dengan
pembentukan pribadi yang Islami, yaitu kepribadian yang berjiwa tauhid,
kreatif, beramal sholeh, serta bermoral tinggi dengan berpijak pada trilogi
hubungan manusia, yaitu :
1.
Hubungan dengan Tuhan, karena
manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
2.
Hubungan dengan masyarakat,
karena manusia sebagai anggota masyarakat.
3.
Hubungan dengan alam, karena
manusia sebagai pengelola, pengatur, serta pemanfaatan kegunaan alam.
v Tujuan Penciptaan Manusia di Dunia Adalah
Sebagai “Ujian”
Allah Swt. berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari setetes mani yang bercampur[29]
yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami
jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan
yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insaan
[76] : 2-3)
Allah telah menciptakan manusia dari
setetes mani dan menghimpunnya menjadi sesosok manusia dan menganugerahinya
kelebihan berupa akal (fikiran) dan nafsu untuk memberi mereka ujian yang
sesungguhnya di dunia ini. Adapun kedudukan manusia setelah menempuh ujian ini ada
dua macam, dia dapat menjadi pribadi yang selalu bersyukur atau justru menjadi
seorang yang kufur, dan masing-masing diantara keduanya akan mendapat balasan
atas pilihan mereka.
3. Mengenal dan Memahami Potensi DimensiRuhaniah Manusia
Allah itu wujudnya
tidak kasat mata, namun keberadaan dan kehadiran-Nya bisa dirasakan,
nilai-nilai Keagungan dan Kekuasaan-Nya bisa diketahui dengan jelas. Oleh
karena Dia bersifat “ruhani”, maka
yang dapat mendekatkan diri dengan-Nya adalah “ruh”(nafs/jiwa ruhani) manusia bukan jasadnya. Allah itu Maha Suci, maka yang dapat mendekat
dan diterima Allah adalah orang-orang yang ruh
(nafs/jiwa ruhani)nya suci pula.Siapa yang tidak ingin dekat, mesra dan
mendapatkan perhatian kasih sayang Sang Maha Agung, Yang Menguasai dan Yang
Mengatur “ritme nafas kehidupan”
seluruh alam beserta isinya? Semua yang ada di langit dan di bumi dalam
genggaman-Nya.
Manusia merupakan makhluk Allah yang paling baik atau
paling sempurna penciptaannya.Manusia memiliki dimensi basyariah (jasad, hayat atau nyawa, syahwat, hawa) dan dimensi ruhaniah (ruh, nafs, qalb, ‘aql,
lubb, bashirah, fu’ad, fithrah).
Berkenaan dengan
media untuk mengenal Allah sebagaimana yang dipahami para Sufi, menarik
mencermati pernyataan Abdul Karim Al-Qusyairi,
yang menyebutkan, ada tiga media dalam diri manusia yang dapat digunakan untuk
mengenal dan dekat dengan Allah, yakni qalb
(kalbu/hati nurani), ruh (roh)
dan sirr (rahasia, yakni bagian
paling dalam dari qalb). Qalb
berfungsi untuk mengetahui sifat-sifat Allah, ruh untuk mencintai Allah, dan sirr
untuk mengenal Allah. Sirr inilah
yang dapat menerima illuminasi (pancaran
cahaya) Ilahi, ketika ia telah disucikan dari berbagai kotoran. Dari ketiga
media tersebut, menurut al-Ghazali, sirr adalah
daya yang paling peka dalam qalbu manusia. Daya ini akan terlihat semakin nyata
setelah seseorang mensucikan qalbunya sesuci-sucinya.
Lebih jelas di
dalam Ihya ‘Ulumu al-Din, al-Ghazali
mengatakan : Adapun alat untuk mencapai penghayatan ma’rifat (merasakan kedekatan dengan Allah/mengenal Allah) adalah Qalb (hati) bukannya anggota badan yang
lain. Hati itu lah yang mengetahui tentang Allah dan dia pula yang akan
mendekat, berusaha dan berjuang untuk membuka tabir dalam rangka meghayati alam
ghaib. Sedangkan anggota badan adalah khadamnya atau alat yang digunakan oleh
hati, ibarat sang raja memerintah pada hamba atau khadamnya atau ibarat gembala
menghalau yang digembalakannya...maka hati akan diterima oleh Allah apabila
bersih dari segala sesuatu selain Allah. Hatilah yang disuruh mencari Tuhan dan
hati pula yang akan diperintah beribadah kepada Tuhan. Hati yang akan berjuang
mendekat kepada Allah, maka berbahagialah bila hatinya bersih, dan kebalikannya
tidak akan sampai hati kepada Allah jika hatinya kotor dan sesat. Sesungguhnya
hatilah yang akan taat kepada Allah, sedangkan anggota badan yang melakukan
gerakan ibadah hanyalah pancaran hati...dia itu adalah qalbu, bila manusia
mengenalnya, pasti kenal akan dirinya sendiri, dan bila kenal akan dirinya
pasti kenal akan Tuhannya. Sebaliknya, jika manusia tidak mengenal qalbunya,
maka ia tidak akan mengenal dirinya, dan jika tidak mengenal dirinya, maka ia
tidak akan mengenal Tuhannya.
Unsur-unsur dalam
dimensi ruhaniah manusia memiliki fungsi-fungsinya tersendiri, potensi
kecenderungan yang bersifat positif maupun negatif, dan saling berinteraksi
satu dengan lainnya yang akan membentuk jiwa kepribadian dan tingkah laku
manusia seutuhnya. Baik buruknya ketaqwaan maupun akhlak seorang manusia
sebenarnya adalah akibat dari dinamika kehidupan sistem dimensi ruhaniahnya,
oleh karena itu perlu adanya pengetahuan dan pemahaman tentang unsur-unsur
dimensi ruhani manusia tersebut agar kita dapat menetralisir potensi negatif
dari setiap unsur yang dapat menghalangi jalinan keterhubungan dengan Allah,
serta menumbuhkembangkan potensi positifnya agar Nur Ilahi terhias dalam diri
dan sikap kita.
3.1.
Pengertian dan Hakikat Nafs
Di dalam
Al-Qur’an, kata al-nafs disebut Allah
dalam berbagai bentuk kata jadian seperti nafs,
anfus, tanaffasa, yatanaffasu dan mutanaffisun.
Melalui tafsir mawdhu’i yang
dilakukan para peneliti, setidaknya kata nafs
dalam Al-Qur’an bermakna : Pertama, al-
nafs sebagai totalitas manusia
(jasmani dan rohani, sisi luar dan sisi dalam); Kedua, al-nafs sebagai sisi
dalam manusia. Al-nafs sebagai
sisi luar maksudnya adalah sisi kemanusiaan yang tampak dengan jelas. Sedangkan
al-nafs sebagai sisi dalamnya adalah
sisi yang tidak tampak oleh kacamata biasa manusia, namun dapat berfungsi
sebagai penggerak tingkah laku manusia yang membuatnya mampu melakukan
perubahan-perubahan dalam kehidupan. Dengan kata lain al-nafs sebenarnya adalah unsur-unsur yang menggerakkan tingkah
laku manusia.
Nafs atau jiwa
atau soul, adalah sebuah entitas lain
dari diri manusia sebagai jasad, dimana ia berasal dari alam malakut yang
terbuat dari elemen cahaya, sangat khas dan tak terinderai oleh mata lahiriyah
kita, sebagaimana Allah telah menciptakan malaikat dari elemen yang sama.Nafs (jiwa) merupakan suatu barzakh(intermediary) antara jasad dan ruh. Jiwa tersusun dari unsur cahaya Ilahiyah; ia memiliki sistem kehidupan
tersendiri yang terpisah dari jasad. Jiwa memperoleh energinya dari ruh.
Jiwa merupakan hakikat kemanusiaan seseorang, jiwa lah
yang membuatmanusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Jiwa lah yang
menjadi sasaran pendidikan Ilahi. Didalam jiwa ditempatkan ruh; keduanya ditempatkan dalam jasad. Alam jiwa disebut juga alam mitsal. Jadi, selama perjalanannya
di bumi, jiwa (nafs) menggunakan kendaraan jasad. Diberikannya perangkat jasad
kepada jiwa dimaksudkan agar jiwa dapat mengambil bagian dalam pendidikan
Ilahiyah yang ditebarkan di bumi. Di bumi ini pula ia diseru untuk melaksanakan
maksud dari penciptaannya.
v
Tabiat, Sifat
dan Karakter Nafs (Jiwa)
Kalangan Sufi
menaruh perhatian penting pada persoalan jiwa. Mereka berbicara banyak hal
tentang jiwa. Jika filosof banyak berbicara tentang eksistensi jiwa yang
menjadi unsur dari diri manusia, maka kaum sufi lebih banyak berbicara tabiat,
karakter dan aktifitas jiwa manusia yang lebih bersifat praktis.
Menurut pandangan
Sufi, bekal utama yang harus diketahui oleh setiap orang yang ingin menuju
Tuhannya yaitu ia harus memiliki pengetahuan tentang bahaya nafs-nya (jiwa), mengenalnya, melatihnya
dan mendidik akhlaknya. Karena itu, perhatian sufi terhadap jiwa tersebut (ma’rifatun nafs) adalah dengan
mengetahui tabiat, karakter, jenis jiwa dan aktifitasnya, merupakan salah satu
tangga mengenal Allah.
Bagi kaum Sufi,
jiwa adalah musuh yang paling berbahaya bagi manusia yang ada pada dua sisi
badan. Oleh karena itu, semestinyalah musuh tersebut diatasi dengan cara diikat
dengan “rantai-rantai yang tangguh” supaya tidak liar dan tidak banyak
melakukan kekeliruan atau kesalahan. Al-Hakim
at-Tirmidzi menggambarkan bahwa jiwa merupakan tunggangan para syaitandalam
menggoda manusia. Unsur esensial yang ada pada jiwa adalah udara panas semacam
asap berwarna hitam yang buruk karakternya. Pada dasarnya jiwa memiliki sifat
cahaya. Jiwa bertambah baik dengan Taufiq Allah, interaksi yang baik, dan
rendah hati. Jiwa bisa bertambah baik dengan cara seseorang menentang hawa
nafsunya (al-hawa) dan syahwatnya, tidak menghiraukan
ajakannya, serta melatihnya dengan lapar dan amalan-amalan berat.
Jiwa sering
melakukan tipuan terhadap manusia. Hakim
At-Tirmidzi menjelaskan bahwa tabiat jiwa kepada pemiliknyasuka memoles
kebatilan seolah-olah kebenaran, dan menjadikan buta dari kebenaran. Diantara
contoh tipuan jiwa misalkan dalam shalat. Jiwa menipu seseorang dengan
menyuruhnya untuk menaruh perhatian pada shalat sunnat, tapi diri mereka lalai
dalam melakukan shalat fardhu. Al-Hakim At-Tirmidzi berkata : “Orang tertipu (oleh jiwa) jika berdiri
untuk shalat, dirinya lupa menjaga hatinya bersama Allah, lupa terhadap apa
yang ada di hadapannya, dan lupa menjaga anggota badannya. Dengan demikian, dia
tidak termasuk orang yang menghadap untuk shalat. Gangguan-gangguan yang
dibisikkan jiwa menjadikan dirinya lalai memelihara hati, lalai memelihara
ayat-ayat yang dibacanya dan lalai memahami apa yang sedang dibacanya. Sebab,
secara total ia melupakan semuanya. Setelah selesai melakukan shalat, dia pergi
dalam keadaan tenang hati karena sudah melakukan shalat malam, shalat dhuha,
dan shalat-shalat lainnya. Orang-orang ini benar-benar tertipu, sebab dia telah
menyia-nyiakan yang fardhu dan mengunggulkan yang sunnat. Kemudian seraya ia
memuji-muji jiwanya karena telah melakukan amalan sunnat tersebut.”
Selanjutnya, al-Muhasibi juga menjelaskan bagaimana
jiwa itu melakukan tipuannya. Beliau berkata : “Terkadang suatu saat seorang manusia sedang melakukan suatu amal atau
sudah berniat melakukannya. Tapi, jiwa kemudian memprovokasi untuk memutuskan
atau membatalkannya, karena ada syahwat maksiat yang ditawarkannya.”Sebagai
contoh, ada seseorang yang sedang melakukan zikir lisan, atau dia telah niat
untuk tidak banyak bicara demi mencari selamat. Tapi, tiba-tiba muncul tawaran
untuk menggunjing orang yang sangat dibenci, atau menggunjing perkara yang
menakjubkan darinya atau menakjubkan orang lain, maka orang tersebut keluar
dari taat menuju maksiat.
Secara umum,
Al-Qur’an menyebut secara langsung tiga bentuk sifat (karakter) dari nafs
(jiwa), yaitu :
1. Nafs
al-ammarah bis-su’ (jiwa yang
selalu menyuruh pada kejahatan).
Bentuk
jiwa ini digambarkan Allah dalam Firman-Nya : “...Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS.
Yusuf [12] : 53)
Jiwa golongan ini adalah bentuk jiwa
terendah, jiwa yang telah dikuasai hawa nafsu dan syaitan dan bahkan orang yang
memiliki kondisi jiwa seperti ini hampir sama kondisinya seperti syaitan yang
juga selalu mengajak manusia kepada kesesatan.
Orang
yang jiwanya dalam kondisi ini juga seharusnya menyadari dirinya dan bertaubat
pada Allah serta membersihkan hatinya dari segala kotoran dengan memaksanya
berbuat baik dan meninggalkan segala macam bentuk kejahatan, sebab jika tidak
jiwa ini juga akan selalu menjadi perusak karena sifatnya yang selalu condong
pada kejahatan.
2. Nafs
al-lawwamah (jiwa yang
selalu mencela dirinya).
Jiwa bentuk ini adalah karakteristik
jiwa yang selalu mencela dirinya apabila ia berbuat kesalahan. Jiwa ini selalu
menyesali keadaan dirinya yang sulit terlepas dari dosa dan kesalahan. Ia
selalu mengakui kebesaran Allah, menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan
dan ia mencela dirinya karena selalu mengikuti kata-kata syaitan dan hawa
nafsunya.
Kondisi jiwa seperti ini adalah
kondisi perang intern dalam jiwa antara kebaikan dan kejahatan, antara syaitan
dan hawa melawan Ruh dan Qalb, antara kebenaran dan kebatilan,
antara apa yang diinginkan (disukai) Tuhan dan yang dibenci-Nya. Jiwa seperti
ini juga belum stabil, masih selalu mengalami kegoncangan dan kegelisahan,
kesedihan dan penyesalan serta pengakuan.Tentang jiwa ini Allah berfirman : “Aku (Allah) bersumpah dengan jiwa lawwamah
(jiwa yang selalu mencela dirinya sendiri).”
(QS. Al-Qiyamah [75] : 2)
Dengan
demikian, dalam jiwa ini terdapat kebaikan, yaitu pengakuan akan kelemahan
diri, kekuasaan Allah, penyesalan, dan kesadaran bahwa dia bersalah; dan juga
terdapat jenis keburukan, yaitu kejahatan yang dilakukannya dengan sadar dan
sengaja karena mengikuti kehendak hawa nafsu dan syaitan.
Jiwa inilah yang berada
pada bentuk pertengahan. Jika kekuatan ruhaninya lebih besar dari hawa nafsunya
maka ia mampu terlepas dari kejahatan, dan jika suatu saat kekuatan ruhaninya
lebih lemah dari dorongan hawa nafsunya maka jatuhlah ia ke dalam lembah dosa
dan kehinaan.
3. Nafs
al-muthmainnah (jiwa yang
tenang atau stabil)
Jiwa bentuk ketiga ini adalah jiwa
yang telah mampu menundukkan kekuatan hawa nafsunya, mampu menetralkannya
ketika dorongan hawa nafsunya menggejolak, mampu mengalahkan kekuatan syaitan,
stabil dan selalu menetapi kebaikan dan tidak mudah goncang dalam kondisi
apapun dan dimanapun.
Jiwa ini juga selalu bersabar dalam
melakukan kebaikan, menghadapi cobaan dan senantiasa bersyukur dari kebaikan
dan nikmat yang diberikan Allah Swt.Kondisi jiwa ini juga dapat digambarkan
seperti kondisi jiwa yang menjadikan Ruh dan
Qalb nya sebagai raja yang selalu
dapat menundukkan hawa nafsunya dan senantiasa merasa bersama Allah Swt.
Kondisi jiwa ini juga terkadang
sampai pada maqam tertingginya, yaitu
ketika keinginannya bersatu atau senada dengan keinginan Allah, segala doanya
langsung diterima dan diwujudkan Allah segera, kata-katanya selalu benar
bagaikan firman Allah. Sulit untuk digambarkan bagaimana rasa dan keadaannya,
kondisi ini hanya dapat dan harus dirasakan saja, dan lisan selalu kalah dalam
menjelaskannya. Inilah yang dikatakan para Sufi sebagai jiwa yang telah
mencapai tingkat “Ma’rifah”
(pengenalan yang sempurna terhadap Allah) menurut al-Ghazali, atau tingkat “Mahabbah”
(rasa cinta yang dalam pada Allah Swt.) menurut Rabi’ah Adawiyah.
Inilah bentuk jiwa yang akan
dipanggil-Nya dengan penuh kemesraan nantinya, inilah kondisi jiwa yang kita
inginkan pada saat kita kembali ke hadirat-Nya : “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke
dalam syurga-Ku.”(QS. Al-Fajr [89]: 27 – 30)
Karakter
ketiga jiwa tersebut, menurut Ibnu Qayyim
al-Jauziyah, berada dalam satu jiwa dan menyebar dalam sifat jiwa manusia.
Namun sebagian menganggap bahwa kecenderungan kepada keburukan itu adalah
tabiatnya jiwa, sedangkan kecenderungan kepada kebaikan itu adalah tabiatnya ruh. Terkadang dalam hal ini terjadi benturan
antar kecenderungan. Jika kecenderungan kepada kebaikan menang, maka ruh berada
dalam kemenangan, serta Taufiq dan dukungan Allah teraih oleh manusia,
sebaliknya jika kecenderungan keburukan menang, maka jiwa dalam kemenangan,
serta syaitan dan penghinaan Allah mengena pada orang yang dikehendaki oleh-Nya
untuk hina. Disini terlihat perbedaan antara ruh dan jiwa. Ruh adalah ladang
kebaikan, sebab ia sumber rahmat. Sedangkan jiwa dan jasad adalah ladang
keburukan, sebab ia sumber syahwat. Watak ruh adalah berkehendak pada kebaikan,
sedangkan watak jiwa berkehendak kepada keburukan dan hawa. Kebiasaan ruh
adalah ketaatan, sedangkan kebiasaan jiwa adalah syahwat dan kesenangan
duniawi.
Pada
mulanya jiwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah dan suci, bebas dari
segala kekotoran dan kejahatan, tetapi setelah ruh bersemayam di dalam jasad maka ia memiliki energi, ia berinteraksi dengan sub sistem lainnya dalam dimensi
ruhani manusia, ia dihadapkan dengan hawa nafsu beserta tentaranya syaitan yang
selalu mengajak pada kejahatan. Sayangnya ruh sebagai energi bagi jiwa ternyata
juga makhluk yang lemah, yang tidak punya banyak nyali untuk tetap bertahan
dengan ketaatan pada-Nya sehingga ia harus tenggelam dalam lautan noda dan
dosa, kecuali ruhnya orang-orang yang benar sholeh dan selalu membersihkan
jiwanya.
Kecenderungan jiwa yang destruktif
menyebabkan syaitan berusaha mempengaruhinya dengan memanfaatkan syahwat dan
hawa nafsu yang juga diciptakan Allah dalam dimensi ruhani manusia. Jika jiwa
kalah terhadap serangan ini maka karakter negatifnyalah yang dominan
menguasainya, dan karakter inilah yang akan mengisi wadah Qalb (hati) manusia.
Akibatnya Qalb ditutupi oleh
noda-noda hitam, sifat-sifat yang buruk,
menjadi “berpenyakit”,
sehingga terhijab oleh Allah.
Sebaliknya, jika jiwa tangguh berperang mengalahkan
syaitan, mengendalikan syahwat dan hawa nafsu maka karakter positif dari jiwa
lah yang lebih dominan berkuasa dan mengisi wadah Qalb, sehingga jadilah
manusia itu sebagai pribadi-pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Qalb-nya
yang bersih dari noda-noda hitam akan memperkuat jalinan ikatan keterhubungan
manusia dengan Allah, Rahmat Allah pun akan selalu menyertainya. Nafs sangat berpotensi
menguasai hati manusia
Baik
para sufi maupun filosof muslim – yang memiliki perbedaan dalam mengkaji
persoalan jiwa sebenarnya memiliki titik temu yaitu bahwa jiwa merupakan unsur
yang tidak tampak yang menggerakkan jasad manusia, ia berasal dari Allah yang
semestinya harus selalu dijaga dan dibimbing dengan cahaya kebaikan agar
senantiasa berada dalam kondisi yang bersih(fithrah).
3.2. Ruh (tunggal =
ruh, jamak = arwah)
Ruh tersusun dari unsur cahaya yang
paling murni dan paling tinggi kedudukannya dalam keseluruhan aspek manusia.
Yang dihembuskan kepada manusia setelah disiapkan segala sesuatunya. Ruh
memberikan kehidupan kepada jasad – tanpa ruh jasad segera terurai kembali
menjadi unsur-unsur bumi pembentuknya. Ruh merupakan sumber energi bagi nafs.
Apabila cahaya ruh tidak mencapai nafs maka nafs tersebut, sekalipun dia tetap
hidup, akan tetapi dia tidak memiliki energi atau lumpuh.
“Kemudian
Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah [32] : 9)
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya
dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan
bersujud kepadaNya".(QS. Shaad [38] : 72)
3.3. al-‘aql (dibedakan
dengan nalar atau akal jasad)
Ia
merupakan unsur partikular dari Qalb, merupakan perangkat untuk mendapatkan dan
memahami al-‘ilm – yakni ilmu
ketuhanan, yang didapatkan dengan hakikat penghambaan. Jadi, ilmu ini dibedakan
dengan ilmu biasa yang kita kenal sehari-hari, yaitu yang ditangkap oleh nalar
dan didapatkan dengan jalan pengkajian.
Imam
al-Ghazali berpendapat dari ayat di atas bahwa Ilmu itu bukan di otak, tapi di
dalam qalb, penglihatan itu bukan pada mata, tapi di dalam qalb(bashirah), pendengaran itu bukan pada
telinga, tapi di dalam qalb, pembicaraan itu bukan pada mulut, tapi di jantung qalb haqiqatun. Otak, mata, telinga,
mulut, kaki, itu hanyalah peralatan yang berupa raga, yang dikendalikan oleh ‘aql dan nafs yang terletak dalam
jantung qalb yang dapat hidup karena ada ruh.
3.4.
al-Qalb(Qalbu, kalbu, hati-nurani)
Imam al-Ghazali menjelaskan adanya dua
pengertian tentang Qalb. Pertama, qalb dalam
pengertian kasar, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak
di dada sebelah kiri yang di dalamnya terdapat rongga-rongga dan disebut dengan
jantung. Kedua, qalb dalam pengertian yang halus, yang bersifat ruhaniyah yaitu
hakikat manusia yang dapat menangkap pengertian, pengetahuan dan kearifan.
Qalb
adalah barzakh bagi ruh, nafs dan
jasad. Qalb dan nafs ibarat kaca dengan rasahnya. Apabila qalb kotor maka tidak berfungsilah nafs sebagai cermin. Dan dengan qalbu yang bersih maka ia dapat
memantulkan ruh (zat) dari Allah. Maka jadilah ia citra/pencerminan dari Allah.
Qalb merupakan unsur partikular dari al-nafs tempat dikendalikannya seluruh
elemen yang lain. Di dalam diri manusia, tepatnya pada perangkat qalb-nya, bertemu tiga alam yang
berbeda, jismaniyah, mitsal dan arwah (ruh), atau disebut juga tiga martabat
kauniyyah.
Adalah
menarik untuk mencermati penjelasan Al-Qur’an yang menempatkan qalbu dengan fungsinya untuk memahami
realitas dan nilai-nilai seperti yang terdapat dalam
Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 46 : “Maka Apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat
mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta,
ialah hati yang di dalam dada.”
Selanjutnya
Firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-A’raaf ayat 179 : “Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan
dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
mereka Itulah orang-orang yang lalai.”
Dua ayat di atas
cukup jelas menerangkan bahwa qalb memiliki fungsi untuk menalar dan memahami
realitas empirik dan nilai-nilai yang jika qalb tidak dapat menjalankan
fungsi-fungsi ini, maka sisi kemanusiaan seseorang itu akan hilang dan ia tak
obahnya seperti binatang. Dapat juga dikatakan, melalui ayat di atas, ternyata
qalb dapat memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu. Dari potensi inilah, maka
yang harus dipertanggungjawabkan manusia kepada Tuhannya adalah apa yang
disadari oleh qalb. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 225 :
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan
sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu
disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
Tidak kalah
menariknya, Al-Qur’an memposisikan al-qalb
menjadi wadah untuk berbagai hal kebaikan ataupun keburukan. Di dalam qalb dapat bersemai kedamaian, cinta
dan kasih sayang, keberanian, kebaikan, iman, getaran-getaran ketika
mendengarkan Al-Qur’an.[30]
Pada lain sisi, qalb juga menjadi wadah bagi sifat buruk manusia atau tempat
berdiamnya penyakit-penyakit hati seperti dengki, kufur, kesesatan, panas hati,
keraguan, kemunafikan dan kesombongan.[31]
Dengan demikian
mendidik qalbu, membersihkan dan meningkatkan kualitasnya mutlak penting.
Karena bagaimanapun juga, jika qalbunya baik maka akan melahirkan kualitas diri
yang baik pula. Di dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. menceritakan, bahwa “di dalam diri manusia ada segumpal darah
(mudghah), jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Tetapi jika buruk, maka
rusaklah jasadnya. Ketahuilah itulah yang disebut dengan Qalb.” Kendatipun
kata qalbu disini bisa dipahami
dengan makna jantung (fisik), akan tetapi yang dikehendaki oleh hadis tersebut
adalah qalbu dalam makna non-fisik
(ruhani).
Penting dicatat
bahwa qalbu ruhaniah itu bukanlah
sesuatu yang kosong ketika diberikan Allah kepada manusia, melainkan di
dalamnya ada potensi-potensi ruhaniah yang sangat dahsyat sekaligus menentukan
nilai kemanusiaan seseorang. Di dalam qalbu
ada potensi ruhaniah seperti kesadaran, perasaan, ingatan, kecerdasan, iman dan
kemauan. Setidaknya di dalam Al-Qur’an ada enam fungsi qalbu, yaitu : 1). Memikirkan sesuatu[32];
2). Memahami[33]; 3).
Mengobservasi[34]; 4).
Mengimani[35]; 5).
Merasa[36]; 6). Merenungkan/zikir[37].
Berangkat dari
fungsi tersebut dan kandungan wadah qalb,
nyatalah betapa qalbu itu memiliki potensi yang sangat strategis dalam struktur
kedirian manusia. Sebagai anugerah yang sangat besar diberikan Allah Swt., qalbu yang ada pada manusia sejatinya
harus dipelihara dengan baik. Demikian juga dengan potensi-potensi yang
dimilikinya harus diaktualkan. Hal ini penting karena qalbu tidak saja memiliki kemampuan untuk merasa, menyadari, tetapi
lebih dari itu qalbu juga berfungsi
sebagai alat penghubung untuk selalu dekat dengan Allah Swt. Qalbu adalah sarana yang paling efektif
untuk berhubungan secara langsung kepada Allah, qalbu merupakan sarana untuk taqarrub
kepada Allah. Bahkan lebih dari itu, qalbu
adalah satu-satunya media untuk mengenal Allah (ma’rifatullah).
Tentu saja untuk
dapat taqarrub kepada Allah manusia harus terlebih dahulu membersihkan
qalbunya. Qalbu yang bermasalah, seperti qalbu yang berkarat karena sifat-sifat
buruk, sampai qalbu yang sama sekali buta, tentu tidak akan berhasil
menjalankan fungsinya untuk menjadi penghubung diri dengan Allah Swt.
Qalb
yang bersih merupakan alat untuk menangkap isyarat-isyarat dan
petunjuk-petunjuk Allah. “Dan barangsiapa
yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada
qalb-nya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghaabun [64]
: 11)
Qalb
yang dibersihkan Allah dengan cahaya iman, maka terbebaslah ia dari segala
sesuatu selain Allah. Menyalalah Ruh Al
Qudus di dalamnya. Ia menjadi Baitullah
(rumah Allah). Dan ketahuilah bahwa Baitullah
adalah masjid, dimana sesulit-sulit mendirikan masjid adalah masjid di dalam
qalbu.
Qalb
dapat bersih apabila Allah memberikan Rahmat-Nya dengan mencurahkan cahaya iman
untuk membersihkannya. Dengan cahaya iman yang memancar di qalbu itulah Allah
mengeluarkan seseorang dari gelap gulita kepada terang benderang. Dari
kejahilan tentang Allah menjadi ma’rifatullah. Dari ketidaktahuan tentang
pelik-pelik dan hakikat-hakikat agama menjadi pemahaman dan keyakinan. Allah
membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki :“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan
cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[38],
yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu
seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan
minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di
sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[39],
yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.
cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya
siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS.
An-Nuur [24]:35).
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi
oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita
yang tindih-bertindih, apabila Dia mengeluarkan tangannya, Tiadalah Dia dapat
melihatnya, (dan) Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah
Tiadalah Dia mempunyai cahaya sedikitpun.”(QS. An-Nuur [24] : 40.
v QalbSebagai Singgasana Sang Raja
Qalb itu ibarat
singgasana Sang Raja. Unsur diri mana saja yang tengah berhasil menduduki qalb akan berkedudukan sebagai Raja dan
memperlakukan unsur-unsur lainnya sebagai bala tentaranya. Jika shaleh Sang
Raja tersebut, maka shaleh pula bala tentaranya, sedangkan bila Rajanya fasad (rusak) maka fasad pula bala
tentaranya.
Sesungguhnya
di dalam diri manusia itu terjadi peperangan perebutan singgasana Qalb, antara al-nafs (yakni, al-muthmainnah) dan al-hawa (hawa-nafsu) serta syahwat.
Nafs (al-muthmainnah) nya kalah, dan
dipenjara, dikepompongi oleh hawa dan syahwat. Akibatnya seluruh aktivitas
manusia yang singgasana qalb-nya
diduduki oleh hawa nafsu dan syahwat inilah kondisi yang buruk. Seluruh aspek
amalnya menjadi rusak karena hal tersebut.
Namun
apabila nafs al-muthmainnah yang
menjadi Rajanya, maka hawa nafsu dan syahwatnya akan digembalakan. Kapan
diperlukan, akan digunakan. Kapan tidak dibutuhkan, akan dijaga baik-baik.
Inilah yang akan menyebabkan baik buruknya seluruh amalnya.
Demikian
pentingnya fungsi Qalb, maka Allah
hanya menjatuhkan pandangan kepadanya, bukan kepada selainnya. Rasulullah SAW
bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak
pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada Qalb kalian”. (HR. Muslim).
4. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa): Menata Qalbu Menuju Ilahi
Banyak diantara kita yang masih saja
acuh tak acuh tentang pentingnya tazkiyatun
nafs ini, masih banyak diantara kita yang beranggapan bahwa itu adalah
paham penganut tarekat atau tasawuf saja. Padahal Allah bersumpah dengan 7
(tujuh) ciptaan-Nya yang memperlihatkan tanda-tanda Keagungan-Nya sebelum
bersumpah dengan jiwa dan imbalan yang akan diperoleh oleh mereka yang mensucikan
jiwanya.
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (١) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا (٢) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاهَا(٣) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (٤)وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا (٥)وَالأرْضِ وَمَا طَحَاهَا (٦) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا(١٠)
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila
mengiringinya.
Dan
siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya.
Dan
langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya.
Dan
jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).
Maka
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.
Dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS.
Asy-Syams [91] : 1 – 10)
Allah
bersumpah dengan : (1) Matahari; (2) Cahaya matahari; (3) Bulan; (4) Siang; (5)
Malam; (6) Langit dan proses penjagaannya; (7) Bumi dan penghamparannya;
barulah bersumpah dengan jiwa dan penyempurnaannya.
Setiap orang yang beriman pasti
berharap memiliki hati yang bersih dan berkilau, sebab hati yang bersih dapat
memantulkan cahaya ruhaniah, kemudian
menjadi penglihatan batin (bashiratul
qalbi) dalam memandang keelokan wujud Allah. Namun, cahaya ruhaniah hanya
bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah melampaui pergulatan ruhani.
Bagaimana hati dapat memantulkan cahaya, padahal gambar
selain Allah terlukis dalam cermin hati kita? Bagaimana kita dapat berangkat
menuju Allah, padahal hati kita masih terbelenggu oleh syahwat? Bagaimana kita
bisa antusias dapat masuk ke hadhirat Allah, padahal kita belum suci dari
janabah kelalaian? Bagaimana bisa kita berharap dapat memahami kedalaman
rahasia ruhani, padahal kita belum bertaubat dari semua kesalahan?
Hati seorang hamba
itu sebagai tempat Allah memantulkan cahaya-Nya, pantulan cahaya itu akan
menerangi basyariah (raga) manusia.
Jika sumber cahaya itu diibaratkan matahari, maka bumi yang menerima cahaya
dari rembulan sebagai tempat pantulan cahaya matahari. Cahaya itu akan sampai
ke bumi jika tidak ada hijab berupa
awan mendung yang menghalangi.
Hati yang selalu
diwarnai oleh berbagai persoalan dunia akan menjadi buram dan gelap. Jika
hakikat dunia disebut zhulmah
(gelap), maka wujud Allah diibaratkan sumber cahaya yang menerangi hati.
Tatkala hati tidak mampu melihat dengan bashiratul
qalbi (penglihatan hati), pasti ada yang menghalangi sumber cahaya
tersebut, sehingga hati tidak dapat memantulkan cahayanya.
Hati yang sarat
dengan lukisan dunia akan menimbulkan letupan-letupan syahwat kehidupan.
Hembusan angin gairah mengobarkan api tamak, menjilat dan membakar akal.
Puing-puing nafsu berserakan menjadi sampah ruhani. Asap cinta memenuhi hati,
menjelma rangkaian tali-tali pengikat yang membelenggu perjalanan menuju Allah.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan
kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, Anak-anak, Harta yang
banyak dari jenis Emas, Perak, Kuda pilihan, Binatang-binatang ternak dan Sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik.”[40]
Pada hakikatnya,
fasilitas hidup yang Allah sediakan di dunia adalah tali-tali syahwat yang
dapat menjerat hati. Keindahannya sebatas fatamorgana dan kenikmatannya
mengukir persoalan hidup bagi orang yang berjalan menuju Allah. Persoalan demi
persoalan datang silih berganti menghimpit hati dan melelahkan jiwa. Kendatipun
harus dimaknai setiap persoalan sebagai ujian dan cobaan, yang semestinya tidak
menghalangi perjalanan, namun tidak banyak yang mampu memahami bahwa itu
sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah pada dirinya.
Allah memberikan
jalan kepada hamba-hambaNya untuk “berniaga
ruhani”, dengan imbalan keuntungan berupa pembebasan diri (manusia) dari
belitan syahwat dan penderitaan. “Hai
orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah
dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang
lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni
dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam
jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”[41]
Pergulatan ruhani
untuk mencapai “Mahligai Ilahi”
adalah sebuah perjuangan bagi orang-orang yang merindukan perjumpaan dengan
Rabb-nya. Namun perjuangan itu tak akan ada hasilnya bila tidak disertai
persiapan yang matang. Bekal yang harus disiapkan untuk menuju kepada Allah
antara lain adalah; Taqwa sebagai bekal, Zikir sebagai senjata, Semangat
sebagai kendaraan, Mursyid sebagai pembimbing, dan yang terakhir adalah saudara
seiman sebagai teman seperjalanan.
Maka hati yang
bersih dari berbagai kotoran dunia yang membuat lalai dan menimbulkan dosa,
menjadi syarat penting menuju Allah. Membersihkan hati sama dengan “Mandi Ruhani”, mengawalinya dengan
sikap batin tidak syirik, penyucian jiwa/diri (tazkiyatun nafs), dilanjutkan
ibadah lahiriah (amalan sholeh).
Manusia terhalang
atau menghijabi dirinya sehingga
tidak dapat merasakan kedekatan ataupun “menyaksikan”
Allah dengan hatinya adalah karena dosa-dosa mereka. Setiap dosa merupakan noda
hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya
pada hati. Ketika noda hitam memenuhi hati sehingga terhijab dari menyaksikan
Allah, inilah yang dinamakan buta mata hati.
Noda-noda hitam yang mengotori ruang
qalbu inilah yang harus dibersihkan, agar pancaran Nur Ilahi tidak terhijab dan ruh cahaya-Nya dapat menghiasi jiwa,
yang akan berdampak pada damai dan indahnya jiwa ruhani dan perilaku kita.
Qalbuyang bersih itulah harta karun yang hilang. Kita harus
menggalinya agar ia kembali muncul di permukaan. Alangkah sayangnya jika kita
tidak menyadari keberadaan dan fungsi qalbu ini. Yang penemuan atasnya
merupakan prasyarat mutlak agar seseorang dapat berjalan menuju-Nya. Mustahil
seorang manusia dapat selamat kembali kepada Allah dengan qalbu yang kotor
tertutup noda-noda dosa. Karena ini adalah tempat jatuhnya pandangan Allah
kepada seorang manusia. Mustahil seorang manusia mendapat bimbingan-Nya dengan
qalbu yang kotor, karena melalui media inilah Allah memberikan bimbingan
kepadanya.
4.2. Upaya-Upaya
Yang Dilakukan dalam Proses Tazkiyatun
Nafs
Tazkiyatun nafs, pengertiannya adalah setiap manusia harus
dibersihkan sisi jasmani dan ruhaninya, inilah yang disebut jiwa(nafs) sebagai totalitas manusia.
Sebagai sisi ruhani, al-nafs memiliki
kemampuan untuk mendorong atau memotivasi diri untuk melakukan sesuatu.
Perbuatan baik atau buruk manusia adalah hasil kerja al-nafs. Karena harus disadari dalam nafs sendiri ada sistem penggerak tingkah laku manusia yang
memiliki kecederungan berbeda. Fitrah
biasanya cenderung mendorong manusia melakukan suatu kebaikan, sedangkan syahwah dan al-hawa cenderung mendorong manusia melakukan perbuatan-perbuatan
tercela. Disamping itu, di dalam al-nafs
itu sendiri ada sub sistem lainnya yang bertugas untuk mempertimbangkan sesuatu
perbuatan mana yang layak dan mana yang tidak layak dilakukan, pertimbangan
inilah yang diberikan qalb.
Pertimbangan yang diberikan qalb, disamping
akal dan bashirah, pada akhirnya sangat tergantung pada isi wadah qalb. Jika isinya adalah kebaikan,
keindahan dan cinta dan sifat-sifat mulia lainnya, maka
pertimbangan-pertimbangan yang diberikannya cenderung mengarahkan manusia untuk
melakukan kebaikan. Namun sebaliknya, apabila isi wadah qalb itu berupa keburukan dan penyakit, maka pertimbangan yang
diberikannya juga adalah pertimbangan-pertimbangan yang buruk, yang pada
akhirnya akan menghasilkan perbuatan yang buruk pula.
Jika seseorang
mampu memahami potensi-potensi positif dimensi ruhaniah dengan segala sub
sistem nya, maka ia akan mampu memaksimalkan kebaikan-kebaikan dirinya dan
mengikis keburukan-keburukan yang ada dalam dirinya. Pada akhirnya ia akan
memiliki jiwa yang bersih. Inilah yang disebut dengan nafs zakiyah sebagai jiwa yang suci. Tazkiyatun nafsditujukan
untuk mengendalikan syahwat dan hawa nafsu, mendidik satu komponen jiwa Nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang)yang
berperan sebagai penggembala yang kuat dan berilmu, sehingga ia mampu mengatur
komponen-komponen jiwa lainnya yang merupakan obyek gembalaannya. Jika yang
seharusnya berperan sebagai sang gembala tertidur atau lumpuh kekurangan
energi, maka komponen-komponen lainnya bersikap liar dan kemudian saling
berlomba menguasai qalb, yang berarti
menguasai diri seseorang sepenuhnya.Tazkiyatun nafs juga
ditujukan untuk pembersihan qalb (hati) dari
sifat-sifat tercela, pembersihan dari berbagai macam dosa dan perbuatan-perbuatan
yang mengotori hatinya serta mengosongkan wadahnya dari selain Allah. Karena
hanya dengan qalb yang bersih seorang manusia dapat menerima pancaran
(illumination) dari Allah Swt.
Para sufi
sebenarnya telah merumuskan tujuh sebab pembuat dosa yang dinamakan dengan lata’if[42],
yaitu :
1.
Lathifah
al-qalbi;
yaitu yang berhubungan dengan jantung jasmani, letaknya dua jari di bawah susu
kiri. Disini bersemayam sifat-sifat kemusyrikan, kekafiran, ketahayulan dan
sifat-sifat iblis.
2.
Lathifah
al-ruh; terletak
dua jari di bawah susu kanan, berhubungan dengan hati. Disinilah bersemayam
sifat bahimiyah (binatang jinak),
yakni sifat-sifat menuruti hawa nafsu.
3.
Lathifah
sirri; terletak
dua jari di atas susu kiri. Disinilah letak sifat binatang buas (sabi’iyah), yakni sifat zalim atau
aniaya, pemarah, pendendam.
4.
Lathifah
al-khafi; terletak
dua jari di atas susu kanan, dipengaruhi oleh limpa jasmani. Disinilah letaknya
sifat-sifat pendengki, khianat, yaitu sifat syaithaniyyah
yang membawa celaka dunia akhirat.
5.
Lathifah
al-akhfa; letaknya
di tengah dada, yang berhubungan dengan empedu jasmani. Disinilah letaknya
sifat-sifat rabbaniyah seperti riya’,
takabbur, ujub, sum’ah dan pamer.
6.
Lathifah
al-nafsal natiqa; terletak antara dua kening. Disinilah tempatnya nafsu amarah,
nafsu yang mendorong kepada kejahatan.
7.
Lathifah
kullu jasad; yaitu lathifah yang mendominasi seluruh tubuh jasmani. Disinilah
terletak sifat-sifat jahil dan ghafah
(lalai).
Mujahadah
(bersungguh-sungguh) menjadi syarat mutlak keberhasilan penyucian jiwa. Penyucian
jiwa ini mustahil dilakukan tanpa upaya mengamalkan pengekangan diri, kerja
keras dan kesungguhan. Orang yang bersungguh-sungguh kepada Allah, maka Allah
akan bersungguh-sungguh kepadanya. Dalam hadis
Qudsi, “Jika seorang hamba Allah
mendekat sejengkal maka Allah akan satu depak, jika kita sedepak, maka Allah
satu hasta, kalau kita berjalan ke arah Allah, maka Allah akan memburu
hamba-Nya dengan berlari-lari kecil.”
Di dalam
Al-Qur’an dinyatakan bahwa kesungguhan adalah sebagai syarat untuk memperoleh
petunjuk dan bimbingan Allah :“Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan Sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik.”[43]
“Dan bahwasanya seorang manusia
tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu
kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya
dengan Balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan
(segala sesuatu). Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan
menangis. Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.”[44]
Jiwa manusia, seperti kata Imam al-Ghazali, dapat diubah, dapat
dilatih, dapat dikuasai dan dapat dibentuk sesuai dengan kehendak manusia itu
sendiri. Dengan demikian setiap manusia harus mampu membersihkan, mensucikan
dan mengaktifkan qalbunya agar jiwanya tidak dikuasai hawa nafsu[45],
agar qalbu tidak berkarat, tidak mengeras[46],
tidak tertutup[47],
tidak brutal[48],
sakit[49]
dan buta[50].
Bercermin dari kehidupan para sufi,
proses penyucian jiwa dilakukan melalui tiga tahapan (fase), yaitu :
1. Takhalli; yaitu proses mengosongkan jiwa dari
sifat-sifat tercela melalui taubat yang sebenarnya.
Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat
merupakan rahmat Allah yang diberikan kepad hamba-Nya agar mereka dapat kembali
kepada-Nya. Proses pertaubatan dilalui dengan rangkaian : menyesali, berhenti
dan berjanji untuk tidak mengulanginya, kemudian dilanjutkan dengan
melaksanakan ibadah ritual, baik yang fardhu
(wajib) maupun yang nawafil (sunnah).
Menurut
al-Ghazali, sifat-sifat tercela yang harus dihilangkan adalah hasad (iri hati), haqaq (dengki), su-uzhan
(buruk sangka), kibr (sombong), ujub (merasa sempurna dari orang lain), riya (menunjukkan dan memamerkan
kelebihan diri), sum’ah (mencari
prestise dan kemasyhuran), bukhl (bakhil),
hubb al-maal (cinta harta), takabbur (angkuh), ghadab (marah), ghibah (menceritakan
aib orang lain), namimah (berbicara
di belakang orang lain), kizb (dusta)
dan khianat (ingkar janji). Selagi
sifat-sifat tercela tersebut masih bersemayam di dalam qalbu seseorang, maka
selama itu pula ia tidak akan dapat mendekat kepada Allah.
2.
Tahalli; yaitu proses pengisian jiwa dengan
sifat-sifat terpuji (al-mahmudah) atau sifat-sifat yang baik. Pada akhirnya,
sifat-sifat mulia inilah yang akan bersemayam di dalam jiwanya. Ketika
sifat-sifat ini sudah menyatu di dalam dirinya, maka sebenarnya ia telah
memiliki jiwa yang bersih.
Pada tahap tahalli,
kaum sufi berusaha agar dalam setiap perilaku selalu berjalan di atas ketentuan
agama, baik kewajiban yang bersifat “luar” maupun yang bersifat “dalam”. Yang
dimaksud dengan aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal, seperti shalat, puasa, zakat, infaq,
shadaqah, haji
sedangkan aspek “dalam” seperti iman, ketaatan, dan kecintaan kepada Tuhan.
Cara praktis yang dilakukan dalam tahap
ini adalah :
a. Memperbanyak
zikir.
Zikir disini bukan hanya sekedar
menyebut dan memuji Allah, tetapi lebih dari itu yakni dimana seseorang
senantiasa mampu merasakan kehadiran Allah kapanpun dan dimanapun ia berada,
senantiasa mentadabburkan (merenungi) kekuasaan-Nya, memahami ayat-ayatNya baik
yang bersifat kauniyah yang
terbentang di alam nyata maupun yang bersifat kalamiyah (Al-Qur’an). Dengan berzikir seperti ini diharapkan
terpancar ke segenap aspek kehidupan, mengontrol perilaku dan perbuatan
seseorang dari segala bentuk kemaksiatan. Orang yang senantiasa berzikir akan
mudah mendapat Nur dari Allah,[51]
senantiasa dalam penjagaan-Nya dan akan diangkat sebagai kekasih-Nya. Orang
yang senantiasa berzikir pada Allah, hati dan jiwanya akan hidup, akan
merasakan ketentraman, ketaqwaan, rasa ketergantungan hanya kepada Allah saja,
ia tidak takut terhadap persoalan-persoalan kehidupan karena ia yakin Allah
akan beserta dirinya mengatasi persoalan tersebut, muncul rasa cinta yang
mendalam kepada Allah, perilaku yang baik, sehingga pada akhirnya ia sulit
dipengaruhi keadaan sekitarnya yang berdampak negatif.
b. Puasa.
Puasa sangat membantu untuk melemahkan
kekuatan hawa dan menggembosnya. Hawa nafsu yang menjadi kenderaan syaitan akan
selalu mengajak pada kejahatan karena ia memiliki 3 kecondongan biologis yang
tak pernah kunjung hilang, yaitu makan, libido sex, dan tidur. Tiga kecondongan
ini senantiasa diinginkan dan dituntut hawa agar ia punya kekuatan dan mampu
menguasai nafs.
c. Baca
Al-Qur’an dan Ingat Mati.
Rasulullah Saw. mengatakan : “Hati ini bisa berkarat sebagaimana besi
dapat berkarat jika terkena air.” Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah,
Apakah pengkilatnya?”. Baginda menjawab: “Banyak mengingat Maut dan membaca
Al-Qur’an.” (HR. Baihaqi dalam Su’bah Al-Iman)
Banyaknya dosa dan lalai dari memahami
ayat-ayat Allah akan menyebabkan hati kotor, menimbulkan noda-noda hitam dalam
hati. Noda itu akan hilang ketika seseorang bertaubat, mensucikannya dengan
selalu membaca Al-Qur’an dan memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya,
dan membuat persiapan buat bekal hidup sesudah mati.
Dalam hadis lain juga dijelaskan bahwa Nabi
meninggalkan dua nasehat pada umatnya, satu dapat berbicara dan yang satu lagi
diam saja. Yang dapat bicara itulah Al-Qur’an, dan yang diam saja adalah mengingat
(melihat) kematian.
Dengan membaca Al-Qur’an hati akan
menjadi kokoh, terimbas Nur Firman-Nya, dan dengan merenungi hakikat kematian
hati seseorang akan sadar, mudah kembali kepada kebaikan dan mampu memahami
hakikat perjalanan kehidupan dunia, tidak menyia-nyiakan sisa masa hidupnya
serta menyeronokkan jiwa dengan tambahan rasa takut pada-Nya dan harap akan
kasih sayang-Nya.
d. Hidupkan
ibadah-ibadah sunnah yang disenangi Allah; seperti shalat tahajud, shalat dhuha.
3.
Tajalli; adalah terungkapnya nur ghaib, merasakan
kedekatan dan kehadiran Allah di sisinya. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan
organ-organ tubuh yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah
terbiasa melakukan pebuatan-perbuatan yang luhur tidak berkurang, maka rasa
Ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang telah dilakukan dengan
kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan
menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.
Berkenaan dengan nur
ghaib atau cahaya keghaiban, ada dipaparkan dalam Al-Qur’an yang mengungkap
tentang Allah Swt. adalah “Cahaya langit
dan bumi”, sebagaimana yang terdapat dalam Surah An-Nuur ayat 25 : “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit
dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak
tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca
itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan
dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang
tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya),
yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.
Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya
siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Tidak akan pernah
berhasil ketika seseorang inginkan tazkiyatun
nafs tetapi tidak melatih jiwanya (riyadhatun
nafs). Dalam kehidupan Sufi, ada dikenal istilah maqam, yaitu suatu
tingkatan seorang hamba di hadapan Allah Swt., sebagai Tuhannya dalam hal
ibadah dan latihan-latihan jiwa yang dilakukannya. Maqam dapat diraih melalui berbagai usaha atau latihan dari seorang
hamba. Dalam kehidupan modern saat ini, dapat kita pahami bahwa maqam merupakan suatu usaha atau latihan
(riyadhah)
yang dilakukan seseorang yang ingin memiliki kedekatan dengan Tuhannya, ingin
memperoleh ketenangan (jiwa yang muthmainnah)
dengan melewati ahwal-ahwal (satu
kondisi batin yang didapat karena limpahan rahmat Allah). Usaha-usaha itu boleh
jadi mengikuti apa yang telah dirumuskan para sufi terdahulu seperti Taubat, Wara’, Sabar, Faqir, Zuhud,
Tawakkal, Mahabbah, Ma’rifah dan Ridha.
·
Taubat : Taubat dari segala dosa baik besar
dan kecil. Selanjutnya menjauhkan diri dari segala perbuatan yang kurang baik
dan tidak sopan yang dalam istilah sufi disebut taubat dari segala yang makruh dan
syubhat. Dalam istilah lain sering dikatakan, taubat orang awam dari dosa, taubat
orang `arifin (para sufi) dari lalai
mengingat Tuhan.
·
Wara’ : menjauhi atau meninggalkan segala hal yang belum jelas haram halalnya (syubhat).
Menurut Qamar Kailani, orang sufi membedakan wara’ itu kepada dua
macam wara’, yaitu pertama,wara’ lahiriyah,
yakni tidak mempergunakan anggota tubuhnya untuk hal-hal yang tidak diridhai
Allah, dan kedua,wara’ bathiniah, yakni tidak menempatkan atau mengisi
hatinya kecuali Allah.Berdasarkan itu pula, maka di kalangan sufi,
mereka mengisi hidup dan kehidupannya dengan selalu dalam keadaan suci, indah
dalam kebaikan, tentu saja selalu waspada dalam berbuat. Mereka tidak
mau menggunakan sesuatu yang tidak jelas statusnya, apalagi yang jelas-jelas
haram.
·
Sabar: Sabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya. Sabar dalam menerima cobaan dari Allah dan sabar pula menunggu pertolongan dari Allah dan akhirnya sabar
dalam menjalankan kesabaran itu sendiri.
·
Faqir : Tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri
kita. Jika meminta rezeki semata-mata agar dapat menjalankan kewajiban kepada
Tuhan. Umumnya para sufi tidak meminta rezeki pada Allah, jika diberi para sufi
tidak menolak.
·
Zuhud : Menjauhkan diri godaan materi dan hidup dalam kesederhanaan.
Al-Junaid menyatakan, Zuhud adalah “Kosongnya tangan dari kecenderungan untuk memiliki
segala yang ada dan kosongnya hati dari pencarian”. Zuhud akan menjadikan orang
mengkosumsi segala sesuatu berdasarkan kebutuhan bukan karena prestise.
·
Tawakkal : Menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Selalu
berbaik sangka walaupun ia menerima bencana atau perlakuan yang tidak baik dari
orang lain.
·
Mahabbah: hatinya kosong dari segala-galanya, kecuali dari yang
dikasihi yaitu Tuhan. Kesenangannya adalah berzikir, memuja dan berdialog
dengan Tuhan.
·
Ma’rifah : Mengenal Allah, merasakan kedekatan
dan kehadiran-Nya setiap saat.
Mengenal Allah adalah aset terbesar.
Mengenal Allah akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal
Allah kita akan merasa ditatap, didengar, dan selalu diperhatikan. Bila
demikian, hidup pun jadi terarah, tenang, ringan, dan bahagia, tidak takut dan
sedih dengan persoalan-persoalan duniawi.
· Ridha :
Hilangnya rasa benci dan marah dalam diri sufi sehingga yang tinggal hanyalah
rasa senang dan bahagia. Merasa
senang bila menerima malapetaka sebagaimana merasa senang menerima ni`mat,
bahkan hati bergelora ketika menerima malapetaka dari Allah.
Manusia yang
mampu menetralisir jiwanya, membersihkan dan mengosongkannya dari sifat-sifat
tercela akan mampu mengangkat derajat mereka setara dengan malaikat.
Orang-orang seperti inilah yang dimaksudkan Allah sebagai orang-orang yang
beruntung, sebagaimana Firman-Nya : “Beruntunglah
orang-orang yang membersihkan jiwanya (seperti malaikat), dan merugilah
orang-orang yang mengotorinya (seperti binatang).”[52]
Sungguh beruntung
bagi siapapun yang mampu menata qalbunya menjadi bening, jernih, bersih, dan
selamat. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki
qalbu yang tertata, terpelihara dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena
selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketentraman, kesejukan, dan
indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula
dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan. Orang yang bening hatinya,
wajahnya memancarkan kejernihan, bersinar, sejuk dan menyegarkan, akal
pikirannya pun akan jauh lebih jernih, lebih mudah memahami setiap
permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, lebih cerdas dalam
melakukan beragam kreativitas pemikiran, dan dia pun inginkan keberadaan
dirinya dapat memberi manfaat bagi orang lain. Begitupun
ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang
menyombongkan diri, setiap butir kata yang keluar dari lisannya sarat dengan
makna dan hikmah, perilakunya adalah akhlak terpuji, penuh kesantunan dan ingin
selalu membahagiakan orang lain. Kesehatan tubuh pun terpancari oleh kebeningan
hati, buah dari kemampuannya menata qalbu. Detak jantung menjadi terpelihara,
tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang, dan kondisi jiwa senantiasa
diliputi kedamaian, optimis, tidak ada rasa cemas, tidak ada rasa takut karena
dia yakin ada Allah mendampinginya.
Dan, Subhanallah,
lebih dari semua itu, kebeningan hatipun dapat membuat hubungan dengan Allah
menjadi luar biasa manfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam,
mengingat dan menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayatNya,
membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram. Konsekuensinya, dia pun menjadi
lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula
do’a-do’anya menjadi luar biasa mustajabnya. Mustajabnya do’a tentu akan
menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling
luar biasa adalah karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat
kelak.
Singkat kata, orang
yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa indahnya, luar biasa
bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di
akhirat kelak. Inilah buah dari kesungguhan menata qalbunya. Tidak rindukah
kita memiliki hati yang bersih?
C.KIAT-KIAT
MEMELIHARA KETERHUBUNGAN DENGAN ALLAH
Benih-benih ketakwaan serta
sifat-sifat terpuji yang telah dibangun di dalam jiwa seseorang memerlukan
pemupukan yang berkesinambungan. Benih-benih ini apabila tidak disertai
pemeliharaan yang intensif, besar kemungkinan menjadi punah.
Seseorang yang bertakwa adalah orang
yang menghambakan dirinya kepada Allah dan selalu menjaga hubungan dengan-Nya
setiap saat. Memelihara hubungan dengan Allah terus-menerus akan menjadi
kendali dirinya sehingga dapat terhindar dari kemaksiatan, kemungkaran, dan
membuatnya konsisten terhadap aturan-aturan Allah.
Memelihara
hubungan dengan Allah dimulai dengan melaksanakan tugas (ibadah) secara
sungguh-sungguh dan ikhlas, dan memelihara hubungan dengan Allah dilakukan juga
dengan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah.
1.Zikrullah
Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah Swt.,
berfirman : “Manakala hamba-Ku berzikir
(mengingat-Ku dan menyebut nama-Ku) dalam dirinya (yakni dalam keadaan
sendirian), Aku pun akan menyebutnya dalam diri-Ku. Dan manakala ia menyebut
nama-Ku diantara sekelompok manusia, Aku pun menyebut namanya diantara kelompok
yang lebih baik dari kelompok-Nya. Dan manakala ia mendekat kepada-Ku
sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Dan manakala ia mendekat
kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan manakala ia datang
kepada-Ku sambil berjalan, Aku akan datang kepadanya sambil berlari.” (HR.
Bukhari-Muslim)
Zikrullah adalah menghadirkan kemaujudan Allah, kebesaran dan
keagungan-Nya, baik diucapkan dengan lisan ataupun tidak. Lebih jauh kata zikir
berkembang maknanya sehingga diartikan juga dengan nama atau sebutan, karena
nama bagi seseorang merupakan sesuatu yang harus dipelihara dan dihormati.
Sehingga terkesan bahwa kata zikir seringkali digunakan menyangkut hal-hal yang
tinggi, agung dan mulia, dalam konteks ini adalah nama Tuhan yaitu “Allah”.[53]Ibnu
Athaillah
(W. 1309 M) membagi zikir menjadi tiga tingkatan yaitu : Pertama, zikir jali (zikir keras, nyata). Kedua, zikir khafi (zikir yang samar-samar). Ketiga,
zikir haqiqi (zikir yang
sebenar-benarnya).[54]
Adapun bentuk tingkatan zikir yang
tertinggi menurut Ibnu Athaillah adalah tingkatan yang ketiga, yakni zikir haqiqi, yaitu zikir yang dilakukan oleh
jiwa dan raga, lahir dan batin, kapan pun dan di manapun setiap waktu dan
tempat secara kesinambungan yang tak terputus-putus. Ini dilakukan dengan cara
memperketat upaya untuk memelihara seluruh jiwa raga dari segala bentuk
larangan Allah dan senantiasa melaksanakan perintah-Nya, selain bentuk
perbuatan yang demikian tiada yang diingatnya kecuali hanya Allah Swt.semata.
Untuk mencapai ke tingkatan ini perlu latihan-latihan atau setidaknya harus
menjalankan zikir jali dan zikir khafi.
Pada umumnya kata zikir dalam Al-Qur’an
hanya dinisbahkan kepada Allah Swt. seperti zikrullah,zikr al-Rahman, dan
sebagainya. Serta ada juga yang berdiri sendiri yaitu zikir dalam arti wahyu
Allah atau Al-Qur’an. Kata zikir dalam berbagai bentuknya terulang dalam
Al-Qur’an sebanyak 76 kali.Namun hanya sekali disandangkan secara langsung
kepada seseorang dalam hal ini yaitu kepada Nabi Muhammad Saw.seperti yang
termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Syarh [94]: ayat 4 yang berbunyi: “Dan Kami meninggikan bagimu sebutan
(nama)mu”.[55]
Adapun
pemaknaan bunyi Firman-Nya dalam surah An-Nisa’ ayat 103 yang dijajarkan di atas, Ibn Abbas[56]
r.a. menerangkan bahwa, “Maksudnya adalah (berzikir harus dilakukan) pada malam
dan siang hari, di darat dan lautan, dalam perjalanan dan ketika berada di
rumah, ketika kaya dan dalam keadaan miskin, ketika sakit dan dalam keadaan
sehat, serta secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan”. Melalui pemaknaan
ayat tersebut Ibn Abbas r.a. hendak mengatakan kepada orang-orang beriman bahwa
(zikir) mengingat Allah Yang Maha Hadir itu, tidak dibolehkan terputus-putus
barang sesaatpun dan harus dipelihara kesinambungannya, karena sesungguhnya
berzikir dapat dan harus dilakukan setiap saat dalam keadaan apapun, kapanpun
dan di manapun atau di setiap waktu dan tempat.
Adapun
kebiasaan ibadah maupun zikir kepada Allah, yang dilakukan orang-orang munafik
adalah dilakukan dengan kebohongan kepada-Nya.Apabila mereka mengerjakan shalat dengan bermalas-malasan dan bermaksud ingin riya
atau dipuji di hadapan banyak orang.Dengan bentuk ibadah yang dikerjakan itu
sebenarnya mereka tidak benar-benar beribadah karena hati mereka pun hanya
sedikit mengingat Allah.Itulah sebabnya ketika mencela orang-orang munafik,
Allah Swt. berfirman,“Tidaklah
mereka mengingatAllah kecuali sangat jarang” (QS. An-Nisa’ [4]: 142).
Kemudian
sebagai bentuk gambaran perbandingan keadaan jiwa antara orang-orang yang
berzikir mengingat Allah dengan yang tidak, diilustrasikan oleh Nabi Muhammad
Saw.dengan sangat indah, Rasulullah Saw. bersabda,[57]“Orang yang berzikir kepada Allah di tengah
orang-orang yang lalai adalah seperti pohon hijau di tengah pohon-pohon yang
kering. Orang yang berzikir kepada Allah di tengah orang-orang yang lalai
adalah seperti orang yang berjuang di tengah orang-orang yang lari dari medan
perang”. Kemudian bagi setiap umatnya diperingatkan dengan sabdanya
mengatakan, “Tidaklah anak adam (manusia)
mengerjakan suatu amalan yang lebih menyelamatkannya dari siksa Allah daripada
zikir hanya kepada-Nya”.
Jadi
dengan berzikir mengingat Allah, jiwa manusia laksana pohon yang tumbuh dengan
rindang, kuat batangnya, penuh buahnya. Pohon yang rindang, kuat batangnya,
penuh buahnya adalah sebuah perumpamaan bagi jiwa yang senantiasa dibanjiri
dengan zikrullah, maka akan mendatangkan jiwa yang tenteram, pikiran yang
lurus, sehingga dapat beraktifitas dengan maksimal dan yang mendatangkan hasil
tentu juga akan maksimal. Dengan demikian pada akhirnya akan menyelamatkan
manusia itu sendiri dari segala bentuk azab Allah, baik di dunia terlebih-lebih
di akhirat kelak, karena bentuk zikir yang dia lakukan melindungi dan
menyelamatkannya dari segalam macam malapetaka dunia dan akhirat. Sungguh
terasa indah bila dibayangkan, ketika hidup didunia berkecukupan dan ketika
menuju ke kampung yang abadi di akhirat kelak kita terpelihara tidak tersentuh
azab-Nya, dan itu semua dapat diraih dengan senantiasa berzikir mengingat Sang
Pencipta, yaitu Allah satu-satunya Tuhan yang berhak diingat dan diibadahi.
Dalam
banyak tempat Al-Qur’an menggambarkan tentang perintah berzikir yang selalu
dikaitkan kepada kaum beriman.Seperti misalnya bahwa mereka itu selalu
mengingat Allah dalam keadaan sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.Kemudian
dari mengingat Allah itu mereka juga merenungkan tentang sesuatu dibalik
penciptaan dan keadaan alam semesta. Kemudian mereka seraya berkata :“Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka.”[58]
Selain
itu orang-orang beriman hatinya menjadi tenang dan tenteram hanya dengan selalu
zikir atau mengingat Allah.[59]
Kemudian juga diajarkan jika kita ingat kepada Allah, maka Allah pun akan
mengingat kita.[60]
Selanjutnya ada peringatan bahwa kita jangan sampai lupa dari mengingat Allah,
karena Allah pun akan membuat kita lupa dengan diri sendiri, yakni membuat kita
menjadi manusia yang tidak integral, tidak utuh.[61]Orang
yang melupakan Allah berarti mereka itu adalah orang-orang yang fasik, sebab perilaku orang-orang fasik yaitu orang yang tidak
menjaga integralitas dirinya.
Yang menjadi permasalahan bagi kita di
sini adalah bagaimana caranya agar jiwa dan hati kita senantiasa berzikir dan
mengingat Allah.Apabila kita merujuk kepada literatur kesufian, maka
orang-orang Sufi banyak mengajarkan tentang berbagai “tehnik” atau metode
berzikir. Dari keragaman metode atau cara yang digunakan dengan
sendirinya lafal (lafazd) “Allah”
adalah yang paling banyak sekali digunakan. Demikian pula lafal-lafal lain,
khususnya dari “Asma al-Husna”[62],
seperti al-Ghafur, al-Wadud, al-Lathif,
al-Qawiy, dan seterusnya, masing-masing dengan penghayatan mendalam akan
maknanya seperti yang dijelaskan dalam buku-buku ternama yang membahas tentang
nama-nama Allah itu.
Dalam
rutinitas kehidupan sehari-hari terkadang muncul pertanyaan di benak seseorang,
“Kenapa zikir kepada Allah yang dilakukan secara samar oleh lisan dan tanpa
memerlukan tenaga yang besar malah menjadi utama dan lebih mendatangkan fungsi
dan kegunaan yang tinggi dibandingkan dengan sejumlah ibadah yang dalam
pelaksanaannya banyak mengandung kesulitan?”.Menanggapi ungkapan yang demikian,
Al-Ghazali mengatakan, ketahuilah
bahwa meneliti masalah ini tidaklah layak untuk dilakukan kecuali dengan
menggunakan ilmu mukasyafah. Namun
demikian Al-Ghazali juga menyatakan, bahwa kadar yang dibolehkan untuk
diketahui – dalam masalah zikir kepada Allah Swt. – menurut ilmu mu’amalat adalah bahwa dampak zikir yang
bermanfaat adalah zikir yang dilakukan secara berkesinambungan (kontinu)
disertai dengan hadirnya hati kepada Allah.[63]
Ketentraman
jiwa dan perkenan ridha-Nya senantiasa dapat diraih di dalam dunia ini dan
terlebih-lebih saat kembali ke akhirat kelak menghadap-Nya, apabila zikir yang
dilakukan setiap orang merujuk kepada metodologi yang dibenarkan.Seseorang
dapat berkepribadian yang tangguh, jiwa yang kuatdan mendapat kenikmatan yang
berkecukupan di dunia, apabila hadir hatinya benar-benar lurus hanya kepada
Allah.Seseorang dapat selamat di dunia dan akhirat, apabila hadir hatinya
betul-betul hanya terpusat kepada Allah satu-satunya Tuhan
diibadahi.Sehingga Nabi menggambarkan perbedaan antara orang yang hatinya
senantiasa hadir mengingat Allah dengan yang bukan yaitu, “Seperti perbandingan orang
yang hidup dengan yang mati”.
Dalam
pandangan Ibnu Taimiyah yang membahas
seputar masalah zikir,
menurutnya zikir yang menggunakan “nama-tunggal” (isim mufrad) tidaklah dianjurkan. Dengan
melandasi argumentasinya, lebih jauh ia menegaskan, menurut petunjuk Nabi Saw.
sendiri, zikir yang paling utama ialah kalimat lengkap “La ilaha illa Allah”, karena di situ terkandung pernyataan
lengkap, yaitu peniadaan jenis penyembahan kepada sesuatu apa pun, kecuali
hanya kepada Allah satu-satunya yang boleh, berhak, dan harus disembah.
Tambahan lagi menurut Hadis Shahih Nabi Saw.bersabda:
“Sebaik-baik
ucapan sesudah Al-Qur’an ada empat, dan semuanya juga berasal dari Al-Qur’an; Subhanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), La ilaha illa Allah (Tiada suatu Tuhan
selain Allah, Tuhan yang sebenarnya), dan Allahu
Akbar (Allah Maha Besar), dan tidak mengapa bagimu mana saja dari
kalimat-kalimat itu yang kamu mulai (untuk menyebutkannya)”.[64]
Dengan
zikir dalam kalimat lengkap dan bermakna (kalam-un
tamm-un mufid-un) maka, menurut Ibn Taimiyah, seseorang lebih terjamin dari
segi imannya, karena kalimat serupa itu adalah aktif, menegaskan makna dan
sikap tertentu yang positif dan baik. Sedangkan zikir dengan lafal tunggal
belumlah tentu demikian.Lebih menarik lagi, Ibn Taimiyah kemudian memperluas
lingkungan makna dan semangat zikir kepada Allah itu sehingga meliputi semua
aktifitas (bukan fasifitas) manusia membuatnya dekat kepada Allah seperti
mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta menjalankan “amar ma’ruf nahiy munkar”.[65]
Argumentasi
Ibnu Taimiyah yang mengatakan, bahwa zikir kepada Allah dapat diperluas dari
segi makna dan semangatnya sehingga meliputi aktifitas dalam kehidupan ini
membuatnya dekat kepada Allah, sama maksudnya dengan zikir yang dilakukan
dengan hadirnya hati kepada Allah di setiap bentuk aktifitas apapun, seperti
yang telah diuraikan oleh penulis di atas. Jadi bentuk penjelmaan zikrullah itu
meliputi seluruh orientasi manusia di dunia ini, sehingga manusia itu dapat
memenuhi “perjanjian primordial”-nya kepada Tuhannya, yaitu bahwa manusia akan
memusatkan seluruh orientasi kehidupannya hanya kepada Allah satu-satunya Tuhan
yang berhak diibadahi. Hakikat penjelmaan zikrullah itulah fitrah manusia, yang
idealnya manusia itu senantiasa berada dalam keadaan fitrah dirinya sendiri,
tiada satupun bentuk perbuatan dalam kesehariannya tanpa dilakukan di hadapan
Tuhan semesta alam.
2. Menjaga Amanah Allah
Manusia
dituntut untuk menzhahirkan unsur-unsur Ketuhanan yang ada dalam kediriannya, dengan
menjalankan syariat-Nya dan tanpa harus sedikit pun meninggalkannya (syariat
itu), karena ia merupakan pedoman yang padanya terdapat pahala dan hukuman.
“Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan
untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat
bodoh”. (QS. Al-Ahzab [33]: 72)
Mengenai makna “amanah” yang terkandung dalam
Al-Qur’an (Surah Al-Ahzab [33]: ayat 72) tersebut kebanyakan Ulama’ berbeda
pendapat, tapi yang jelas seperti yang dikemukakan Imam al-Ghazali, dengan mengutip pendapat Syaikh Al-Qurthubi yang mengatakan bahwa, “Amanah itu mencakup
semua tugas suci agama, menurut pendapat yang paling sahih. Pendapat itu adalah
pendapat mayoritas Ulama’, dan mereka hanya berselisih pendapat dalam
perinciannya saja”.[66]
Amanah dapat dipahami pengertiannya secara luas,
baik sebagai tugas keagamaan (dalam konteks hubungan manusia dengan Allah, hablum min Allah), dalam konteks diri
sendiri, ataupun tugas kemanusiaan
secara umum (hubungan sesama manusia, hablum min al-nas, yang melingkupi kehidupan sosial-kemasyarakatan,
ekonomi dan politik).Amanah merupakan konsekuensi logis penerimaan
manusia sebagai Khalifah Allah di bumi. Berangkat dari penelusuran konsep amanah
dalam Al-Qur’an dapat disimpulkan bahwa amanah
mengacu pada kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang telah ditetapkan
Allah dalam Kitab Suci-Nya, amanah mencakup
sumber daya alam yang telah diciptakan Allah untuk keperluan hidup manusia, amanah juga mencakup potensi diri
manusia, dan disamping ituamanah mencakup segala kontrak, perjanjian,
titipan yang terjadi dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi masyarakat (mu’amalah).
Alam dengan
segala isinya disediakan Allah kepada manusia untuk menjadi bidang garapannya
sekaligus tempat tugasnya. Tugas manusialah untuk mengelola alam beserta segala
isinya bagi sebesar-besar manfaat hidup manusia dengan tetap memperhatikan
kelestarian alam itu sendiri. Manusia dipandang khianat apabila tidak
memanfaatkannya, atau memanfaatkannya secara boros dan tidak memperhatikan
kelestariannya.
Manusia
adalah makhluk Allah yang paling sempurna penciptaannya dibanding makhluk
lainnya.Manusia memiliki akal (kemampuan intelektualitas), nafs, qalb (hatinurani), serta panca indera. Potensi
yang dimiliki manusia ini adalah karunia Allah dan juga sebagai amanah yang
dipercayakan Allah kepada manusia. Pemanfaatan amanah tersebut ditunjukkan
dengan kesungguhannya untuk memfungsikan indera dan potensi diri lainnya sesuai
dengan ketentuan syariat Allah. Ketika ia memfungsikan akal, nafs, qalb, mata,
telinga, tangan, kaki sesuai dengan perintah-perintah Allah; akal dan nafs
untuk berkreativitas dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahannya, mata untuk
melihat, mengamati ayat-ayat Allah baik yang qauliyyah (wahyu) ataupun kauniyyah
(alam dengan segala isinya), telinga untuk mendengarkan “pesan-pesan” Allah
dalam makna yang luas, tangan dan kaki untuk beribadah dan bekerja mencari
nafkah yang halal, maka sebenarnya seseorang tersebut telah menjalankan amanah
yang dititipkan kepadanya.Sebaliknya, apabila dimanfaatkan untuk kemaksiatan,
maka pada hakikatnya ia telah berkhianat pada dirinya sendiri dan tentunya
kepada Allah.
Dalam surah
Yaasin ayat 65 Allah berfirman, yang artinya : “Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada kami
tangan mereka, dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang mereka
lakukan selama ini.”
Menjaga
amanah terhadap panca indera tidak saja ditunjukkan dengan memanfaatkannya
secara baik dan sesuai dengan ketentuan agama, tetapi juga harus memberikan
hak-haknya. Dalam satu riwayat, pernah dinyatakan bahwa Rasulullah saw menegur
sahabat yang selalu saja beribadah sampai malam hari sehingga ia tidak
tidur-tidur. Rasul mengatakan, wafi
‘ainika haqqun, dan pada matamu itu ada haknya untuk tidur, hak tangan dan
kaki untuk istirahat dan sebagainya.
Amanah yang
diserahkan oleh Allah kepada manusia, dimaksudkan untuk mengangkat derajat
manusia pada posisi lebih tinggi (mulia) daripada Malaikat sepanjang amanah itu
diembannya dengan baik, tetapi jika amanah itu diabaikannya maka akan
menurunkan derajatnya sebagai manusia kepada tingkat yang lebih rendah dari
binatang ternak. Dalam kehidupannya sehari-hari, manusia juga mengemban amanah
dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, aktivitas ekonomi dan politik. Maka
ketika manusia memegang amanah, dirinya harus mampu menjelmakan nilai-nilai
Ketuhanan yang ada dalam kediriannya, menjadi tindakan nyata yang berorientasi
untuk kebaikan umat manusia secara bersama.
Keselamatan
suatu kaum atau suatu bangsa terjamin apabila pemerintahnya mampu mengemban
amanah dengan baik. Penyelewengan terhadap amanah kekuasaan akan menyebabkan
berjatuhan banyak korban, karena para macan-macan politiknya bertindak buas dan
semena-mena sehingga membawa akibat berupa kesengsaraan dan ketertidasan rakyat
banyak.
Demi
terpeliharanya harmonisasi hubungan antar sesama manusia, seseorang harus mempertimbangkan
kemampuannya untuk mengemban suatu amanah, terlebih-lebih jika amanah itu
adalah amanah rakyat. Jangan tanpa perhitungan bila musim “pemilihan umum”
berbondong-bondong memeriahkan pesta demokrasi untuk ikut dipilih menjadi
“pemimpin” atau “wakil rakyat”, padahal dipundaknya akan terpanggul “amanah
rakyat” yang untuk dijalankan tanpa harus memperkosa dan mengorbankan hak-hak
rakyat. Itu merupakan suatu tugas yang cukup besar, maka dari itu berpikir dan
renungkanlah apabila anda ingin menjadi seseorang pemegang amanah rakyat, yang
hakikatnya juga amanah Tuhan yang harus diemban dengan sikap penuh kemuliaan
serta menjunjung kebenaran.
Manifestasikanlah
nilai-nilai Ketuhanan ke dalam diri kita dan pada seluruh dimensi kehidupan
agar membawa keselamatan saat memegang amanah apapun. Sehingga dapat mewujudkan
nilai-nilai kebenaran yang akan membawa setiap individu atau kelompok menuju
kesejajaran dalam berkeadilan, pemerataan dalam berkesejahteraan, serta
kemakmuran bagi semua kalangan.
Banyak Nabi telah
mencontohkan sikap bijak yang penuh tanggung jawab serta kasih sayang di setiap
momen, itu semua agar dapat menjadi pelajaran bagi seluruh umat-umatnya. Dengan
menjalankan amanah secara benar berarti kita telah patuh kepada Allah dan
Rasul-Nya. Maka dari itu jadilah manusia yang memiliki sikap amanah, baik
kepada diri sendiri, kepada masyarakat, terlebih-lebih kepada Allah, karena segala
sesuatu yang dimiliki saat ini dan segala bentuk tindakan yang diperbuat
manusia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Firman Allah Swt. berbunyi : “Apakah
manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”
(QS. (Al-Qiyaamah [75] : 36).
3. Implementasi Tauhid
dan Ihsan
Ajaran
Islam secara fundamental adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain
Allah.Kesaksian ini meniscayakan ketundukan hanya kepada-Nya semata dan tidak
kepada selain-Nya.
Tauhid dapat dijelmakan dalam bentuk kesadaran manusia, bahwa pengabdian dan
penghambaan yang benar itu hanyalah kepada Allah. Manusia
diciptakan dengan bentuk dan kadar tertentu yang membatalkan setiap
bentuk kekhususan hubungan antara manusia dan Tuhan. Semua kedudukan manusia
setara dihadapan Tuhan.Hanya Dialah Tuhan seluruh manusia, yang merupakan
interpretasi dari intisari kepatuhan mutlak dan penyerahan diri hanya
kepada-Nya.
Tauhid bukan saja mengandung makna
keyakinan tentang keesaan
Allah[67]
tetapi sekaligus juga mencakup ajaran tentang “kesatuan penciptaan”,[68]“kesatuan
kemanusiaan”,[69]
“kesatuan tuntunan hidup”[70]dan
“kesatuan tujuan hidup” baik sebagai hamba Allah[71]
maupun sebagai Khalifah Allah.[72]Pengejawantahan
pandangan hidup yang holistik ini di masa-masa awal Islam terlihat jelas sekali
pada semua bidang kehidupan, baik pada bidang sosial, politik, budaya, hukum maupun
pada sosial ekonomi. Ini merupakan dasar yang melandasi sebuah program
pelaksanaan amal sholeh sesuai kehendak Allah. Inilah sebuah jalan aman yang
menjanjikan bagi manusia untuk naik kepada kesempurnaan yang tinggi, Allah berfirman
: “Barang siapa mengerjakan kebajikan dan dia beriman, maka usahanya tidak
akan diingkari [disia-siakan], dan sungguh Kamilah yang mencatat untuknya.” (QS.
Al-Anbiya’ [21]: 94)
Jadi, apapun orientasi manusia di dunia
ini harus mengacu kepada ketentuan bahwa hanya Allah yang menjadi pusat
orientasinya. Dengan demikian manusia dalam mengisi setiap aspek kehidupannya dan
dalam berinteraksi sosial di dunia, hanya akan mengacu dan tunduk pada
hukum-hukum Allah, yang mengatur segi-segi sosial, yaitu hubungan timbal-balik
antar sesama manusia. Dan jika yang demikian dapat senantiasa melekat dalam
pengamalan kehidupan manusia, maka ia akan selamat dan terlepas dari belenggu
kemusyrikan yang setiap saat menghampirinya serta mengajaknya untuk menyeleweng
dari ketentuan hukum yang diatur-Nya.
Rasulullah Saw. bersabda : “Beribadahlah
kamu kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat
melihat-Nya maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim).
Konsep ihsan yang terdapat dalam hadis tersebut,
sebaiknya diamalkan bukan hanya mengatur pada aspek-aspek peribadatan yang
bersifat ubudiyah yang identik kepada keformalitasan ibadah saja seperti, shalat,
puasa, infaq, shadaqah, zakat, dan lain sebagainya, tetapi idealnya harus
dijelmakan kedalam kehidupan sosialnya karena pada realitanya dan merupakan
sunnah-Nya manusia lebih banyak beraktifitas secara sosial kemasyarakatan daripada
melakukan ibadah formalnya. Sehingga dengan pemahaman yang demikian akan
mengantarkan manusia atau seseorang kepada tertanamnya perasaaninsaf akan
Kemahahadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan sosialnya di setiap waktu dan
tempat (jiwa muraqabah).
Konsep ihsan sebenarnya
adalah ajaran tasawuf yang merupakan bahagian dari tiga pokok utama agama yaitu
: Iman, Islam, dan Ihsan. Ketiganya ini dapat dilihat dengan gamblang (mudah, jelas) dalam hadis Nabi
Saw.,menurut
beliau setiap Muslim hendaklah disetiap waktu dan tempat senantiasa menjalin
hubungan yang intim dengan Tuhannya. Sebab, bagi setiap manusia, khususnya
seorang Muslim setiap gerakan anggota badan, pancaindera, dan bahkan gerak
hatinya selalu diperhatikan oleh Tuhan.[73]
Ihsan adalah puncak prestasi dalam
ibadah, muamalah dan akhlak seorang hamba. Ihsan juga merupakan wujud mahabbah (cinta) seorang hamba kepada
Rabb-Nya. Oleh karena itu mereka yang menyadari akan hal ini tentu akan
berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada
tingkatan tersebut. Siapapun diantara kita, apa pun profesi kita, di hadapan
Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik
ke tingkat ihsan.
Allah
Swt. berfirman : “Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.”(QS.
An-Nahl [16] : 128)
4. Mencari, Mempelajari, Mengkaji dan Memperdalam Ilmu-Ilmu Agama
Nabi bersabda : “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan
memudahkan baginya jalan menuju syurga. Dan sesungguhnya malaikat-malaikat
meletakkan sayap-sayapnya karena senang kepada orang yang menuntut ilmu, dan
sesungguhnya orang-orang yang berilmu akan dimohonkan ampunan untuknya oleh
penghuni langit dan bumi sampai ikan yang ada di dalam air.” (HR. Abu Daud
dan Tirmidzi)
Dari hadis di atas, maka ilmu akan mengantarkan manusia
mendapatkan ampunan, yang sekaligus merupakan tazkiyah dari Allah Swt.
5.
Muhasabah, Istighfar dan Berdo’a
Muhasabah berarti introspeksi diri.
Dengan melakukan muhasabah, seorang hamba akan selalu memanfaatkan waktu dan
jatah hidupnya dengan sebaik-baiknya. Dia akan selalu berusaha keras
memperbaiki dirinya agar “bernilai”
dan mendapatkan derajat kemuliaan di sisi Allah.
Tidak ada satu pun manusia yang luput
dari kekhilafan atau kesalahan, dan juga tidak ada jaminan terbebas dari
kesalahan-kesalahan yang akan datang.Iniakan menimbulkan noda-noda hitam dan
dosa yang menempati wadah hati kita, yang dapat berpotensi terhalangnya rahmat dan
pertolongan Allah dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, selalu lah
beristighfar, memohon ampunan-Nya setiap saat. Jangan pernah yakin dengan
seberapa banyak dan baiknya amal ibadah yang telah dilakukan, karena
sesungguhnya hingga saat ini pun kita tidak mengetahui penghisaban Allah terhadap kita. Rasulullah Saw. saja yang telah
dijamin Allah syurga baginya senantiasa beristighfar memohon ampunan.
Do’a merupakan sarana terbaik
seorang hamba meminta perlindungan dan penjagaan dari Allah agar dirinya tetap
berada pada ketaatan dan jalan yang lurus serta diridhai-Nya. Berdo’a wujud
dari sikap ketergantungan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Tak ada yang bisa
menjamin, seseorang yang baik suatu saat bisa berubah menjadi seseorang yang
jahat, begitupun sebaliknya, dan ini semua karena adanya campur tangan Allah, Dia Berkehendak atas petunjuk, hidayah,
musibah, ujian ataupun azab bagi hamba-hambaNya, Dia berkuasa membolak-balikkan
hati hamba-Nya.
“Ya
Allah, kayakan kami dengan Ilmu dan sifat Amanah, Hiasilah kami dengan
ketenangan dan kebijaksanaan, muliakan kami dengan Takwa dan Istiqamah,
Indahkan hidup kami dengan Sehat dan Selamat.” Aamiin.
D. PENUTUP
Pada dasarnya tujuan akhir manusia adalah mengikat lingkaran rohaninya
dengan Allah Swt. sebagai hubungan yang selamanya benar.Sesungguhnya,
hubungan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan adalah suatu hubungan yang
tidak mungkin dapat dipisahkan. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah,
mustahil bisa berlepas diri dari keterikatan dengan-Nya. Bagaimanapun tidak
percayanya manusia dengan Allah, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar,
manusia akan mengikuti sunnatullah
yang berlaku di alam semesta ini.
Dengan memahami
bagaimana luasnya kekuasaan dan Ilmu Allah, akan timbul rasa kagum dan takut
kepada Allah sekaligus menyadari betapa kecil dan hina dirinya. Pemahaman itu
akan berlanjut dengan kembalinya ia pada hakikat penciptaannya dan mengikuti
landasan hidup yang telah digariskan oleh Allah Swt.Ia menyadari
ketergantungannya kepada Allah dan merasakan keindahan iman kepada Allah.
Manusia harus menempuh proses pembebasan diri dari
kungkungan dan jeratan pemujaan, penyembahan dan ketundukan oleh selain Allah
dengan memahami tauhid secara murni.
Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang Menciptakan, yang Maha Agung, Dia lah
Sang Penguasa, Yang Maha Berkehendak, Pembuat Aturan, Pemberi Hidayah, Pemberi
Rahmat dan Karunia, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, Yang
Maha Menolong dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan serba Maha Hadir
sehingga selalu dekat dengan manusia.
Dengan demikian manusia tidak akan
terombang-ambing dalam dinamika kehidupan karena ia sudah memiliki kepercayaan
yang dapat diyakini sebagai tambatan dan jaminan hidupnya. Karena itulah Allah
Yang Maha Kasih selalu mengirim utusan-Nya silih berganti kepada setiap umat
manusia. Dan utusan-Nya itu adalah Nabi atau Rasul yang tampil sebagai pemberi
peringatan dan bimbingan agar umat itu dapat menyalurkan dorongan rohaninya
secara benar, yaitu hanya kepada Allah saja, dan membebaskan diri dari thaghut atau segala bentuk ikatan yang
menyeret manusia kepada pemujaan yang palsu.Penyembahan kepada selain
Allah adalah jenis alienasi
(keterasingan) yaitu situasi ketika orang tidak lagi dapat menguasai buatan
tangannya sendiri atau ditundukkan oleh perbuatannya sendiri. Penyembahan berhala seperti ini adalah pangkal
penderitaan batin dan kesengsaraan karena rohani yang terjerat.
Pengenalan
dan penanaman nilai-nilai ketauhidan yang benar akan membuahkan hubungan yang
indah dengan-Nya. Hubungan itu akan ditandai dengan adanya rasa mahabbah yang sangat tinggi terhadap
Allah, bahkan mengalahkan rasa cintanya kepada manusia lain ataupun benda yang
dimilikinya. Ia memiliki cinta seperti yang telah Allah gambarkan dalam
Firman-Nya :“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman[74]
ialah mereka yang bila disebut nama Allah[75]gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
(QS. Al-Anfaal [8] : 2)
v Pencerahan “Wukuf”
di Padang Arafah :
1.
Mengenal Diri; agar kita sadar
akan status diri di hadapan Allah dan sesama makhluk.
2.
Mengenal Hidup; agar kita sadar
tanggungjawab, tujuan, makna, tugas, nilai, awal dan akhir hidup yang kita
jalani.
3.
Mengenal Allah; agar kita sadar
akan Kemahabesaran Allah yang sebenarnya, hidup dari Allah dan kembali pada
Allah.
4.
Membenahi Diri (Berkaca Diri);
agar kita sadar untuk membenahi diri secara terus-menerus untuk mencapai
kesempurnaan akhlak.
DAFTAR
BACAAN
Komaruddin Hidayat,
Bisakah Akal Menemukan Tuhan?,
(Pengantar buku God and Philosophy karya Etiene Gilson,terj.
Silvester Goridus Sukur, Bandung: Mizan, 2004
John Renard, Knowledge of God in Classical Sufism:
Foundations of Islamic Mystical Theology (terj. Musa Kazhim dan Arif
Mulyadi), hal. XV, Bandung : Mizan, 2006.
William C.Chittick, Tasawuf di Mata Kaum Sufi (terj.
Zaimul Am), Bandung : Mizan, 2002
M. Quraish Shihab, Wawasan
Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung, Mizan,
2007, Cet. XVIII
Fakhruddin al-Razi,Kecerdasan
Bertauhid, Menyelami Kekuatan Makna “La Ilaha illa Allah” Dalam Kehidupan
Nyata, Jakarta, Zaman, 2011
Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius: Memahami Hakikat
Tuhan,Alam, dan Manusia. Jakarta: Erlangga, 2007
Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan : Sebuah
Pengantar filsafat Islam, Cet.I ,Jakarta: Lentera Hati, 2006
Komaruddin Hidayat,
Bisakah Akal Menemukan Tuhan?,
(Pengantar buku God and Philosophy…
Ibn al-'Arabi, Fushush al-Hikam, diedit oleh
Abu al-'Ali' Afifi, 2 bagian (Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1980),
Rumi, The Mathnawi of Jalal Al-Din Rumi, terj.
Reynold A. Nicholson, London: Luzac & Co. Ltd, 1968.
Muhammad Yusuf Musa, al-Akhlaq fi al-Islam,
Kairo, Muassasah al-Mathbu’at al-Haditsah, 1960,
Ibnu Athaillah, Zikir
Penentram Hati, Jakarta, Serambi, 2005, lihat juga dalam, M.Abdul Mujieb, Ahmad Ismail, Syafi’ah, Ensiklopedia tasawuf Imam Al-Ghazali,
Imam Al-Ghazali, Dzikrullah
: Rahasia dan Kekuatan, Jakarta, Sahara Intisains, 2011, Cet IV
Mushtafa Hilmi,
Ibn Taimiyah wa al-Tashawuf,
Iskandaria, Mesir, Dar al-Da’wah, 1403/1982,
Imam
Al-Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri
Ilahi, diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul, “Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila Hadhrah ‘Allam al-Ghuyub fi
al-‘Ilmi al-Tashawuf”,Bandung, Pustaka Hidayah, 2006, Cet. I.
~ Sebuah Renungan ~
“Katakanlah:
Segala puji bagi Allah dan Keselamatan untuk hamba-hamba-Nya yang dipilih
oleh-Nya. Adakah Allah itu yang lebih baik, ataukah yang mereka persekutukan
dengan Allah itu yang lebih baik?
Atau
siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit
kepadamu semua kemudian Kami (Allah) menumbuhkan dengan sebab air tadi
kebun-kebun yang indah permai. Kamu semua tentu tidak sanggup menumbuhkan
pohonnya. Adakah tuhan disamping Allah?
Tetapi
mereka itu adalah kaum yang berpaling dari kebenaran. Atau siapakah yang
menjadikan bumi untuk tempat berdiam dan menjadikan sungai-sungai di
tengah-tengahnya, menjadikan gunung-gunung untuk menjadi pasak dan menjadikan
batas antara dua lautan? Adakah tuhan disamping Allah?
Tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui yang sedemikian itu. Atau siapakah yang
memperkenankan permohonan orang yang dipaksa keadaan menderita, apabila memohon
kepada-Nya agar menghilangkan penderitaannya itu dan siapakah yang menjadikan
kamu sebagai khalifah di bumi?
Adakah tuhan
disamping Allah?
Sedikit
sekali kamu semua mengingat kepada Allah itu. Atau siapakah yang menunjukkan
jalan kepadamu dalam kegelapan di lautan dan di daratan? Dan siapakah yang
mengirim angin untuk membawa berita gembira sebelum datangnya kerahmatan Allah?
Adakah tuhan disamping Allah?
Maha Tinggi
Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan Allah itu.
Atau
siapakah yang memulai menciptakan makhluk, kemudian akan mengulanginya kembali?
Dan siapakah yang memberikan rezeki kepadamu semua dari langit
dan bumi?
Adakah tuhan disamping Allah?
Katakanlah
keterangan (alasan)mu, jika kamu semua memang benar!”
{QS.
An-Naml [27] : 59 – 64}
[1] Berkenaan dengan ini, Al-Qur’an menyebutkan
adanya “Perjanjian Primordial” (primordial covenant, perjanjian sebelum lahir)
antara manusia dan Tuhan, yaitu bahwa manusia mengakui Tuhan itu dan akan hidup
berbakti kepada-Nya. “Dan (ingatlah) ketika
Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka. (seraya berFirman)
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami
bersaksi.”
(QS. Al-A’raf [7]: 172).
[2] Siapapun yang mengakui bahwa dirinya seorang hamba harus
senantiasa mengembangkan potensi-potensi kerinduan yang ada dalam dirinya dalam
rangka dapat berjumpa dengan Tuhan. Puncak ibadah adalah ketika seorang hamba
(perindu) dapat bersua, berdekatan bahkan bersatu dengan yang dirindukannya
(Tuhan).Lihat Pengantar Ahmet T. Karamustafa dalam buku John Renard, Knowledge
of God in Classical Sufism: Foundations of Islamic Mystical Theology (terj.
Musa Kazhim dan Arif Mulyadi), hal. XV, Bandung
: Mizan, 2006. Lihat juga Komaruddin Hidayat,
Bisakah Akal Menemukan Tuhan?,
(Pengantar buku God and Philosophy karya Etiene Gilson,terj.
Silvester Goridus Sukur, Bandung:
Mizan, 2004, hal. 13.
[3] Lihat Pengantar Ahmet T. Karamustafa dalam buku John Renard, Knowledge
of God in Classical Sufism: Foundations of Islamic Mystical Theology (terj.
Musa Kazhim dan Arif Mulyadi), hal. XV, Bandung
: Mizan, 2006.
[4] William C.Chittick, Tasawuf di Mata Kaum Sufi (terj.
Zaimul Am), Bandung : Mizan, 2002,
hal. 72.
[5] Artinya:
petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga
diartikan disini sebagai pertolongan.
[6] Al-Qur’an Surah Ali Imran [3]: ayat 190–191.
[7] Muhammad Asad, yang memiliki nama asli Leopold Weiss adalah seorang
wartawan dan pengarang ternama dari Austria, dahulunya ia pemeluk agama Yahudi
yang kemudian masuk Islam. Pengetahuan, pandangan hidup dan keyakinannya
tentang Islam, banyak ditulisnya dalam bebagai buku.
[8] Sebagaimana diuraikan secara luas oleh Nurcholish Madjid dalam Kata
Pengantar bukunya “Cendikiawan dan Religusitas Masyarakat”.
[9] M. Quraish Shihab, Wawasan
Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung, Mizan,
2007, Cet. XVIII, Hlm. 15.
[10] Baca, Al-Qur’an surah Al-Rum [30]: ayat 30.
[11] Baca, Al-Qur’an surah Ali Imran
[3]: ayat 190–191, sebagai bukti bahwa Allah banyak memuji-muji “Ulul al-Baab”
adalah Al-Qur’an mengulang kata “Ulul al-Baab” sebanyak 16 kali, di antaranya
Al-Qur’an surah Al-Baqarah [2]: ayat 179, 197, 269; surah Ali Imran [3]: ayat 7
& 190–191; surah Al-Maidah [5]: ayat 100; surah Yusuf [12]: ayat 111; surah
Al-Ra’d [13]: ayat 19; surah Ibrahim [14]: ayat 52; surah Shad [38]: ayat 29
& 43; surah Al-Zumar [39]: ayat 9, 18, 21; surah Al-Mu’min [40] : ayat
52–54; surah Al-Thalaq [65]: ayat 10.
[12] M. Quraish Shihab mendefenisikan “Ulul al-Baab” yaitu orang-orang yang memiliki akal yang murni.
Kata “Al-Albab” adalah bentuk jamak dari Lubb yaitu saripati sesuatu. Misalnya kacang, yang memiliki kulit
menutupi isinya. Isi kacang dinamai Lubb.
Jadi “Ulul al-Baab” adalah
orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit”,
yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan berpikir. Yang
merenungkantentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang nyata
tentang keesaan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
[13] Fakhruddin al-Razi,Kecerdasan
Bertauhid, Menyelami Kekuatan Makna “La Ilaha illa Allah” Dalam Kehidupan
Nyata, Jakarta, Zaman, 2011, Hlm. 14–15.
[14] Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah [2]: 21–22.
[15] Al-Qur’an, Surah Al-Anbiya’ [21]: 22.
[16] Nurcholish
Madjid, Pintu-pintu Menuju Tuhan…hal. 90
[17] Mulyadhi Kartanegara, Nalar
Religius: Memahami Hakikat Tuhan,Alam, dan Manusia. Jakarta: Erlangga,
2007, hal. 2
[18] Mulyadhi Kartanegara, Gerbang
Kearifan : Sebuah Pengantar filsafat Islam, Cet.I ,Jakarta: Lentera
Hati, 2006, hal. 78-87.
[20] Ibn
al-'Arabi, Fushush al-Hikam, diedit oleh Abu al-'Ali' Afifi, 2 bagian
(Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1980), 1:225-226.
[21] Lihat
Rumi, The Mathnawi of Jalal Al-Din Rumi, terj. Reynold A. Nicholson,
London: Luzac & Co. Ltd, 1968.
[22] Tentang
esensi dan hakikat pengetahuan dapat dibahas dari aspek-aspek lain. Apakah pengetahuan itu merupakan perkara-perkara
eksternal dan Hakîkî, yakni mencerminkan apa-apa yang ada di alam eksternal
ataukah hanyalah merupakan hal-hal yang bersifat pikiran belaka dan kita itu
diperkenalkan dengan apa-apa yang terdapat dalam pikiran seseorang? Allamah
Thabâthabâi, Nihāyah al-Hikmah,.. hal. 298 dan 293
[23] Rumi,
The Mathnawi of Jalal Al-Din Rumi…hal. 251
[24] Fakhruddin al-Razi,
Kecerdasan Bertauhid, Hlm. 130.
[25] Tentang keadilan di dalam Islam dapat dilihat ulasan
yang lebih memadai dalam Muhammad Yusuf Musa, al-Akhlaq fi al-Islam,
Kairo, Muassasah al-Mathbu’at al-Haditsah, 1960, Hlm. 23–25, sebagaimana
dikutip Amiur Nuruddin, Jamuan Ilahi, Pesan Al-Qur’an Dalam Berbagai
Dimensi Kehidupan, Hlm 73.
[26] Lihat, dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash [28]: ayat 59.
[27] Lihat, dalam Al-Qur’an surah Al-Rahman [55]: ayat 7.
[28] Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas
keagamaan.
[29] Maksudnya: bercampur antara benih lelaki
dengan perempuan.
[30] Lihat Surah Al-Fath : 4, Ali-Imran : 126, Al-Hadiid :
27, Al-Anfaal : 2 dan 70, Al-Hujurat : 7 dan 14.
[31] Lihat Surah Al-Hasyr : 10, Al-Baqarah : 93, Ali-Imran :
7, At-Taubah : 15, 45, 77, 156; dan Al-Fath : 26.
[32] Lihat Surah Al-Hajj ayat 46.
[33] Lihat Surah Al-A’raaf ayat 179.
[34] Lihat Surah Al-Hajj ayat 46.
[35] Lihat Surah Al-Maa’idah ayat 41; dan Surah Az-Zumar ayat
45.
[36] Lihat Surah Al-Hajj ayat 260; Surah Al-Mu’min ayat 35;
dan Surah Al-Hadiid ayat 16.
[37] Lihat Surah Qaaf ayat 37; dan Surah Az-Zukhruf ayat 36.
[38] Yang dimaksud lubang yang tidak
tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai
kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.
[39] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh
di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di
waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan
minyak yang baik.
[40] QS.
Ali-‘Imran ayat :14
[41] QS.
Ash-Shaff ayat : 10 – 12.
[42] Aboe Bakar Atjeh (1984), Pengantar Ilmu Sejarah Sufi dan Tasawwuf, Semarang : Ramadhani,
h.316.
[43] Lihat QS. Al-Ankabuut [29] ayat 69.
[44] Lihat QS. An-Najm[53] ayat 39-44.
[45] Lihat QS. Al-Furqan ayat : 43.
[46] Lihat QS. Al-Baqarah ayat : 74
[47] Lihat QS. Al-Baqarah ayat : 2
[48] Lihat QS. Ali-‘Imran ayat : 159
[49] Lihat QS. Al-Baqarah ayat : 10
[50] Lihat QS. Al-Hajj ayat : 159
[51] Lihat QS. An-Nuur ayat : 35
[52] Lihat QS. Al-Qadr [97] ayat
: 7-8.
[53] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Misbah, Vol 15, Hlm. 358–359.
[54] Ibnu Athaillah, Zikir
Penentram Hati, Jakarta, Serambi, 2005, lihat juga dalam, M.Abdul Mujieb, Ahmad Ismail, Syafi’ah, Ensiklopedia tasawuf Imam Al-Ghazali, Hlm. 590–591.
[55] Maksudnya adalah meninggikan derajat dan mengikutkan
namanya (Muhammad) dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, kemudian Allah
menjadikan taat kepada Nabi Muhammad Saw. yaitu termasuk juga taat kepada-Nya.
[56] Perkataan Ibn Abbas r.a. tersebut dikutip Al-Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi, Hlm.
75.
[57] Hadis Nabi Saw. tersebut dikutipAl-Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi, Hlm.
75.
[58] Lihat Al-Qur’an surah Ali Imran [3]: ayat 191.
[59] Lihat Al-Qur’an surah Al-Ra’d [13]: ayat 28.
[60] Bunyi Firman-Nya dalam Kitab Suci, “Karena itu, ingatlah engkau kepada-Ku niscaya Aku akan
ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]:
152).
[61] Al-Qur’an surah Al-Hasyr [59]: ayat 19.
[62] Perhatikan bunyi Firman-Nya, “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia.
Yang mempunyai al-asma al-Husna (nama-nama yang baik)”. (QS. Thaha [20]:
8).
[63] Imam Al-Ghazali, Dzikrullah
: Rahasia dan Kekuatan, Jakarta, Sahara Intisains, 2011, Cet IV, Hlm. 11.
[64] Mushtafa Hilmi, Ibn Taimiyah wa al-Tashawuf, Iskandaria,
Mesir, Dar al-Da’wah, 1403/1982, Hlm. 515, sebagaimana dikutip Nurcholish
Madjid, Islam Agama Peradaban, Hlm. 87.
[65] Mushtafa Hilmi,Ibn
Taimiyah wa al-Tashawuf, Hlm. 515–516
[66] Imam
Al-Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri
Ilahi, diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul, “Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila Hadhrah ‘Allam al-Ghuyub fi
al-‘Ilmi al-Tashawuf”,Bandung, Pustaka Hidayah, 2006, Cet. I, Hlm. 170–171.
[67] Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah [2]: ayat 163, Al-Ikhlas
[112]: 1–4
[68] Al-Qur’an,
Surah Al-An’am [6]: ayat 102, Al-Ra’ad [13]: ayat 16, Fathir [35]: ayat 3,
Al-Zumar [39]: ayat 62, Al-Mu’min [40]: ayat 62, Al-Hasyar [59]: ayat 24
[69] Al-Qur’an, Surah
Al-Baqarah [2]: ayat 213, Al-Maidah [5]: 48
[70] Al-Qur’an,
Surah Ali Imran [3]: ayat 85, Al-Nisa’ [4]: ayat 125
[71] Al-Qur’an,
Surah Al-Taubah [9]: ayat 31,Al-Dzariyat [51]: ayat 56
[72] Al-Qur’an,
Surah Al-Baqarah [2]: ayat 30, Al-An’am [6]: ayat 165
[73]Abi Hurairah menjelaskan, Ketika Nabi Muhammad di
tengah-tengah kerumunan manusia, lalu beliau didatangi seorang laki-laki dan
bertanya kepadanya; Apakah iman itu? Nabi menjawab : Iman adalah engkau percaya
kepada Allah, bertemu dengan-Nya, percaya akan adanya Malaikat-Nya, mengakui
Rasul-Nya, dan bangkit dari kubur (hari kiamat). Lelaki itu bertanya lagi ;
Apakah Islam itu? Nabi menjawab : “Islam adalah Engkau menyembah Allah
dan jangan menyekutukan-Nya, dirikan shalat, tunaikan zakat, dan berpuasa
pada bulan ramadhan”. Lelaki itu bertanya lagi; Apakah ihsan itu? Nabi
menjawab : Hendaklah engkau beribadah menyembah Allah, seakan-akan kamu
melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu bertanya lagi ; Kapan terjadinya hari
Kiamat? Nabi menjawab : “Tidaklah orang yang bertanya lebih mengetahui
jawabannya tentang hal ini daripada orang yang ditanya, aku akan jelaskan
tentang tanda-tanda kiamat (ialah) : apabila seorang budak melahirkan tuannya,
apabila para penggembala binatang ternak telah berlomba bermegah dalam
bangunan, ia termasuk lima hal yang tak seorangpun mengetahuinya kecuali
Allah”. Kemudian lelaki itu pergi dan Nabi pun berkata kepada para sahabat :
“Panggillah lelaki itu”, tetapi tak seorangpun dari sahabat melihatnya
lagi. Lalu Nabi berkata: “Lelaki itu adalah Malaikat Jibril, ia datang
untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama”. (HR. Bukhari dan Muslim).
[74] Maksudnya: orang yang sempurna
imannya.
[75] Dimaksud dengan disebut nama Allah
Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus