Selasa, 26 April 2016

MEMBANGUN DAN MEMELIHARA KETERHUBUNGAN DENGAN ALLAH





MEMBANGUN & MEMELIHARA
KETERHUBUNGAN DENGAN ALLAH

oleh :
Prof. Dr. H. Muzakkir, MA
(Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)


A. PENDAHULUAN
Dari sudut pandang agama, kebutuhan manusia terhadap sistem kepercayaan merupakan salah satu naluri yang paling mendasar, bahkan lebih mendasar dari naluri manusia untuk makan dan minum. Naluri ini sesungguhnya merupakan penyaluran dari dorongan yang jauh mendalam di alam bawah sadarnya, yaitu dorongan gerak kembali kepada Tuhan karena adanya “Perjanjian Primordial” dengan Penciptanya itu dalam alam rohani[1].
Karena alasan tersebut, upaya  untuk memahami dan mendekati serta memelihara keterhubungan dengan Tuhan dengan segala konsekwensi yang ditimbulkannya  menjadi  objek pembahasan yang sangat diminati dan juga dilakukan dengan sangat hati-hati.[2] Sederet  manifestasi yang bermacam-macam atas usaha tiada henti terus dilakukan untuk mengenal dan dekat dengan Tuhan. Kaum mistikus, ringkasnya, adalah para pencari pengetahuan tentang Allah secara praktis yang juga disebut dengan al-’arif.[3]
            Para ahli irfan (Arifbillah) beranggapan bahwa segala marifat dan pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih sesuai dengan kebenaran daripada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal. Mereka menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasi-Nya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate) dan intuitif dengan hakikat tunggal alam (baca: Sang Pencipta) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah. Sebagian  karena penyingkapan (Kasyf) seringkali berbentuk pengetahuan visioner-imajistik dan mereka kerap menggunakan syair untuk mengekspresikan ajaran-ajaran mereka tentang Allah, dunia dan jiwa manusia. Banyak diantara mereka merasa bahwa syair merupakan medium ideal untuk mengekspresikan kebenaran-kebenaran tentang hubungan paling dekat dan misterius yang bisa dijalin manusia dengan Allah.[4]
            Mengapa kita perlu mendekatkan diri dan membina hubungan yang harmonisdengan Allah? Secara logika, dalam kehidupan inikita berupaya untuk menjalin hubungan yang baik penuh ketaatan dengan orang tua kita, dengan keluarga kita, dengan teman-teman kita, dengan rekan bisnis, dengan atasan, dengan bawahan, dengan tetangga maupun dengan lingkungan masyarakat sekitar kita. Namun, mengapa Allah tidak juga mendapat perhatian khusus dan paling utama dari kita, sedangkan Dia yang menciptakan kita dan makhluk-makhluk di sekitar kita tersebut. Wajarkah kita mengabaikan keterhubungan dengan Sang Khaliq? Tidakkah kita sadari bahwa sebelum terlahir ke dunia, ruh setiap pribadi kita sudah terikat “Perjanjian Primordial” dengan-Nya?Dan ruh ini juga yang akan kembali ke sisi-Nya untuk mempertanggungjawabkan ikrar tersebut. Tidakkah kita sadari bahwa kehidupan ini Allah yang atur dan uruskan untuk kita? Dia Penguasa dan Pengatur seluruh alam beserta isinya, kehidupan di dunia ini sesungguhnya berjalan dan terjadi menurut Sunnatullah. Kita tidak sepenuhnya bertakwa pada-Nya dalam menjalani kehidupan, lalai terhadap perintah ataupun larangan-Nya, kita tidak berperilaku seperti tuntunan syariat yang tercermin dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.
            Persoalan-persoalan hidup serta krisis multidimensi yang terjadi saat inisesungguhnya adalah sebagai akibat jalinan hubungan yang tidak harmonis dengan Allah Swt., Dzat yang Maha Agung. Tentang hal ini telah dijelaskan Allah Swt. dalam Al-Qur’an, diantaranya :
·      QS. At-Thalaaq [65] ayat 2, 3 dan 4 :
“(2)...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar; (3)Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu; (4)...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”
·      QS. Al-A’raaf [7] ayat 96 :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
            Disamping itu, terhindar atau tersadarkannya diri kita dari kemaksiatan, serta jalan kita untuk meraih surga dikehidupan yang kekal nanti Allah juga lah yang berkehendak. Dia lah sebagai Penolong utama kita, yang memberikan Hidayah, Petunjuk, Karunia, Ampunan terhadap hamba yang dikehendaki-Nya melalui Ilmu-Nya. Alangkah bahagianya jika kita termasuk hamba pilihan-Nya yang mendapatkan anugerah ini. Sebagaimana Firman Allah Swt. :
·      QS. An-Nuur [24] ayat 21 :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
·      QS. Al-Anfaal [8] ayat 29 :
“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan[5]. Dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

·      QS. Al-Qashash [28] ayat 56 :
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
·      QS. Al-Baqarah [2] ayat 213 :
“...Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”
·      Allah berfirman memberitakan tentang penduduk surga dalam surah Al-A’raaf[7] ayat 43 :
“...Dan mereka berkata : "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk...”
            Dari beberapa keterangan ayat-ayat di atas, jelaslah bahwasanya kita butuhkan keterhubungan dengan Allah, dan oleh karenanya kita harus berupaya membangun dan memelihara secara intensif keterhubungan yang harmonis dengan-Nya agar Petunjuk, Pertolongan, Perlindungan, Ampunan, limpahan Rahmat Karunia Allah senantiasa tercurah dalam kehidupan kita sehingga hidup ini menjadi terarah dan “lurus” (on the right track), seimbang, aman, damai, tentram dan penuh keberkahan. Tali-temali pengikat erat keterhubungan antara manusia dengan Allah adalah iman dan taqwa, melakukan ibadah serta amal sholeh sesuai tuntunan syariat dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah, yang pada akhirnya akan tertanam sifat-sifat ihsan pada jiwa setiap insan yang terpancar lewat akhlak-akhlak terpuji baik itu di hadapan Allah maupun dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
            Dalam makalah ini penulis akan mengeksplorasi tentang bagaimana membangundan memelihara keterhubungan dengan Allah yang meliputi; upaya membangun keterhubungan melalui pemantapan tauhid (keimanan) sebagai dasar utama pembentukan jiwa-jiwa yang bertakwa, pembahasan tentang hakikat tujuan penciptaan manusia, mengenal potensi dimensi ruhaniah manusia, tazkiyatun nafs, serta kiat-kiat memelihara keterhubungan dengan Allah.



B. UPAYA MEMBANGUN KETERHUBUNGAN DENGAN ALLAH
1. Pemantapan Tauhid (Keimanan/Keyakinan)

“Barangsiapa yang telah beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada utas tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 256)

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu.
Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia;
Maka Mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?
(QS. Faathir [35]: 3)

            Dalam Islam, tauhid atau keimanan tentang Allahsebagai Rabb dan satu-satunya Ilahmerupakan hal utama dan paling mendasar yang harus ditanamkan dan diperbaiki karena itu merupakan pondasi yang menopang kehidupan keislamannya nanti. Jika diibaratkan dengan sebuah bangunan, keimanan adalah pondasi yang menopang segala sesuatu yang berada di atasnya, kokoh tidaknya bangunan itu sangat tergantung pada kuat tidaknya pondasi tersebut.
            Setiap orang akan mampu mengucapkan kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, tetapi apakah setiap orang akan mampu merealisasikan makna yang terkandung dari kalimat tersebut?
Keimanan tidaklah sempurna jika hanya diyakini dalam hati tapi juga harus diwujudkan dengan diikrarkan oleh lisan dan dibuktikan melalui tindakan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan syariat ajaran Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Iman bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan yang dapat membentuk seseorang jadi bertakwa serta keyakinan yang dapat memotivasi seseorang berbuat amal sholeh.
            Proses pembentukan iman diawali dengan perkenalan tentang “siapa” Allah sebenarnya. Berikut ini akan dijelaskan tentang pembuktian “wujud” Tuhan dalam pandangan Al-Qur’an dan para sufi, agar keimanan kita semakin kuat dan kokoh sehingga terjalin ikatan batin yang kuat dengan-Nya. Dengan mengetahui, memahami dan mengenal Dzat Allah dengan segala Kekuasaan-Nya maka akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakkal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya, yang akan menentramkan hati ketika mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika rasatakut,serta akan berani, tangguh dan sabar dalam menghadapi segala macam problema kehidupan.
v  Tuhan Dalam Pandangan Al-Qur’an
Al-Qur’an sebenarnya telah memaparkan beragam argumentasi akliah bersamaan dengan sentuhan-sentuhan rasa untuk membuktikan keesaan Tuhan. Melalui Al-Qur’an, Tuhan memerintahkan manusia untuk memuji “Ulul al-Baab” yang berzikir dan berfikir tentang kejadian langit dan bumi serta pergantian waktu antara siang dan malam.[6]Bahkan selain itu, Tuhan juga telah memerintahkan manusia untuk memandang alam dan fenomenanya dengan pandangan nalar serta memikirkannya.
Ibnu Taimiyah pernah mengatakan bahwa, “Tidak adanya pengetahuan bukanlah berarti pengetahuan tentang sesuatu itu tidak ada” (‘adamu ‘Ilmi laysa ‘ilman bil ‘adami).Artinya bahwa, jika seseorang tidak mengetahui sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada. Pengetahuan seseorang yang semata-mata mengandalkan rasionalitas akhirnya akan mengkebiri dirinya sendiri, sehingga dengan sendirinya ia tidak akan memiliki perangkat untuk dapat menjangkau sesuatu yang “tidak nampak” atau gaib.
Berkaitan dengan hal itu, Muhammad Asad[7] berpendapat bahwa perkataan Arab “al-ghaib” sering diartikan secara salah sebagai “yang tidak nampak”. Padahal menurutnya, perkataan itu dalam Al-Qur’an dimaksudkan untuk menunjukkan kepada sektor-sektor atau tingkat-tingkat kenyataan yang berada di luar jangkauan persepsi manusia, dan karenanya tidak dapat dibuktikan benar tidaknya dengan pengalaman ilmiah, atau malah tidak dapat dicakup dalam kategori-kategori yang umum diterima dengan pemikiran spekulatif, seperti misalnya adanya Tuhan dan adanya maksud yang jelas di balik alam raya, kehidupan sesudah mati, hakikat sebenarnya dari waktu, adanya kekuatan-kekuatan rohani dan kegiatannya yang saling berhubungan, dan seterusnya.
Selanjutnya Muhammad Asad mengatakan bahwa hanya orang yang yakin tentang adanya hakikat mutlak yang berada amat jauh di luar lingkungan kita yang teramati, yang bakal mencapai keimanan kepada Tuhan, dan dengan begitu, keimanan bahwa hidup ini mempunyai makna dan tujuan. Akhirnya Asad menegaskan bahwa “dengan menyebutkannya sebagai petunjuk untuk mereka yang percaya kepada sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi manusia”, Al-Qur’an sebenarnya mengatakan bahwa dengan demikian Kitab Suci itu akan tetap merupakan buku tertutup untuk mereka yang hanya dapat menerima premis asasi tersebut.[8]
Sungguh merupakan hal yang sangat mengagumkan dan unik ketika Tuhan memperkenalkan diri-Nya sendiri, seperti yang diperkenalkan-Nya melalui kitab suci Al-Qur’an. Tuhan yang diperkenalkan Al-Qur’an bukanlah sebagai sesuatu yang bersifat materi. Jika demikian pastilah Tuhan berbentuk, dan jika Dia berbentuk maka Tuhan pasti terbatas dan akan membutuhkan tempat. Jika Tuhan terbatas dan membutuhkan tempat maka itulah yang menjadikan Dia bukan Tuhan, karena Tuhan tidak terbatas dan tidak pula membutuhkan sesuatu apapun.
Kata “Allah” dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 2697 kali, belum termasuk kata-kata semacam; wahid, ahad, al-Rabb, al-Ilah atau kalimat yang menafikan adanya sekutu bagi-Nya baik dalam perbuatan atau wewenang dalam menetapkan hukum, atau kewajaran beribadah kepada selain-Nya serta penegasan lain yang semuanya mengarah kepada penjelasan tauhid.[9]
Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan, dan hal tersebut merupakan fitrah bawaan manusia sejak asal kejadiannya.[10] Itu sebabnya Al-Qur’an memerintahkan jika ingin memahami dan mengenal-Nya,  maka pikirkanlah dan pahamilah sesuatu dibalik ciptaan-Nya, termasuk diri manusia sendiri.
Setidaknya ada dua metode  jalan mengenal Tuhan. Pertama, manusia mengenal diri kemanusiaannya sendiri, sebagaimana di dalam Al-Qur’an Allah menegaskan agar manusia memperhatikan dan memikirkan dirinya sendiri (QS. Al-Dzariyat [51]: 21). Kedua, manusia memikirkan cakrawala (pengetahuan tentang alam) dan diri manusia sendiri, sebagaimana Allah menegaskan dalam bunyi Firman-Nya, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di segenap penjuru jagat-raya (cakrawala) dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkah(bagi kamu) bahwasesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”(QS. Fushshilat [41]: 53).
Inilah cara yang terbaik yang dipilihkan Tuhan , yang merupakan  cara yang tepat bagi manusia yang ingin memahami dan mengenal-Nya. Sehingga Ali ibn Abi Thalib pun pernah menyatakan, “Barangsiapa mengenal dirinya maka sesungguhnya dia telah mengenal Tuhannya”.
Adapun kedua cara pendekatan dan pengenalan kepada Tuhan tersebut, banyak diceritakan di dalam Al-Qur’an. Misalnya, Allah memuji “Ulul al-Baab” yaitu orang-orang yang memperhatikan dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, atau silihbergantinya siang dan malam.[11] Kemudian Allah juga menyanjung orang-orang yang memikirkan jejak-jejak tindakan yang menunjukkan keberadaan wujud (eksistensi)-Nya. Adapun maksud Tuhan menyanjung dan memuji “Ulul al-baab”[12] yang memikirkan setiap wujud dan gerak alam, adalah Dia hendak mengatakan bahwa cara yang demikian itu sudah merupakan hal yang tepat sebagai sarana untuk berjalan mengenal dan memahami-Nya. Kemudian dengan fitrah bawaan berupa “akal” dan “nurani” yang diberikan oleh Allah kepada manusia itulah, manusia berjalan memahami dan mengenal-Nya.
Sebenarnya Tuhan dengan sendirinya telah menerangkan kepada manusia akan keberadaan-Nya berikut keesaan-Nya, tetapi mungkin kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Mengenai tanda (bukti-bukti) bahwa Tuhan telah menunjukkan keberadaan-Nya dan keesaan-Nya itu, menarik untuk disimak ungkapan yang dikemukakan Fakhruddin al-Razi (544–606 H), yang menerangkan dengan lima macam bukti:
1.      Pertama, Tuhan menunjukkan bukti keesaan-Nya dengan keberadaan diri mereka (manusia) sendiri, dengan Firman-Nya, “Sembahlah Tuhan kalian yang menciptakan kalian”.
2.      Kedua, dengan keberadaan orang-tua dan nenek-moyang mereka, seperti yang ditunjukkan oleh Firman-Nya, “dan orang-orang sebelum kalian”.
3.      Ketiga, dengan kondisi bumi, seperti yang ditunjukkan oleh Firman-Nya, “Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu”.
4.      Keempat, dengan kondisi langit, seperti yang ditunjukkan oleh Firman-Nya, “dan langit sebagai atap”.
5.      Kelima, dengan berbagai kondisi yang berkaitan dengan langit dan bumi, seperti yang ditunjukkan oleh Firman-Nya, “Dan Dia (Allah) menurunkan air hujan dari langit. Lalu dengan hujan tersebut Dia mengeluarkan segala macam buah sebagai rezeki untukmu”. Maka langit ibarat ayah dan bumi ibarat ibu, air hujan turun dari sulbi langit ke rahim bumi hingga melahirkan beragam macam tumbuh-tumbuhan.[13]
Ketika menyebutkan kelima bukti di atas maka Tuhan menyertainya dengan sebuah tuntutan, “Karena itu, janganlah membuat sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui”.[14]Semua bukti tadi menunjukkan keberadaan Sang Pencipta sekaligus mengukuhkan keesaan-Nya. Hal ini dipertegas lagi dengan Firman-Nya, “Seandainya di langit dan bumi ada tuhan-tuhan lain selain Allah, pasti keduanya akan hancur”.[15]
            Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah [2]: ayat 21–22 di atas, terdapat hal yang perlu dicermati, yaitu bahwa urutan yang  tepat dalam mengajar adalah dimulai dari yang paling mudah dan jelas, hingga meningkat ke bagian yang paling rumit dan samar. Disini Tuhan menjelaskan pembuktian terhadap kedirian manusia dahulu daripada yang lain. Manusia selalu mengalami perubahan dalam hidupnya, terkadang senang dan susah, gembira dan sengsara, sakit dan sehat, mengalami masa muda dan tua. Terjadinya peralihan dari satu kondisi ke kondisi lainnya itu tentu bukan keinginan pribadi manusia sendirinya.Seseorang akan sadar dengan hal tersebut bahwa pasti ada Zat Yang Mengatur, yang aturan-Nya mengalahkan aturan dan rencana manusia.
Dalam menafsirkan Al-Qur’an, Buya Hamka (1908–1981) pernah mengatakan, bahwa dalam Al-Qur’an lebih banyak dijumpai ayat-ayat yang memerintahkan untuk merenungi ciptaan-Nya ketimbang yang menguraikan persoalan peribadatan. Dari ungkapan tersebut Buya Hamka ingin mengatakan bahwa merenungi dan memahami sesuatu bentuk ciptaan Tuhan, jika benar-benar dilakukan dengan penuh penghayatan maka seseorang itu akan terhantarkan kepada Sang Penciptanya. Dengan demikian maka hasil perenungan tersebut dengan sendirinya tidak membutuhkan penjelasan karena sesungguhnya telah terang dan jelas bahwa hakikat esensi (wujud) Tuhan ada di balik setiap ciptaan-Nya.Barulah kemudian meyakini dan mengimaninya dengan sepenuh hati.Maka selanjutnya bagi siapa yang melakukan perenungan pada setiap ciptaan-Nya dapat dinilai sebagai kebajikan yang tidak lain adalah sebagai pelaksanaan dari pesan (ruh) ibadah itu sendiri.
Dari perenungan dan pemahaman terhadap setiap bentuk ciptaan Tuhan, maka dengan sendirinya manusia akan menemukan jejak-jejak Penciptanya. Itulah tauhid yang menjelaskan sejelas-jelasnya, hingga manusia itu dapat membedakan yang mana ciptaan (makhluk) dan yang mana Penciptanya (Khaliq). Dan upaya menuju ke tingkat pemahaman yang demikian merupakan suatu bentuk ibadah yang tak ternilai, karena menghantarkan pelakunya untuk berjumpa kepada Khaliqnya yaitu Raja dari segala raja, Raja Yang Maha Sucidari kekotoran sangkaan setiap hamba-Nya. Itulah hakikat pencarian dan perenungan seorang hamba yang dapat dinilai sebagai ibadah yaitu pengakuan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa sekaligus pengesaan kepada-Nya.
Dengan demikian, maka jelaslah makna dibalik penciptaan alam terdapat tanda (bukti-bukti) kekuasaan-Nya sekaligus yang mengukuhkan keesaan-Nya.Apabila manusia mau menyadarinya Tuhan pasti memberikan hikmah yang mendalam dan rahasia-rahasia tertentu dibalik penciptaan alam semesta ini. Sungguh Maha Suci, Zat Yang ilmu-Nya tidak terbatas dan hikmah-Nya tidak terhingga, yang telah memberikan pelajaran bagi seluruh bangsa manusia akan keagungan dan keesaan-Nya, cukup dengan menciptakan alam beserta seluruh isinya.
v  Tuhan Dalam Perspektif Sufi
Tuhan  dipersepsi dengan beraneka cara oleh manusia. Pada hakikatnya Tuhan sangat bergantung pada persepsi dan keyakinan masing-masing penganutnya.Cinta  manusia pada apa pun, haruslah merupakan jalan untuk mencintai dan mendapatkan cinta Allah. Karena itu, anak, istri, kekasih, jabatan, harta, baru bernilai ketika dapat menjadi jembatan untuk menjumpai sang Khalik.[16]
Dalam tradisi sufi, Tuhan digambarkan sebagai Sang Kekasih, yang kepada-Nya puncak cinta dan rindu manusia hendak ditambatkan. Lain lagi dengan tradisi filsafat yang menggambarkan Tuhan sebagai prinsip asal dari segala yang ada (Maujudat) dan Dia wajib adanya (Wajib al-wujud)[17]. Ada juga yang mengatakan bahwa Tuhan adalah sebab utama, cahaya, ataupun sebagai wujud murni.[18] Begitu juga ada yang menyebut Tuhan sebagai Supreme Intellect, Absolute Being, sumber segala Wujud, dan lain sebagainya, yang semua istilah itu memang merupakan konstruksi nalar dan untuk bisa memahami kandungan maksudnya memang memerlukan penalaran yang serius dan sistematis.[19]
Mengutip  perkataan al-Junayd, Ibn al-'Arabi berkata: "Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya" (Lawn al ma' lawn ina'ihi). Itulah sebabnya mengapa Tuhan melalui sebuah hadits qudsi berkata: "Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku" (Ana 'inda zhann 'abdi bi).[20] Tuhan disangka, bukan diketahui. Dengan kata lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya.
Jalaluddin Rumi mewakili para sufi mengatakan bahwa mengetahui Tuhan melalui pengabdian, bukan pemikiran; melalui cinta, bukan kata; melalui taqwa bukan hawa. Ia tidak ingin mendefinisikan Tuhan; ia ingin menyaksikan Tuhan. Dengan menggunakan intelek, ia yakin hanya akan mencapai pengetahuan yang dipenuhi keraguan dan kontroversi. Melalui mujahadah dan 'amal, kita dapat menyaksikan Tuhan dengan penuh keyakinan.[21]
Rumi menunjukkan bahwa dengan intelek kita tidak akan memperoleh pengetahuan tentang Tuhan. Intelek mempunyai kemampuan terbatas; dan karena itu, tidak akan mampu mencerap Tuhan yang tidak terbatas.[22] Sekiranya intelek mencoba memahami Tuhan, ia akan memberikan batasan kepada-Nya. Tuhan para pemikir adalah Tuhan yang didefinisikan, bukan Tuhan yang sesungguhnya.[23]
v  Syirik Merusak Keseimbangan Seluruh Alam 
Syirik atau mempersekutukan Tuhan merupakan salah satu perbuatan yang menjadi penyebab rusaknya dunia dan pranatanya, karena segala bentuk praktek penyembahan selain kepada Allah merupakan hal yang melawan konsep keseimbangan seluruh alam semesta.Demikian juga sebaliknya, setiap yang melawan prinsip keseimbangan seluruh alam semesta merupakan perbuatan syirik yang nyata.
Manusia diciptakan Tuhan terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Dalam pelaksanannya agar tidak mengalami kegoncangan baik fisik maupun mentalnya maka manusia harus mampu menyeimbangkan antara keduanya. Dalam menjalankan kehidupan ini, antara jasmani dan rohani haruslah sama-sama diperhatikan pemeliharaannya karena keduanya merupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Atas dasar itu maka dapatlah dikatakan bahwa jasmani dan rohani merupakan fitrah terbesar yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia, dan untuk mempertahankan keutuhan dan keharmonisan jasmani dan rohahinya setiap manusia harus menjaga fitrahnya itu.
Menyeimbangkan jasmani dan rohani merupakan pemeliharaan manusia terhadap fitrahnya sendiri, yang berarti manusia itu telah turut memberikan kontribusi terhadap aturan yang mengatur sistem keseimbangan jagad raya. Pemeliharaan terhadap fitrah itu,mengandung makna bahwa manusia telah menjaga hubungan batin atau rohaninya kepada Tuhan yang berarti manusia telah menyingkirkan salah satu bentuk kemusyrikan yang melekat pada kediriannya. Perhatikan bunyi Firman-Nya :
“Hampir saja langit terpecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu).{90}Karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.{91}.” (QS. Maryam [19]: 90–91).
“Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya itu telah binasa (hancur). Maka Maha Suci Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 22).

Jika demikian adanya, maka tauhid merupakan faktor terpeliharanya dunia, dan yang menjadi lawannya adalah syirik atau menyekutukan Tuhan.[24] Karena itu Allah melalui Nabi-Nya selalu memperingatkan agar manusia selalu menegakkan tauhid secara benar (sikap patuh dan tunduk hanya kepada Allah semata).Penegakan tauhid merupakan agenda utama setiap para Nabi dan Rasul.Kebenaran tauhidlah yang memerdekakan manusia dari segala bentuk kemusyrikan dan diskriminasi rasialisme.Melalui kebenaran tauhid yang hakiki itu, mengantarkan manusia untuk terlepas dari segala macam cengkraman kekuatan jahat yang mengancam jiwanya maupun merepotkan fisiknya.
KehadiranNabi dan Rasul adalah untuk meyerukan setiap kaumnya untuk beribadah hanya kepada Tuhanyaitu menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan antara jasmani maupun rohani, kemudianjuga yang seiring dengan ibadah adalah untuk melawan tirani (thaghut). Dengan singkat dan padat pesan kerasulan itu serta bagaimana manusia menyikapinya digambarkan dalam Firman-Nya sebagai berikut :
“Dan sungguh Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Hendaklah kalian semua hanya menyembah Allah (saja), dan jauhilah tirani (thaghut) itu", maka di antara mereka ada yang diberi petunjuk (hidayah) oleh Allah, dan di antara mereka ada yang sudah pasti mengalami kesesatan. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan kebenaran (Rasul-Rasul) dahulu itu”.(QS. Al-Nahl [16]: 36)
Menyingkirkan tirani thaghut yang membelokkan kita dari memelihara kefitrahan jasmani dan rohani merupakan tugas utama manusia di dunia ini. Apabila  antara jasmani dan rohani  berjalan sendiri-sendiri, ini  tidak sesuai sunnatullah yang dapat menyeret manusia ke dalam bentuk banyak kesalahan yang jika dikaitkan dengan konsep hukum keseimbangan alam raya merupakan kejahatan kosmis, yang berarti manusia telah terjatuh ke dalam kemusyrikan.
Apabila  tauhid atau pengesaan kepada Tuhan benar-benar telah tegak dan kokoh tertancap di bumi ini, maka akan mendatangkan rahmat dan karunia kepada penghuninya karena musibah terbesar yang menyerang manusia adalah melupakan asal usul dirinya dan lupa kepada Tuhan yang menciptakannya. Agar manusia tidak mengalami kepincangan dalam menjalankan kehidupan ini. Islam telah memberikan pandangan melalui ajarannya tentang konsep keseimbangan. Mari kita simak Firman-Nya yang berbunyi :
“Dan langit telah ditinggikan oleh-Nya, dan Dia (Allah) ciptakan keseimbangan.{7} Agar janganlah kamu merusak keseimbangan itu.{8} Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.{9}.”(QS. Ar-Rahman [55]: 7–9)
            Jika dipahami dari FirmanAllah yang mengaitkan prinsip keseimbangan itu dengan penciptaan langit, maka manusia pun tahu bahwa prinsip keseimbangan adalah hukum Allah untuk seluruh jagad raya, sehingga melanggar prinsip keseimbangan itu merupakan dosa kosmis, karena melanggar hukum yang menguasai jagad raya. Dan kalau manusia itu disebut “jagad kecil–mikrokosmos”, maka ia harus memelihara prinsip keseimbangan dalam dirinya sendiri, termasuk dalam urusan kehidupan spiritualnya demi terpeliharanya alam semesta beserta seluruh isinya.
            Apabila sistem keseimbangan alam itu sudah mengalami kegoncangan berarti manusia telah melanggar “sunnatullah” yang sebenarnya akan berakibat pada kediriannya sendiri, yaitu berupa hijab atau hilangnya kepekaan hatinya kepada alam semesta dan juga termasuk kepada Penciptanya yakni Allah Sang Pengatur jagad raya. Hal itu berarti secara sadar atau tidak, perbuatannya itu telah menyeretnya ke dalam kemusyrikan yang nyata.  Sebab  ulah tangannyalah segala makhluk yang hidup di jagad ini mengalami kegoncangan fisik dan jiwa untuk selalu bermesraan dengan Tuhannya. Karena hakikat jiwa alam adalah kerinduan yang amat mendalam untuk berkumpul kepada asalnya Yang Maha Kasih yaitu Sang Maha Pencipta. Dan semua makhluk hidup yang berada dipelukan bumi ini, tanpa terkecuali semuanya mempertahankan eksistensi keseimbangan yang merupakan baktinya kepada Tuhan.
            Dengan demikian jelaslah bahwa merusak sistem keseimbangan seluruh alam semesta merupakan dosa kosmis yang merupakan perbuatan syirik, dan syirik atau mempersekutukan Tuhan berarti merupakan penyebab rusaknya jagad raya.
            Mengapa syirik dapat dikatakan sebagai penyebab rusaknya dunia? Karena syirik juga merupakan perbuatan yang melawan sistem keseimbangan kehidupan pelakunya, yang menyimpang dari tujuan  sebenarnya yaitu menyembah satu-satunya Tuhan yang patut disembah, yakni Tuhan Yang Maha Esa, yang di antara bentuk penyembahannya dengan cara melakukan kebajikan kepada seluruh alam (ethical monotheisme).
            Kedudukan  manusia di dunia ini adalah sama, dan yang membedakan disisi Tuhan hanyalah takwanya yaitu sikap patuh dan tunduk kepada seluruh aturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan lingkungan dan alam sekitarnya, terlebih lagi hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Penciptanya.
            Apabila manusia dipandang sama di hadapan Tuhan maka implikasinya manusia harus memperlakukan dan diperlakukan secara adil. Pesan keadilan ini menduduki posisi yang penting di dalam Islam (ummahat al-Akhlaq).[25] Karena hakikat keadilan adalah objektif dan tidak berubah, sehingga ia merupakan sunnatullah, maka penegakan keadilan dipastikan akan mendatangkan kebaikan, bagi siapa pun yang melaksanakannya. Sebaliknya pelanggaran keadilan dan terjadinya kezaliman dalam masyarakat atau Negara akan mengakibatkan malapetaka dan kehancuran siapa pun yang melakukannya.[26]Keadilan dalam Al-Qur’an disebut sebagai bagian dari hukum kosmos yaitu hukum keseimbangan (al-mizan)[27] yang menjadi hukum kesemestaan alam raya.
            Pada sebuah tananan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, korupsi, kolusi untuk bermanipulasi merupakan tindakan ketidakadilan yang merugikan banyak orang. Perbuatan itu mengakibatkan terhambatnya pemerataan dalam kesejahteraan rakyat banyak, yang akhirnya membawa dampak kesengsaraan pada mereka. Sebuah tindakan yang menyebabkan kepincangan dalam sebuah tatanan kemasyarakatan juga merupakan pelanggaran terhadap hukum kosmis yaitu hukum ketetapan Tuhan tentang keseimbangan jagat raya ini.
Korupsi, dan segala bentuk kecurangan yang terjadi dalam sebuah sistem sosial itu, jika dipandang dari sudut tauhid tentu merupakan perbuatan syirik (mempersekutukan Tuhan), karena merupakan dosa kosmis terbesar, sebab perbuatan tersebut telah melanggar hukum keseimbangan yang telah ditetapkan Tuhan sebagai hukum kesemestaan alam.
Adapun dampak negatif dari kepincangan alam ini akan membawa malapetaka bagi siapa saja yang ada di dalamnya termasuk manusia. Perhatikan Firman-Nya:“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Lukman [31]: 13)
Jika tirani (thaghut) yang kita defenisikan pada awal pembahasan di atas adalah segala macam kekuatan jahat yang bercirikan membelenggu, merampas kemerdekaan manusia maka bentuk kejahatan yang merusak tatanan komunitas kehidupan bersama banyak orang adalah tirani yang harus disingkirkan. Karena keberadaan pelakunya baik secara langsung ataupun tidak, telah mengganggu dan mengusik kejiwaan spiritual setiap manusia yang berada dalam wadah bersama itu, untuk senantiasa berkasih-sayang antar sesamanya dan melakukan keintiman kepada Tuhannya.
Melihat realitas yang terjadi di negeri kita belakangan ini, serta merenungi betapa besarnya bahaya latin yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan konsep keseimbangan (keadilan, mizan) maka setiap Muslim kapan pun dan di mana pun wajib untuk menegakkan hukum keseimbangan kesemestaan alam itu. Kemudian memerangi bagi siapa saja yang melanggarnya, sebab, menegakkan hukum keseimbangan alam dan memerangi siapa yang melanggarnya juga merupakan bagian dari penegakan terhadap “amar ma’ruf nahi munkar”.
Dengan bertauhid yang benar manusia telah menjaga keseimbangan sistem hukum jagad raya ini, yang berarti menyelamatkan kehidupan dari banyak individu-individu termasuk manusia itu sendiri. Kemudian memberantas korupsi dan sekutunya sama halnya dengan mengusir segala bentuk kemusyrikan dan memerangi tirani (thaghut) di bumi yang kita cintai ini.
Jika kondisi alam semesta ini tidak pincang dan ekosistem dalam sebuah wadah kehidupan bersama tidak rusak dan berjalan sesuai sunnatullah maka segala kemudahan akan didapatkan dan rezeki pun akan turun melimpah ruah secara alamiah atas rahmat Sang Pencipta, yang senantiasa menurunkan kasih-sayang kepada setiap makhluk-Nya. Perhatikan Firman-Nya berbunyi :
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 96)
“Dan tidak satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud [11]: 6)

Apabila setiap komunitas masyarakat meluruskan keyakinannya kepada Tuhan, membentuk akidahnya secara mapan hanya kepada Allah, kemudian pengakuan kebertuhanan itu dibuktikan dengan ibadah atau pengabdian dalam bentuk tindakan yang nyata secara sosial, itulah yang dimaksud dengan iman dan takwa yang ditandai dengan sikap patuh dan tunduk serta mengakui hanya Allah satu-satunya Tuhan yang patut diyakini dan disembah.
Ketika keyakinan kebertuhanan dan diiringi dengan bentuk perbuatan sosial maka kita akan mendapatkan curahan rahmat-Nya yang tiada terkira, bukan hanya kepada pribadi individu tetapi juga terhadap komunitas kelompok masyarakat semuanya, karena tiada satu makhluk pun yang tidak dijamin oleh Allah hak hidupnya termasuk dalam urusan rezekinya. Rahmat Allah itu datang bisa saja dalam bentuk-bentuk, kemudahan dalam kesulitan, pemerataan dalam kesejahteraan, kemakmuran dalam berkeadilan, dan rasa aman sat berada di dalam komunitasnya.
Allah akan mencurahkan segala rahmat dan karunia-Nya yang tiada terhingga dan terus berkesinambungan apabila hamba-Nya terbebas dari kemusyrikan dan tidak ada penindasan manusia atas manusia lainnya. Jadi kita memiliki barometer untuk dapat mengetahui seberapa besar kelebihan dan seberapa besar pula kekurangan di antara kita, dan atas dasar itu kita semua hendaknya merenungi serta menginsafi seluruh apa yang sudah pernah kita perbuat.
            Kita semua tanpa terkecuali memiliki nurani yang sama yaitu sama-sama bertuhan, dan memiliki tujuan hidup yang sama guna mencapai kebahagiaan hakiki yaitu “dari Allah kita berasal dan kepada-Nya kita akan kembali” yang selanjutnya kita semua harus menginsafi bahwa seluruh perbuatan kita selaku manusia pasti akan dimintai pertanggungajawaban dari apa yang sudah kita lakukan.

2. Hakikat Tujuan Penciptaan Manusia
            Allah tidaklah menciptakan sesuatu kecuali memiliki maksud dan tujuan khusus, begitupula dengan penciptaan manusia yang tidak diciptakan sia-sia, yang kelak semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.Firman Allah Swt. berbunyi : “Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”(QS. Al-Mu’minun [23] : 115)
            Mengetahui dan memahami dengan benar tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah sebagai salah satu upaya dalam membangun keterhubungan dengan Allah. Berdasarkan beberapa surah di dalam Al-Qur’an        , hakikat tujuan penciptaan manusia itu adalah sebagai berikut :
v  Manusia Sebagai Hamba Allah
            Sebagai hamba Allah, manusia diwajibkan beribadah kepada Allah, dalam arti selalu tunduk dan taat atas perintah-Nya guna mengesakan dan mengenal-Nya sesuai dengan petunjuk syariat yang telah diberikan-Nya.Firman Allah Swt. dalam surah Adz-Dzariyatayat 56 :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. [51] : 56)
            Ibadah mengandung dua pengertian, pertama, ibadah dalam pengertian khusus, yaitu  melaksanakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara hamba dan Tuhannya yang tata caranya telah diatur secara terperinci di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kedua, ibadah dalam pengertian luas, yaitu aktivitas yang titik tolaknya ikhlas dan ditujukan untuk mencapai ridha Allah berupa amal sholeh. Dari segi sasarannya, ibadah dapat diklasifikasikan atas tiga macam, yaitu ibadah personal, ibadah antar personal dan ibadah sosial.
v  Manusia Sebagai Khalifatullah
            Manusia adalah wakil Allah di muka bumi, yang menjadikan manusia berkuasa di bumi, yang bertanggungjawab atas kenyataan dan kehidupan di dunia sebagai pengemban amanah Allah. Perhatikan Firman Allah Swt. berikut :
·       “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(QS. Al-Baqarah [2] : 30)
·      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”(QS. Shaad [38] : 26)
·      “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[28]  kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.”(QS. Al-Ahzab [33] : 72)
v  Manusia Sebagai Warosatul Anbiya’
            Dalam melakukan misi sebagai warosatul anbiya’, perlu bertolak pada prinsip-prinsip kerasulan, yakni amar ma’ruf – nahi mungkar dan menyebarkan misi Iman, Islam dan Ihsan dengan menjadikan prinsip tauhid sebagai inti pendakwahan. Setiap pribadi adalah pendakwah bagi dirinya sendiri serta bagi orang lain.
            Nabi Muhammad Saw. diutus ke bumi adalah mengemban misi “rahmatan lil alamin”, yakni misi yang mengajak dan membawa manusia untuk tunduk dan taat pada syariat-syariat dan hukum Allah Swt.agar tercapai kesejahteraan, kedamaian, dan keselamatan dunia akhirat. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’[21] : 107)
                Misi itu disempurnakan dengan pembentukan pribadi yang Islami, yaitu kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal sholeh, serta bermoral tinggi dengan berpijak pada trilogi hubungan manusia, yaitu :
1.      Hubungan dengan Tuhan, karena manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
2.      Hubungan dengan masyarakat, karena manusia sebagai anggota masyarakat.
3.      Hubungan dengan alam, karena manusia sebagai pengelola, pengatur, serta pemanfaatan kegunaan alam.
v  Tujuan Penciptaan Manusia di Dunia Adalah Sebagai “Ujian”
            Allah Swt. berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[29] yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insaan [76] : 2-3)
            Allah telah menciptakan manusia dari setetes mani dan menghimpunnya menjadi sesosok manusia dan menganugerahinya kelebihan berupa akal (fikiran) dan nafsu untuk memberi mereka ujian yang sesungguhnya di dunia ini. Adapun kedudukan manusia setelah menempuh ujian ini ada dua macam, dia dapat menjadi pribadi yang selalu bersyukur atau justru menjadi seorang yang kufur, dan masing-masing diantara keduanya akan mendapat balasan atas pilihan mereka.

3. Mengenal dan Memahami Potensi DimensiRuhaniah Manusia
Allah itu wujudnya tidak kasat mata, namun keberadaan dan kehadiran-Nya bisa dirasakan, nilai-nilai Keagungan dan Kekuasaan-Nya bisa diketahui dengan jelas. Oleh karena Dia bersifat “ruhani”, maka yang dapat mendekatkan diri dengan-Nya adalah “ruh”(nafs/jiwa ruhani) manusia bukan jasadnya.  Allah itu Maha Suci, maka yang dapat mendekat dan diterima Allah adalah orang-orang yang ruh (nafs/jiwa ruhani)nya suci pula.Siapa yang tidak ingin dekat, mesra dan mendapatkan perhatian kasih sayang Sang Maha Agung, Yang Menguasai dan Yang Mengatur “ritme nafas kehidupan” seluruh alam beserta isinya? Semua yang ada di langit dan di bumi dalam genggaman-Nya.
Manusia merupakan makhluk Allah yang paling baik atau paling sempurna penciptaannya.Manusia memiliki dimensi basyariah (jasad, hayat atau nyawa, syahwat, hawa) dan dimensi ruhaniah (ruh, nafs, qalb, ‘aql, lubb, bashirah, fu’ad, fithrah).
Berkenaan dengan media untuk mengenal Allah sebagaimana yang dipahami para Sufi, menarik mencermati pernyataan Abdul Karim Al-Qusyairi, yang menyebutkan, ada tiga media dalam diri manusia yang dapat digunakan untuk mengenal dan dekat dengan Allah, yakni qalb (kalbu/hati nurani), ruh (roh) dan sirr (rahasia, yakni bagian paling dalam dari qalb). Qalb berfungsi untuk mengetahui sifat-sifat Allah, ruh untuk mencintai Allah, dan sirr untuk mengenal Allah. Sirr inilah yang dapat menerima illuminasi (pancaran cahaya) Ilahi, ketika ia telah disucikan dari berbagai kotoran. Dari ketiga media tersebut, menurut al-Ghazali, sirr adalah daya yang paling peka dalam qalbu manusia. Daya ini akan terlihat semakin nyata setelah seseorang mensucikan qalbunya sesuci-sucinya.
Lebih jelas di dalam Ihya ‘Ulumu al-Din, al-Ghazali mengatakan : Adapun alat untuk mencapai penghayatan ma’rifat (merasakan kedekatan dengan Allah/mengenal Allah) adalah Qalb (hati) bukannya anggota badan yang lain. Hati itu lah yang mengetahui tentang Allah dan dia pula yang akan mendekat, berusaha dan berjuang untuk membuka tabir dalam rangka meghayati alam ghaib. Sedangkan anggota badan adalah khadamnya atau alat yang digunakan oleh hati, ibarat sang raja memerintah pada hamba atau khadamnya atau ibarat gembala menghalau yang digembalakannya...maka hati akan diterima oleh Allah apabila bersih dari segala sesuatu selain Allah. Hatilah yang disuruh mencari Tuhan dan hati pula yang akan diperintah beribadah kepada Tuhan. Hati yang akan berjuang mendekat kepada Allah, maka berbahagialah bila hatinya bersih, dan kebalikannya tidak akan sampai hati kepada Allah jika hatinya kotor dan sesat. Sesungguhnya hatilah yang akan taat kepada Allah, sedangkan anggota badan yang melakukan gerakan ibadah hanyalah pancaran hati...dia itu adalah qalbu, bila manusia mengenalnya, pasti kenal akan dirinya sendiri, dan bila kenal akan dirinya pasti kenal akan Tuhannya. Sebaliknya, jika manusia tidak mengenal qalbunya, maka ia tidak akan mengenal dirinya, dan jika tidak mengenal dirinya, maka ia tidak akan mengenal Tuhannya.
Unsur-unsur dalam dimensi ruhaniah manusia memiliki fungsi-fungsinya tersendiri, potensi kecenderungan yang bersifat positif maupun negatif, dan saling berinteraksi satu dengan lainnya yang akan membentuk jiwa kepribadian dan tingkah laku manusia seutuhnya. Baik buruknya ketaqwaan maupun akhlak seorang manusia sebenarnya adalah akibat dari dinamika kehidupan sistem dimensi ruhaniahnya, oleh karena itu perlu adanya pengetahuan dan pemahaman tentang unsur-unsur dimensi ruhani manusia tersebut agar kita dapat menetralisir potensi negatif dari setiap unsur yang dapat menghalangi jalinan keterhubungan dengan Allah, serta menumbuhkembangkan potensi positifnya agar Nur Ilahi terhias dalam diri dan sikap kita.

3.1. Pengertian dan Hakikat Nafs
            Di dalam Al-Qur’an, kata al-nafs disebut Allah dalam berbagai bentuk kata jadian seperti nafs, anfus, tanaffasa, yatanaffasu dan mutanaffisun. Melalui tafsir mawdhu’i yang dilakukan para peneliti, setidaknya kata nafs dalam Al-Qur’an bermakna : Pertama, al- nafs sebagai totalitas manusia (jasmani dan rohani, sisi luar dan sisi dalam); Kedua, al-nafs sebagai sisi dalam manusia. Al-nafs sebagai sisi luar maksudnya adalah sisi kemanusiaan yang tampak dengan jelas. Sedangkan al-nafs sebagai sisi dalamnya adalah sisi yang tidak tampak oleh kacamata biasa manusia, namun dapat berfungsi sebagai penggerak tingkah laku manusia yang membuatnya mampu melakukan perubahan-perubahan dalam kehidupan. Dengan kata lain al-nafs sebenarnya adalah unsur-unsur yang menggerakkan tingkah laku manusia.
            Nafs atau jiwa atau soul, adalah sebuah entitas lain dari diri manusia sebagai jasad, dimana ia berasal dari alam malakut yang terbuat dari elemen cahaya, sangat khas dan tak terinderai oleh mata lahiriyah kita, sebagaimana Allah telah menciptakan malaikat dari elemen yang sama.Nafs (jiwa) merupakan suatu barzakh(intermediary) antara jasad dan ruh. Jiwa tersusun dari unsur cahaya Ilahiyah; ia memiliki sistem kehidupan tersendiri yang terpisah dari jasad. Jiwa memperoleh energinya dari ruh.
            Jiwa merupakan hakikat kemanusiaan seseorang, jiwa lah yang membuatmanusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Jiwa lah yang menjadi sasaran pendidikan Ilahi. Didalam jiwa ditempatkan ruh; keduanya ditempatkan dalam jasad. Alam jiwa disebut juga alam mitsal. Jadi, selama perjalanannya di bumi, jiwa (nafs) menggunakan kendaraan jasad. Diberikannya perangkat jasad kepada jiwa dimaksudkan agar jiwa dapat mengambil bagian dalam pendidikan Ilahiyah yang ditebarkan di bumi. Di bumi ini pula ia diseru untuk melaksanakan maksud dari penciptaannya.



v Tabiat, Sifat dan Karakter Nafs (Jiwa)
            Kalangan Sufi menaruh perhatian penting pada persoalan jiwa. Mereka berbicara banyak hal tentang jiwa. Jika filosof banyak berbicara tentang eksistensi jiwa yang menjadi unsur dari diri manusia, maka kaum sufi lebih banyak berbicara tabiat, karakter dan aktifitas jiwa manusia yang lebih bersifat praktis.
            Menurut pandangan Sufi, bekal utama yang harus diketahui oleh setiap orang yang ingin menuju Tuhannya yaitu ia harus memiliki pengetahuan tentang bahaya nafs-nya (jiwa), mengenalnya, melatihnya dan mendidik akhlaknya. Karena itu, perhatian sufi terhadap jiwa tersebut (ma’rifatun nafs) adalah dengan mengetahui tabiat, karakter, jenis jiwa dan aktifitasnya, merupakan salah satu tangga mengenal Allah.
            Bagi kaum Sufi, jiwa adalah musuh yang paling berbahaya bagi manusia yang ada pada dua sisi badan. Oleh karena itu, semestinyalah musuh tersebut diatasi dengan cara diikat dengan “rantai-rantai yang tangguh” supaya tidak liar dan tidak banyak melakukan kekeliruan atau kesalahan. Al-Hakim at-Tirmidzi menggambarkan bahwa jiwa merupakan tunggangan para syaitandalam menggoda manusia. Unsur esensial yang ada pada jiwa adalah udara panas semacam asap berwarna hitam yang buruk karakternya. Pada dasarnya jiwa memiliki sifat cahaya. Jiwa bertambah baik dengan Taufiq Allah, interaksi yang baik, dan rendah hati. Jiwa bisa bertambah baik dengan cara seseorang menentang hawa nafsunya (al-hawa) dan syahwatnya, tidak menghiraukan ajakannya, serta melatihnya dengan lapar dan amalan-amalan berat.
            Jiwa sering melakukan tipuan terhadap manusia. Hakim At-Tirmidzi menjelaskan bahwa tabiat jiwa kepada pemiliknyasuka memoles kebatilan seolah-olah kebenaran, dan menjadikan buta dari kebenaran. Diantara contoh tipuan jiwa misalkan dalam shalat. Jiwa menipu seseorang dengan menyuruhnya untuk menaruh perhatian pada shalat sunnat, tapi diri mereka lalai dalam melakukan shalat fardhu. Al-Hakim At-Tirmidzi berkata : “Orang tertipu (oleh jiwa) jika berdiri untuk shalat, dirinya lupa menjaga hatinya bersama Allah, lupa terhadap apa yang ada di hadapannya, dan lupa menjaga anggota badannya. Dengan demikian, dia tidak termasuk orang yang menghadap untuk shalat. Gangguan-gangguan yang dibisikkan jiwa menjadikan dirinya lalai memelihara hati, lalai memelihara ayat-ayat yang dibacanya dan lalai memahami apa yang sedang dibacanya. Sebab, secara total ia melupakan semuanya. Setelah selesai melakukan shalat, dia pergi dalam keadaan tenang hati karena sudah melakukan shalat malam, shalat dhuha, dan shalat-shalat lainnya. Orang-orang ini benar-benar tertipu, sebab dia telah menyia-nyiakan yang fardhu dan mengunggulkan yang sunnat. Kemudian seraya ia memuji-muji jiwanya karena telah melakukan amalan sunnat tersebut.”
            Selanjutnya, al-Muhasibi juga menjelaskan bagaimana jiwa itu melakukan tipuannya. Beliau berkata : “Terkadang suatu saat seorang manusia sedang melakukan suatu amal atau sudah berniat melakukannya. Tapi, jiwa kemudian memprovokasi untuk memutuskan atau membatalkannya, karena ada syahwat maksiat yang ditawarkannya.”Sebagai contoh, ada seseorang yang sedang melakukan zikir lisan, atau dia telah niat untuk tidak banyak bicara demi mencari selamat. Tapi, tiba-tiba muncul tawaran untuk menggunjing orang yang sangat dibenci, atau menggunjing perkara yang menakjubkan darinya atau menakjubkan orang lain, maka orang tersebut keluar dari taat menuju maksiat.
            Secara umum, Al-Qur’an menyebut secara langsung tiga bentuk sifat (karakter) dari nafs (jiwa), yaitu :
1.     Nafs al-ammarah bis-su’ (jiwa yang selalu menyuruh pada kejahatan).
                              Bentuk jiwa ini digambarkan Allah dalam Firman-Nya : “...Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf [12] : 53)
      Jiwa golongan ini adalah bentuk jiwa terendah, jiwa yang telah dikuasai hawa nafsu dan syaitan dan bahkan orang yang memiliki kondisi jiwa seperti ini hampir sama kondisinya seperti syaitan yang juga selalu mengajak manusia kepada kesesatan.
                        Orang yang jiwanya dalam kondisi ini juga seharusnya menyadari dirinya dan bertaubat pada Allah serta membersihkan hatinya dari segala kotoran dengan memaksanya berbuat baik dan meninggalkan segala macam bentuk kejahatan, sebab jika tidak jiwa ini juga akan selalu menjadi perusak karena sifatnya yang selalu condong pada kejahatan.
2.     Nafs al-lawwamah (jiwa yang selalu mencela dirinya).
            Jiwa bentuk ini adalah karakteristik jiwa yang selalu mencela dirinya apabila ia berbuat kesalahan. Jiwa ini selalu menyesali keadaan dirinya yang sulit terlepas dari dosa dan kesalahan. Ia selalu mengakui kebesaran Allah, menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan dan ia mencela dirinya karena selalu mengikuti kata-kata syaitan dan hawa nafsunya.
            Kondisi jiwa seperti ini adalah kondisi perang intern dalam jiwa antara kebaikan dan kejahatan, antara syaitan dan hawa melawan Ruh dan Qalb, antara kebenaran dan kebatilan, antara apa yang diinginkan (disukai) Tuhan dan yang dibenci-Nya. Jiwa seperti ini juga belum stabil, masih selalu mengalami kegoncangan dan kegelisahan, kesedihan dan penyesalan serta pengakuan.Tentang jiwa ini Allah berfirman : “Aku (Allah) bersumpah dengan jiwa lawwamah (jiwa yang selalu mencela dirinya sendiri).”  (QS. Al-Qiyamah [75] : 2)
            Dengan demikian, dalam jiwa ini terdapat kebaikan, yaitu pengakuan akan kelemahan diri, kekuasaan Allah, penyesalan, dan kesadaran bahwa dia bersalah; dan juga terdapat jenis keburukan, yaitu kejahatan yang dilakukannya dengan sadar dan sengaja karena mengikuti kehendak hawa nafsu dan syaitan.
                        Jiwa inilah yang berada pada bentuk pertengahan. Jika kekuatan ruhaninya lebih besar dari hawa nafsunya maka ia mampu terlepas dari kejahatan, dan jika suatu saat kekuatan ruhaninya lebih lemah dari dorongan hawa nafsunya maka jatuhlah ia ke dalam lembah dosa dan kehinaan.
3.     Nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang atau stabil)
            Jiwa bentuk ketiga ini adalah jiwa yang telah mampu menundukkan kekuatan hawa nafsunya, mampu menetralkannya ketika dorongan hawa nafsunya menggejolak, mampu mengalahkan kekuatan syaitan, stabil dan selalu menetapi kebaikan dan tidak mudah goncang dalam kondisi apapun dan dimanapun.
            Jiwa ini juga selalu bersabar dalam melakukan kebaikan, menghadapi cobaan dan senantiasa bersyukur dari kebaikan dan nikmat yang diberikan Allah Swt.Kondisi jiwa ini juga dapat digambarkan seperti kondisi jiwa yang menjadikan Ruh dan Qalb nya sebagai raja yang selalu dapat menundukkan hawa nafsunya dan senantiasa merasa bersama Allah Swt.
            Kondisi jiwa ini juga terkadang sampai pada maqam tertingginya, yaitu ketika keinginannya bersatu atau senada dengan keinginan Allah, segala doanya langsung diterima dan diwujudkan Allah segera, kata-katanya selalu benar bagaikan firman Allah. Sulit untuk digambarkan bagaimana rasa dan keadaannya, kondisi ini hanya dapat dan harus dirasakan saja, dan lisan selalu kalah dalam menjelaskannya. Inilah yang dikatakan para Sufi sebagai jiwa yang telah mencapai tingkat “Ma’rifah” (pengenalan yang sempurna terhadap Allah) menurut al-Ghazali, atau tingkat “Mahabbah” (rasa cinta yang dalam pada Allah Swt.) menurut Rabi’ah Adawiyah.
            Inilah bentuk jiwa yang akan dipanggil-Nya dengan penuh kemesraan nantinya, inilah kondisi jiwa yang kita inginkan pada saat kita kembali ke hadirat-Nya : “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku.”(QS. Al-Fajr [89]: 27 – 30)
            Karakter ketiga jiwa tersebut, menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, berada dalam satu jiwa dan menyebar dalam sifat jiwa manusia. Namun sebagian menganggap bahwa kecenderungan kepada keburukan itu adalah tabiatnya jiwa, sedangkan kecenderungan kepada kebaikan itu adalah tabiatnya ruh. Terkadang dalam hal ini terjadi benturan antar kecenderungan. Jika kecenderungan kepada kebaikan menang, maka ruh berada dalam kemenangan, serta Taufiq dan dukungan Allah teraih oleh manusia, sebaliknya jika kecenderungan keburukan menang, maka jiwa dalam kemenangan, serta syaitan dan penghinaan Allah mengena pada orang yang dikehendaki oleh-Nya untuk hina. Disini terlihat perbedaan antara ruh dan jiwa. Ruh adalah ladang kebaikan, sebab ia sumber rahmat. Sedangkan jiwa dan jasad adalah ladang keburukan, sebab ia sumber syahwat. Watak ruh adalah berkehendak pada kebaikan, sedangkan watak jiwa berkehendak kepada keburukan dan hawa. Kebiasaan ruh adalah ketaatan, sedangkan kebiasaan jiwa adalah syahwat dan kesenangan duniawi.    
            Pada mulanya jiwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah dan suci, bebas dari segala kekotoran dan kejahatan, tetapi setelah ruh bersemayam di dalam jasad maka ia memiliki energi, ia berinteraksi dengan sub sistem lainnya dalam dimensi ruhani manusia, ia dihadapkan dengan hawa nafsu beserta tentaranya syaitan yang selalu mengajak pada kejahatan. Sayangnya ruh sebagai energi bagi jiwa ternyata juga makhluk yang lemah, yang tidak punya banyak nyali untuk tetap bertahan dengan ketaatan pada-Nya sehingga ia harus tenggelam dalam lautan noda dan dosa, kecuali ruhnya orang-orang yang benar sholeh dan selalu membersihkan jiwanya.
            Kecenderungan jiwa yang destruktif menyebabkan syaitan berusaha mempengaruhinya dengan memanfaatkan syahwat dan hawa nafsu yang juga diciptakan Allah dalam dimensi ruhani manusia. Jika jiwa kalah terhadap serangan ini maka karakter negatifnyalah yang dominan menguasainya, dan karakter inilah yang akan mengisi wadah Qalb (hati) manusia. Akibatnya Qalb ditutupi oleh noda-noda hitam, sifat-sifat yang buruk,  menjadi “berpenyakit”, sehingga terhijab oleh Allah. Sebaliknya, jika jiwa tangguh berperang mengalahkan syaitan, mengendalikan syahwat dan hawa nafsu maka karakter positif dari jiwa lah yang lebih dominan berkuasa dan mengisi wadah Qalb, sehingga jadilah manusia itu sebagai pribadi-pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Qalb-nya yang bersih dari noda-noda hitam akan memperkuat jalinan ikatan keterhubungan manusia dengan Allah, Rahmat Allah pun akan selalu menyertainya. Nafs sangat berpotensi menguasai hati manusia
            Baik para sufi maupun filosof muslim – yang memiliki perbedaan dalam mengkaji persoalan jiwa sebenarnya memiliki titik temu yaitu bahwa jiwa merupakan unsur yang tidak tampak yang menggerakkan jasad manusia, ia berasal dari Allah yang semestinya harus selalu dijaga dan dibimbing dengan cahaya kebaikan agar senantiasa berada dalam kondisi yang bersih(fithrah).

3.2. Ruh (tunggal = ruh, jamak = arwah)
            Ruh tersusun dari unsur cahaya yang paling murni dan paling tinggi kedudukannya dalam keseluruhan aspek manusia. Yang dihembuskan kepada manusia setelah disiapkan segala sesuatunya. Ruh memberikan kehidupan kepada jasad – tanpa ruh jasad segera terurai kembali menjadi unsur-unsur bumi pembentuknya. Ruh merupakan sumber energi bagi nafs. Apabila cahaya ruh tidak mencapai nafs maka nafs tersebut, sekalipun dia tetap hidup, akan tetapi dia tidak memiliki energi atau lumpuh.
             Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah [32] : 9)
            Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya".(QS. Shaad [38] : 72)

3.3. al-‘aql (dibedakan dengan nalar atau akal jasad)
                Ia merupakan unsur partikular dari Qalb, merupakan perangkat untuk mendapatkan dan memahami al-‘ilm – yakni ilmu ketuhanan, yang didapatkan dengan hakikat penghambaan. Jadi, ilmu ini dibedakan dengan ilmu biasa yang kita kenal sehari-hari, yaitu yang ditangkap oleh nalar dan didapatkan dengan jalan pengkajian.    
            Imam al-Ghazali berpendapat dari ayat di atas bahwa Ilmu itu bukan di otak, tapi di dalam qalb, penglihatan itu bukan pada mata, tapi di dalam qalb(bashirah), pendengaran itu bukan pada telinga, tapi di dalam qalb, pembicaraan itu bukan pada mulut, tapi di jantung qalb haqiqatun. Otak, mata, telinga, mulut, kaki, itu hanyalah peralatan yang berupa raga, yang dikendalikan oleh ‘aql dan nafs yang terletak dalam jantung qalb yang dapat hidup karena ada ruh.

3.4. al-Qalb(Qalbu, kalbu, hati-nurani)
            Imam al-Ghazali menjelaskan adanya dua pengertian tentang Qalb. Pertama, qalb dalam pengertian kasar, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak di dada sebelah kiri yang di dalamnya terdapat rongga-rongga dan disebut dengan jantung. Kedua, qalb dalam pengertian yang halus, yang bersifat ruhaniyah yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap pengertian, pengetahuan dan kearifan.
            Qalb adalah barzakh bagi ruh, nafs dan jasad. Qalb dan nafs ibarat kaca dengan rasahnya. Apabila qalb kotor maka tidak berfungsilah nafs sebagai cermin. Dan dengan qalbu yang bersih maka ia dapat memantulkan ruh (zat) dari Allah. Maka jadilah ia citra/pencerminan dari Allah.
            Qalb merupakan unsur partikular dari al-nafs tempat dikendalikannya seluruh elemen yang lain. Di dalam diri manusia, tepatnya pada perangkat qalb-nya, bertemu tiga alam yang berbeda, jismaniyah, mitsal dan arwah (ruh), atau disebut juga tiga martabat kauniyyah.
            Adalah menarik untuk mencermati penjelasan Al-Qur’an yang menempatkan qalbu dengan fungsinya untuk memahami realitas dan nilai-nilai seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 46 : “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
            Selanjutnya Firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-A’raaf ayat 179 : “Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”
            Dua ayat di atas cukup jelas menerangkan bahwa qalb memiliki fungsi untuk menalar dan memahami realitas empirik dan nilai-nilai yang jika qalb tidak dapat menjalankan fungsi-fungsi ini, maka sisi kemanusiaan seseorang itu akan hilang dan ia tak obahnya seperti binatang. Dapat juga dikatakan, melalui ayat di atas, ternyata qalb dapat memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu. Dari potensi inilah, maka yang harus dipertanggungjawabkan manusia kepada Tuhannya adalah apa yang disadari oleh qalb. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 225 : “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
            Tidak kalah menariknya, Al-Qur’an memposisikan al-qalb menjadi wadah untuk berbagai hal kebaikan ataupun keburukan.  Di dalam qalb dapat bersemai kedamaian, cinta dan kasih sayang, keberanian, kebaikan, iman, getaran-getaran ketika mendengarkan Al-Qur’an.[30] Pada lain sisi, qalb juga menjadi wadah bagi sifat buruk manusia atau tempat berdiamnya penyakit-penyakit hati seperti dengki, kufur, kesesatan, panas hati, keraguan, kemunafikan dan kesombongan.[31]
            Dengan demikian mendidik qalbu, membersihkan dan meningkatkan kualitasnya mutlak penting. Karena bagaimanapun juga, jika qalbunya baik maka akan melahirkan kualitas diri yang baik pula. Di dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. menceritakan, bahwa “di dalam diri manusia ada segumpal darah (mudghah), jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Tetapi jika buruk, maka rusaklah jasadnya. Ketahuilah itulah yang disebut dengan Qalb.” Kendatipun kata qalbu disini bisa dipahami dengan makna jantung (fisik), akan tetapi yang dikehendaki oleh hadis tersebut adalah qalbu dalam makna non-fisik (ruhani).
            Penting dicatat bahwa qalbu ruhaniah itu bukanlah sesuatu yang kosong ketika diberikan Allah kepada manusia, melainkan di dalamnya ada potensi-potensi ruhaniah yang sangat dahsyat sekaligus menentukan nilai kemanusiaan seseorang. Di dalam qalbu ada potensi ruhaniah seperti kesadaran, perasaan, ingatan, kecerdasan, iman dan kemauan. Setidaknya di dalam Al-Qur’an ada enam fungsi qalbu, yaitu : 1). Memikirkan sesuatu[32]; 2). Memahami[33]; 3). Mengobservasi[34]; 4). Mengimani[35]; 5). Merasa[36];                   6). Merenungkan/zikir[37].
            Berangkat dari fungsi tersebut dan kandungan wadah qalb, nyatalah betapa qalbu itu memiliki potensi yang sangat strategis dalam struktur kedirian manusia. Sebagai anugerah yang sangat besar diberikan Allah Swt., qalbu yang ada pada manusia sejatinya harus dipelihara dengan baik. Demikian juga dengan potensi-potensi yang dimilikinya harus diaktualkan. Hal ini penting karena qalbu tidak saja memiliki kemampuan untuk merasa, menyadari, tetapi lebih dari itu qalbu juga berfungsi sebagai alat penghubung untuk selalu dekat dengan Allah Swt. Qalbu adalah sarana yang paling efektif untuk berhubungan secara langsung kepada Allah, qalbu merupakan sarana untuk taqarrub kepada Allah. Bahkan lebih dari itu, qalbu adalah satu-satunya media untuk mengenal Allah (ma’rifatullah).
            Tentu saja untuk dapat taqarrub kepada Allah manusia harus terlebih dahulu membersihkan qalbunya. Qalbu yang bermasalah, seperti qalbu yang berkarat karena sifat-sifat buruk, sampai qalbu yang sama sekali buta, tentu tidak akan berhasil menjalankan fungsinya untuk menjadi penghubung diri dengan Allah Swt.
            Qalb yang bersih merupakan alat untuk menangkap isyarat-isyarat dan petunjuk-petunjuk Allah. “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada qalb-nya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghaabun [64] : 11)
            Qalb yang dibersihkan Allah dengan cahaya iman, maka terbebaslah ia dari segala sesuatu selain Allah. Menyalalah Ruh Al Qudus di dalamnya. Ia menjadi Baitullah (rumah Allah). Dan ketahuilah bahwa Baitullah adalah masjid, dimana sesulit-sulit mendirikan masjid adalah masjid di dalam qalbu.
            Qalb dapat bersih apabila Allah memberikan Rahmat-Nya dengan mencurahkan cahaya iman untuk membersihkannya. Dengan cahaya iman yang memancar di qalbu itulah Allah mengeluarkan seseorang dari gelap gulita kepada terang benderang. Dari kejahilan tentang Allah menjadi ma’rifatullah. Dari ketidaktahuan tentang pelik-pelik dan hakikat-hakikat agama menjadi pemahaman dan keyakinan. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki :“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[38], yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[39], yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nuur [24]:35).
                “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila Dia mengeluarkan tangannya, Tiadalah Dia dapat melihatnya, (dan) Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah Tiadalah Dia mempunyai cahaya sedikitpun.”(QS. An-Nuur [24] : 40.
v QalbSebagai Singgasana Sang Raja
            Qalb itu ibarat singgasana Sang Raja. Unsur diri mana saja yang tengah berhasil menduduki qalb akan berkedudukan sebagai Raja dan memperlakukan unsur-unsur lainnya sebagai bala tentaranya. Jika shaleh Sang Raja tersebut, maka shaleh pula bala tentaranya, sedangkan bila Rajanya fasad (rusak) maka fasad pula bala tentaranya.
            Sesungguhnya di dalam diri manusia itu terjadi peperangan perebutan singgasana Qalb, antara al-nafs (yakni, al-muthmainnah) dan al-hawa (hawa-nafsu) serta syahwat. Nafs (al-muthmainnah) nya kalah, dan dipenjara, dikepompongi oleh hawa dan syahwat. Akibatnya seluruh aktivitas manusia yang singgasana qalb-nya diduduki oleh hawa nafsu dan syahwat inilah kondisi yang buruk. Seluruh aspek amalnya menjadi rusak karena hal tersebut.
            Namun apabila nafs al-muthmainnah yang menjadi Rajanya, maka hawa nafsu dan syahwatnya akan digembalakan. Kapan diperlukan, akan digunakan. Kapan tidak dibutuhkan, akan dijaga baik-baik. Inilah yang akan menyebabkan baik buruknya seluruh amalnya.
            Demikian pentingnya fungsi Qalb, maka Allah hanya menjatuhkan pandangan kepadanya, bukan kepada selainnya. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada Qalb kalian”. (HR. Muslim).


4. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa): Menata Qalbu Menuju Ilahi
4.1. Urgensi Tazkiyatun Nafs     
            Banyak diantara kita yang masih saja acuh tak acuh tentang pentingnya tazkiyatun nafs ini, masih banyak diantara kita yang beranggapan bahwa itu adalah paham penganut tarekat atau tasawuf saja. Padahal Allah bersumpah dengan 7 (tujuh) ciptaan-Nya yang memperlihatkan tanda-tanda Keagungan-Nya sebelum bersumpah dengan jiwa dan imbalan yang akan diperoleh oleh mereka yang mensucikan jiwanya.
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (١) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا (٢) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاهَا(٣) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (٤)وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا (٥)وَالأرْضِ وَمَا طَحَاهَا (٦) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا(١٠)


“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya.
Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya.
Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya.
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.
Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams [91] : 1 – 10)

Allah bersumpah dengan : (1) Matahari; (2) Cahaya matahari; (3) Bulan; (4) Siang; (5) Malam; (6) Langit dan proses penjagaannya; (7) Bumi dan penghamparannya; barulah bersumpah dengan jiwa dan penyempurnaannya.
            Setiap orang yang beriman pasti berharap memiliki hati yang bersih dan berkilau, sebab hati yang bersih dapat memantulkan cahaya ruhaniah, kemudian menjadi penglihatan batin (bashiratul qalbi) dalam memandang keelokan wujud Allah. Namun, cahaya ruhaniah hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah melampaui pergulatan ruhani.
Bagaimana hati dapat memantulkan cahaya, padahal gambar selain Allah terlukis dalam cermin hati kita? Bagaimana kita dapat berangkat menuju Allah, padahal hati kita masih terbelenggu oleh syahwat? Bagaimana kita bisa antusias dapat masuk ke hadhirat Allah, padahal kita belum suci dari janabah kelalaian? Bagaimana bisa kita berharap dapat memahami kedalaman rahasia ruhani, padahal kita belum bertaubat dari semua kesalahan?
Hati seorang hamba itu sebagai tempat Allah memantulkan cahaya-Nya, pantulan cahaya itu akan menerangi basyariah (raga) manusia. Jika sumber cahaya itu diibaratkan matahari, maka bumi yang menerima cahaya dari rembulan sebagai tempat pantulan cahaya matahari. Cahaya itu akan sampai ke bumi jika tidak ada hijab berupa awan mendung yang menghalangi.
Hati yang selalu diwarnai oleh berbagai persoalan dunia akan menjadi buram dan gelap. Jika hakikat dunia disebut zhulmah (gelap), maka wujud Allah diibaratkan sumber cahaya yang menerangi hati. Tatkala hati tidak mampu melihat dengan bashiratul qalbi (penglihatan hati), pasti ada yang menghalangi sumber cahaya tersebut, sehingga hati tidak dapat memantulkan cahayanya.
Hati yang sarat dengan lukisan dunia akan menimbulkan letupan-letupan syahwat kehidupan. Hembusan angin gairah mengobarkan api tamak, menjilat dan membakar akal. Puing-puing nafsu berserakan menjadi sampah ruhani. Asap cinta memenuhi hati, menjelma rangkaian tali-tali pengikat yang membelenggu perjalanan menuju Allah.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, Anak-anak, Harta yang banyak dari jenis Emas, Perak, Kuda pilihan, Binatang-binatang ternak dan Sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”[40]
Pada hakikatnya, fasilitas hidup yang Allah sediakan di dunia adalah tali-tali syahwat yang dapat menjerat hati. Keindahannya sebatas fatamorgana dan kenikmatannya mengukir persoalan hidup bagi orang yang berjalan menuju Allah. Persoalan demi persoalan datang silih berganti menghimpit hati dan melelahkan jiwa. Kendatipun harus dimaknai setiap persoalan sebagai ujian dan cobaan, yang semestinya tidak menghalangi perjalanan, namun tidak banyak yang mampu memahami bahwa itu sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah pada dirinya.
Allah memberikan jalan kepada hamba-hambaNya untuk “berniaga ruhani”, dengan imbalan keuntungan berupa pembebasan diri (manusia) dari belitan syahwat dan penderitaan. “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”[41]
Pergulatan ruhani untuk mencapai “Mahligai Ilahi” adalah sebuah perjuangan bagi orang-orang yang merindukan perjumpaan dengan Rabb-nya. Namun perjuangan itu tak akan ada hasilnya bila tidak disertai persiapan yang matang. Bekal yang harus disiapkan untuk menuju kepada Allah antara lain adalah; Taqwa sebagai bekal, Zikir sebagai senjata, Semangat sebagai kendaraan, Mursyid sebagai pembimbing, dan yang terakhir adalah saudara seiman sebagai teman seperjalanan.
Maka hati yang bersih dari berbagai kotoran dunia yang membuat lalai dan menimbulkan dosa, menjadi syarat penting menuju Allah. Membersihkan hati sama dengan “Mandi Ruhani”, mengawalinya dengan sikap batin tidak syirik, penyucian jiwa/diri (tazkiyatun nafs), dilanjutkan ibadah lahiriah (amalan sholeh).
Manusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat merasakan kedekatan ataupun “menyaksikan” Allah dengan hatinya adalah karena dosa-dosa mereka. Setiap dosa merupakan noda hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati. Ketika noda hitam memenuhi hati sehingga terhijab dari menyaksikan Allah, inilah yang dinamakan buta mata hati.
            Noda-noda hitam yang mengotori ruang qalbu inilah yang harus dibersihkan, agar pancaran Nur Ilahi tidak terhijab dan ruh cahaya-Nya dapat menghiasi jiwa, yang akan berdampak pada damai dan indahnya jiwa ruhani dan perilaku kita.
            Qalbuyang bersih itulah harta karun yang hilang. Kita harus menggalinya agar ia kembali muncul di permukaan. Alangkah sayangnya jika kita tidak menyadari keberadaan dan fungsi qalbu ini. Yang penemuan atasnya merupakan prasyarat mutlak agar seseorang dapat berjalan menuju-Nya. Mustahil seorang manusia dapat selamat kembali kepada Allah dengan qalbu yang kotor tertutup noda-noda dosa. Karena ini adalah tempat jatuhnya pandangan Allah kepada seorang manusia. Mustahil seorang manusia mendapat bimbingan-Nya dengan qalbu yang kotor, karena melalui media inilah Allah memberikan bimbingan kepadanya.

4.2. Upaya-Upaya Yang Dilakukan dalam Proses Tazkiyatun Nafs
            Tazkiyatun nafs, pengertiannya adalah setiap manusia harus dibersihkan sisi jasmani dan ruhaninya, inilah yang disebut jiwa(nafs) sebagai totalitas manusia. Sebagai sisi ruhani, al-nafs memiliki kemampuan untuk mendorong atau memotivasi diri untuk melakukan sesuatu. Perbuatan baik atau buruk manusia adalah hasil kerja al-nafs. Karena harus disadari dalam nafs sendiri ada sistem penggerak tingkah laku manusia yang memiliki kecederungan berbeda. Fitrah biasanya cenderung mendorong manusia melakukan suatu kebaikan, sedangkan syahwah dan al-hawa cenderung mendorong manusia melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Disamping itu, di dalam al-nafs itu sendiri ada sub sistem lainnya yang bertugas untuk mempertimbangkan sesuatu perbuatan mana yang layak dan mana yang tidak layak dilakukan, pertimbangan inilah yang diberikan qalb. Pertimbangan yang diberikan qalb, disamping akal dan bashirah, pada akhirnya sangat tergantung pada isi wadah qalb. Jika isinya adalah kebaikan, keindahan dan cinta dan sifat-sifat mulia lainnya, maka pertimbangan-pertimbangan yang diberikannya cenderung mengarahkan manusia untuk melakukan kebaikan. Namun sebaliknya, apabila isi wadah qalb itu berupa keburukan dan penyakit, maka pertimbangan yang diberikannya juga adalah pertimbangan-pertimbangan yang buruk, yang pada akhirnya akan menghasilkan perbuatan yang buruk pula.           
            Jika seseorang mampu memahami potensi-potensi positif dimensi ruhaniah dengan segala sub sistem nya, maka ia akan mampu memaksimalkan kebaikan-kebaikan dirinya dan mengikis keburukan-keburukan yang ada dalam dirinya. Pada akhirnya ia akan memiliki jiwa yang bersih. Inilah yang disebut dengan nafs zakiyah sebagai jiwa yang suci.        Tazkiyatun nafsditujukan untuk mengendalikan syahwat dan hawa nafsu, mendidik satu komponen jiwa Nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang)yang berperan sebagai penggembala yang kuat dan berilmu, sehingga ia mampu mengatur komponen-komponen jiwa lainnya yang merupakan obyek gembalaannya. Jika yang seharusnya berperan sebagai sang gembala tertidur atau lumpuh kekurangan energi, maka komponen-komponen lainnya bersikap liar dan kemudian saling berlomba menguasai qalb, yang berarti menguasai diri seseorang sepenuhnya.Tazkiyatun nafs juga ditujukan untuk  pembersihan qalb (hati) dari sifat-sifat tercela, pembersihan dari berbagai macam dosa dan perbuatan-perbuatan yang mengotori hatinya serta mengosongkan wadahnya dari selain Allah. Karena hanya dengan qalb yang bersih seorang manusia dapat menerima pancaran (illumination) dari Allah Swt.
            Para sufi sebenarnya telah merumuskan tujuh sebab pembuat dosa yang dinamakan dengan lata’if[42], yaitu :
1.      Lathifah al-qalbi; yaitu yang berhubungan dengan jantung jasmani, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Disini bersemayam sifat-sifat kemusyrikan, kekafiran, ketahayulan dan sifat-sifat iblis.
2.      Lathifah al-ruh; terletak dua jari di bawah susu kanan, berhubungan dengan hati. Disinilah bersemayam sifat bahimiyah (binatang jinak), yakni sifat-sifat menuruti hawa nafsu.
3.      Lathifah sirri; terletak dua jari di atas susu kiri. Disinilah letak sifat binatang buas (sabi’iyah), yakni sifat zalim atau aniaya, pemarah, pendendam.
4.      Lathifah al-khafi; terletak dua jari di atas susu kanan, dipengaruhi oleh limpa jasmani. Disinilah letaknya sifat-sifat pendengki, khianat, yaitu sifat syaithaniyyah yang membawa celaka dunia akhirat.
5.      Lathifah al-akhfa; letaknya di tengah dada, yang berhubungan dengan empedu jasmani. Disinilah letaknya sifat-sifat rabbaniyah seperti riya’, takabbur, ujub, sum’ah dan pamer.
6.      Lathifah al-nafsal natiqa; terletak antara dua kening. Disinilah tempatnya nafsu amarah, nafsu yang mendorong kepada kejahatan.
7.      Lathifah kullu jasad; yaitu lathifah yang mendominasi seluruh tubuh jasmani. Disinilah terletak sifat-sifat jahil dan ghafah (lalai).
            Mujahadah (bersungguh-sungguh) menjadi syarat mutlak keberhasilan penyucian jiwa. Penyucian jiwa ini mustahil dilakukan tanpa upaya mengamalkan pengekangan diri, kerja keras dan kesungguhan. Orang yang bersungguh-sungguh kepada Allah, maka Allah akan bersungguh-sungguh kepadanya. Dalam hadis Qudsi, “Jika seorang hamba Allah mendekat sejengkal maka Allah akan satu depak, jika kita sedepak, maka Allah satu hasta, kalau kita berjalan ke arah Allah, maka Allah akan memburu hamba-Nya dengan berlari-lari kecil.”
            Di dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa kesungguhan adalah sebagai syarat untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan Allah :“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”[43]
            “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu). Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.”[44]
            Jiwa manusia, seperti kata Imam al-Ghazali, dapat diubah, dapat dilatih, dapat dikuasai dan dapat dibentuk sesuai dengan kehendak manusia itu sendiri. Dengan demikian setiap manusia harus mampu membersihkan, mensucikan dan mengaktifkan qalbunya agar jiwanya tidak dikuasai hawa nafsu[45], agar qalbu tidak berkarat, tidak mengeras[46], tidak tertutup[47], tidak brutal[48], sakit[49] dan buta[50].
            Bercermin dari kehidupan para sufi, proses penyucian jiwa dilakukan melalui tiga tahapan (fase), yaitu :
1.   Takhalli; yaitu proses mengosongkan jiwa dari sifat-sifat tercela melalui taubat yang sebenarnya.
       Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepad hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya. Proses pertaubatan dilalui dengan rangkaian : menyesali, berhenti dan berjanji untuk tidak mengulanginya, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah ritual, baik yang fardhu (wajib) maupun yang nawafil (sunnah).
       Menurut al-Ghazali, sifat-sifat tercela yang harus dihilangkan adalah hasad (iri hati), haqaq (dengki), su-uzhan (buruk sangka), kibr (sombong), ujub (merasa sempurna dari orang lain), riya (menunjukkan dan memamerkan kelebihan diri), sum’ah (mencari prestise dan kemasyhuran), bukhl (bakhil), hubb al-maal (cinta harta), takabbur (angkuh), ghadab (marah), ghibah (menceritakan aib orang lain), namimah (berbicara di belakang orang lain), kizb (dusta) dan khianat (ingkar janji). Selagi sifat-sifat tercela tersebut masih bersemayam di dalam qalbu seseorang, maka selama itu pula ia tidak akan dapat mendekat kepada Allah.
      
2.   Tahalli; yaitu proses pengisian jiwa dengan sifat-sifat terpuji (al-mahmudah) atau sifat-sifat yang baik. Pada akhirnya, sifat-sifat mulia inilah yang akan bersemayam di dalam jiwanya. Ketika sifat-sifat ini sudah menyatu di dalam dirinya, maka sebenarnya ia telah memiliki jiwa yang bersih.
       Pada tahap tahalli, kaum sufi berusaha agar dalam setiap perilaku selalu berjalan di atas ketentuan agama, baik kewajiban yang bersifat “luar” maupun yang bersifat “dalam”. Yang dimaksud dengan aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal, seperti shalat, puasa, zakat, infaq, shadaqah, haji sedangkan aspek “dalam” seperti iman, ketaatan, dan kecintaan kepada Tuhan.
       Cara praktis yang dilakukan dalam tahap ini adalah :
a. Memperbanyak zikir.
Zikir disini bukan hanya sekedar menyebut dan memuji Allah, tetapi lebih dari itu yakni dimana seseorang senantiasa mampu merasakan kehadiran Allah kapanpun dan dimanapun ia berada, senantiasa mentadabburkan (merenungi) kekuasaan-Nya, memahami ayat-ayatNya baik yang bersifat kauniyah yang terbentang di alam nyata maupun yang bersifat kalamiyah (Al-Qur’an). Dengan berzikir seperti ini diharapkan terpancar ke segenap aspek kehidupan, mengontrol perilaku dan perbuatan seseorang dari segala bentuk kemaksiatan. Orang yang senantiasa berzikir akan mudah mendapat Nur dari Allah,[51] senantiasa dalam penjagaan-Nya dan akan diangkat sebagai kekasih-Nya. Orang yang senantiasa berzikir pada Allah, hati dan jiwanya akan hidup, akan merasakan ketentraman, ketaqwaan, rasa ketergantungan hanya kepada Allah saja, ia tidak takut terhadap persoalan-persoalan kehidupan karena ia yakin Allah akan beserta dirinya mengatasi persoalan tersebut, muncul rasa cinta yang mendalam kepada Allah, perilaku yang baik, sehingga pada akhirnya ia sulit dipengaruhi keadaan sekitarnya yang berdampak negatif.
b.           Puasa.
     Puasa sangat membantu untuk melemahkan kekuatan hawa dan menggembosnya. Hawa nafsu yang menjadi kenderaan syaitan akan selalu mengajak pada kejahatan karena ia memiliki 3 kecondongan biologis yang tak pernah kunjung hilang, yaitu makan, libido sex, dan tidur. Tiga kecondongan ini senantiasa diinginkan dan dituntut hawa agar ia punya kekuatan dan mampu menguasai nafs.
c. Baca Al-Qur’an dan Ingat Mati.
Rasulullah Saw. mengatakan : “Hati ini bisa berkarat sebagaimana besi dapat berkarat jika terkena air.” Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, Apakah pengkilatnya?”. Baginda menjawab: “Banyak mengingat Maut dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Baihaqi dalam Su’bah Al-Iman)
Banyaknya dosa dan lalai dari memahami ayat-ayat Allah akan menyebabkan hati kotor, menimbulkan noda-noda hitam dalam hati. Noda itu akan hilang ketika seseorang bertaubat, mensucikannya dengan selalu membaca Al-Qur’an dan memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya, dan membuat persiapan buat bekal hidup sesudah mati.
Dalam hadis lain juga dijelaskan bahwa Nabi meninggalkan dua nasehat pada umatnya, satu dapat berbicara dan yang satu lagi diam saja. Yang dapat bicara itulah Al-Qur’an, dan yang diam saja adalah mengingat (melihat) kematian.
Dengan membaca Al-Qur’an hati akan menjadi kokoh, terimbas Nur Firman-Nya, dan dengan merenungi hakikat kematian hati seseorang akan sadar, mudah kembali kepada kebaikan dan mampu memahami hakikat perjalanan kehidupan dunia, tidak menyia-nyiakan sisa masa hidupnya serta menyeronokkan jiwa dengan tambahan rasa takut pada-Nya dan harap akan kasih sayang-Nya.
d.           Hidupkan ibadah-ibadah sunnah yang disenangi Allah; seperti shalat tahajud, shalat dhuha.

3.   Tajalli; adalah terungkapnya nur ghaib, merasakan kedekatan dan kehadiran Allah di sisinya. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa melakukan pebuatan-perbuatan yang luhur tidak berkurang, maka rasa Ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang telah dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.
       Berkenaan dengan nur ghaib atau cahaya keghaiban, ada dipaparkan dalam Al-Qur’an yang mengungkap tentang Allah Swt. adalah  “Cahaya langit dan bumi”, sebagaimana yang terdapat dalam Surah An-Nuur ayat 25 :  “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
            Tidak akan pernah berhasil ketika seseorang inginkan tazkiyatun nafs tetapi tidak melatih jiwanya (riyadhatun nafs). Dalam kehidupan Sufi, ada dikenal istilah maqam, yaitu suatu tingkatan seorang hamba di hadapan Allah Swt., sebagai Tuhannya dalam hal ibadah dan latihan-latihan jiwa yang dilakukannya. Maqam dapat diraih melalui berbagai usaha atau latihan dari seorang hamba. Dalam kehidupan modern saat ini, dapat kita pahami bahwa maqam merupakan suatu usaha atau latihan (riyadhah) yang dilakukan seseorang yang ingin memiliki kedekatan dengan Tuhannya, ingin memperoleh ketenangan (jiwa yang muthmainnah) dengan melewati ahwal-ahwal (satu kondisi batin yang didapat karena limpahan rahmat Allah). Usaha-usaha itu boleh jadi mengikuti apa yang telah dirumuskan para sufi terdahulu seperti Taubat, Wara’, Sabar, Faqir, Zuhud, Tawakkal, Mahabbah, Ma’rifah dan Ridha.
·      Taubat : Taubat dari segala dosa baik besar dan kecil. Selanjutnya menjauhkan diri dari segala perbuatan yang kurang baik dan tidak sopan yang dalam istilah sufi disebut taubat dari segala yang makruh dan syubhat. Dalam istilah lain sering dikatakan, taubat orang awam dari dosa, taubat orang `arifin (para sufi) dari lalai mengingat Tuhan.
·      Wara’ : menjauhi atau meninggalkan segala hal yang belum jelas haram halalnya (syubhat). Menurut Qamar Kailani, orang sufi membedakan wara’ itu kepada dua macam wara’, yaitu pertama,wara’ lahiriyah, yakni tidak mempergunakan anggota tubuhnya untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah, dan kedua,wara’ bathiniah, yakni tidak menempatkan atau mengisi hatinya kecuali Allah.Berdasarkan itu pula, maka di kalangan sufi, mereka mengisi hidup dan kehidupannya dengan selalu dalam keadaan suci, indah dalam kebaikan, tentu saja selalu waspada dalam berbuat. Mereka tidak mau menggunakan sesuatu yang tidak jelas statusnya, apalagi yang jelas-jelas haram.
·      Sabar: Sabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sabar dalam menerima cobaan dari Allah dan sabar pula menunggu pertolongan dari Allah dan akhirnya sabar dalam menjalankan kesabaran itu sendiri.
·      Faqir : Tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Jika meminta rezeki semata-mata agar dapat menjalankan kewajiban kepada Tuhan. Umumnya para sufi tidak meminta rezeki pada Allah, jika diberi para sufi tidak menolak.
·      Zuhud : Menjauhkan diri godaan materi dan hidup dalam kesederhanaan.
Al-Junaid menyatakan, Zuhud adalah “Kosongnya tangan dari kecenderungan untuk memiliki segala yang ada dan kosongnya hati dari pencarian”. Zuhud akan menjadikan orang mengkosumsi segala sesuatu berdasarkan kebutuhan bukan karena prestise.
·      Tawakkal : Menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Selalu berbaik sangka walaupun ia menerima bencana atau perlakuan yang tidak baik dari orang lain.
·      Mahabbah: hatinya kosong dari segala-galanya, kecuali dari yang dikasihi yaitu Tuhan. Kesenangannya adalah berzikir, memuja dan berdialog dengan Tuhan.
·      Ma’rifah : Mengenal Allah, merasakan kedekatan dan kehadiran-Nya setiap saat.
Mengenal Allah adalah aset terbesar. Mengenal Allah akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allah kita akan merasa ditatap, didengar, dan selalu diperhatikan. Bila demikian, hidup pun jadi terarah, tenang, ringan, dan bahagia, tidak takut dan sedih dengan persoalan-persoalan duniawi.
·      Ridha : Hilangnya rasa benci dan marah dalam diri sufi sehingga yang tinggal hanyalah rasa senang dan bahagia. Merasa senang bila menerima malapetaka sebagaimana merasa senang menerima ni`mat, bahkan hati bergelora ketika menerima malapetaka dari Allah.
            Manusia yang mampu menetralisir jiwanya, membersihkan dan mengosongkannya dari sifat-sifat tercela akan mampu mengangkat derajat mereka setara dengan malaikat. Orang-orang seperti inilah yang dimaksudkan Allah sebagai orang-orang yang beruntung, sebagaimana Firman-Nya : “Beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya (seperti malaikat), dan merugilah orang-orang yang mengotorinya (seperti binatang).”[52]
            Sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata qalbunya menjadi bening, jernih, bersih, dan selamat. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qalbu yang tertata, terpelihara dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketentraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan. Orang yang bening hatinya, wajahnya memancarkan kejernihan, bersinar, sejuk dan menyegarkan, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih, lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran, dan dia pun inginkan keberadaan dirinya dapat memberi manfaat bagi orang lain.       Begitupun ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, setiap butir kata yang keluar dari lisannya sarat dengan makna dan hikmah, perilakunya adalah akhlak terpuji, penuh kesantunan dan ingin selalu membahagiakan orang lain. Kesehatan tubuh pun terpancari oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata qalbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang, dan kondisi jiwa senantiasa diliputi kedamaian, optimis, tidak ada rasa cemas, tidak ada rasa takut karena dia yakin ada Allah mendampinginya.
            Dan, Subhanallah, lebih dari semua itu, kebeningan hatipun dapat membuat hubungan dengan Allah menjadi luar biasa manfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayatNya, membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram. Konsekuensinya, dia pun menjadi lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula do’a-do’anya menjadi luar biasa mustajabnya. Mustajabnya do’a tentu akan menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak.
            Singkat kata, orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa indahnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Inilah buah dari kesungguhan menata qalbunya. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih?





C.KIAT-KIAT MEMELIHARA KETERHUBUNGAN DENGAN ALLAH
            Benih-benih ketakwaan serta sifat-sifat terpuji yang telah dibangun di dalam jiwa seseorang memerlukan pemupukan yang berkesinambungan. Benih-benih ini apabila tidak disertai pemeliharaan yang intensif, besar kemungkinan menjadi punah.
            Seseorang yang bertakwa adalah orang yang menghambakan dirinya kepada Allah dan selalu menjaga hubungan dengan-Nya setiap saat. Memelihara hubungan dengan Allah terus-menerus akan menjadi kendali dirinya sehingga dapat terhindar dari kemaksiatan, kemungkaran, dan membuatnya konsisten terhadap aturan-aturan Allah.
Memelihara hubungan dengan Allah dimulai dengan melaksanakan tugas (ibadah) secara sungguh-sungguh dan ikhlas, dan memelihara hubungan dengan Allah dilakukan juga dengan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah.

1.Zikrullah
Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah Swt., berfirman : “Manakala hamba-Ku berzikir (mengingat-Ku dan menyebut nama-Ku) dalam dirinya (yakni dalam keadaan sendirian), Aku pun akan menyebutnya dalam diri-Ku. Dan manakala ia menyebut nama-Ku diantara sekelompok manusia, Aku pun menyebut namanya diantara kelompok yang lebih baik dari kelompok-Nya. Dan manakala ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Dan manakala ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan manakala ia datang kepada-Ku sambil berjalan, Aku akan datang kepadanya sambil berlari.” (HR. Bukhari-Muslim)
Zikrullah adalah menghadirkan kemaujudan Allah, kebesaran dan keagungan-Nya, baik diucapkan dengan lisan ataupun tidak. Lebih jauh kata zikir berkembang maknanya sehingga diartikan juga dengan nama atau sebutan, karena nama bagi seseorang merupakan sesuatu yang harus dipelihara dan dihormati. Sehingga terkesan bahwa kata zikir seringkali digunakan menyangkut hal-hal yang tinggi, agung dan mulia, dalam konteks ini adalah nama Tuhan yaitu “Allah”.[53]Ibnu Athaillah (W. 1309 M) membagi zikir menjadi tiga tingkatan yaitu : Pertama, zikir jali (zikir keras, nyata). Kedua, zikir khafi (zikir yang samar-samar). Ketiga, zikir haqiqi (zikir yang sebenar-benarnya).[54]
Adapun bentuk tingkatan zikir yang tertinggi menurut Ibnu Athaillah adalah tingkatan yang ketiga, yakni zikir haqiqi, yaitu zikir yang dilakukan oleh jiwa dan raga, lahir dan batin, kapan pun dan di manapun setiap waktu dan tempat secara kesinambungan yang tak terputus-putus. Ini dilakukan dengan cara memperketat upaya untuk memelihara seluruh jiwa raga dari segala bentuk larangan Allah dan senantiasa melaksanakan perintah-Nya, selain bentuk perbuatan yang demikian tiada yang diingatnya kecuali hanya Allah Swt.semata. Untuk mencapai ke tingkatan ini perlu latihan-latihan atau setidaknya harus menjalankan zikir jali dan zikir khafi.
Pada umumnya kata zikir dalam Al-Qur’an hanya dinisbahkan kepada Allah Swt. seperti zikrullah,zikr al-Rahman, dan sebagainya. Serta ada juga yang berdiri sendiri yaitu zikir dalam arti wahyu Allah atau Al-Qur’an. Kata zikir dalam berbagai bentuknya terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 76 kali.Namun hanya sekali disandangkan secara langsung kepada seseorang dalam hal ini yaitu kepada Nabi Muhammad Saw.seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Syarh [94]: ayat 4 yang berbunyi: “Dan Kami meninggikan bagimu sebutan (nama)mu”.[55]
Adapun pemaknaan bunyi Firman-Nya dalam surah An-Nisa’ ayat 103 yang dijajarkan di atas, Ibn Abbas[56] r.a. menerangkan bahwa, “Maksudnya adalah (berzikir harus dilakukan) pada malam dan siang hari, di darat dan lautan, dalam perjalanan dan ketika berada di rumah, ketika kaya dan dalam keadaan miskin, ketika sakit dan dalam keadaan sehat, serta secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan”. Melalui pemaknaan ayat tersebut Ibn Abbas r.a. hendak mengatakan kepada orang-orang beriman bahwa (zikir) mengingat Allah Yang Maha Hadir itu, tidak dibolehkan terputus-putus barang sesaatpun dan harus dipelihara kesinambungannya, karena sesungguhnya berzikir dapat dan harus dilakukan setiap saat dalam keadaan apapun, kapanpun dan di manapun atau di setiap waktu dan tempat.
Adapun kebiasaan ibadah maupun zikir kepada Allah, yang dilakukan orang-orang munafik adalah dilakukan dengan kebohongan kepada-Nya.Apabila mereka mengerjakan shalat dengan bermalas-malasan dan bermaksud ingin riya atau dipuji di hadapan banyak orang.Dengan bentuk ibadah yang dikerjakan itu sebenarnya mereka tidak benar-benar beribadah karena hati mereka pun hanya sedikit mengingat Allah.Itulah sebabnya ketika mencela orang-orang munafik, Allah Swt. berfirman,“Tidaklah mereka mengingatAllah kecuali sangat jarang” (QS. An-Nisa’ [4]: 142).
Kemudian sebagai bentuk gambaran perbandingan keadaan jiwa antara orang-orang yang berzikir mengingat Allah dengan yang tidak, diilustrasikan oleh Nabi Muhammad Saw.dengan sangat indah, Rasulullah Saw. bersabda,[57]“Orang yang berzikir kepada Allah di tengah orang-orang yang lalai adalah seperti pohon hijau di tengah pohon-pohon yang kering. Orang yang berzikir kepada Allah di tengah orang-orang yang lalai adalah seperti orang yang berjuang di tengah orang-orang yang lari dari medan perang”. Kemudian bagi setiap umatnya diperingatkan dengan sabdanya mengatakan, “Tidaklah anak adam (manusia) mengerjakan suatu amalan yang lebih menyelamatkannya dari siksa Allah daripada zikir hanya kepada-Nya”.
Jadi dengan berzikir mengingat Allah, jiwa manusia laksana pohon yang tumbuh dengan rindang, kuat batangnya, penuh buahnya. Pohon yang rindang, kuat batangnya, penuh buahnya adalah sebuah perumpamaan bagi jiwa yang senantiasa dibanjiri dengan zikrullah, maka akan mendatangkan jiwa yang tenteram, pikiran yang lurus, sehingga dapat beraktifitas dengan maksimal dan yang mendatangkan hasil tentu juga akan maksimal. Dengan demikian pada akhirnya akan menyelamatkan manusia itu sendiri dari segala bentuk azab Allah, baik di dunia terlebih-lebih di akhirat kelak, karena bentuk zikir yang dia lakukan melindungi dan menyelamatkannya dari segalam macam malapetaka dunia dan akhirat. Sungguh terasa indah bila dibayangkan, ketika hidup didunia berkecukupan dan ketika menuju ke kampung yang abadi di akhirat kelak kita terpelihara tidak tersentuh azab-Nya, dan itu semua dapat diraih dengan senantiasa berzikir mengingat Sang Pencipta, yaitu Allah satu-satunya Tuhan yang berhak diingat dan diibadahi.
Dalam banyak tempat Al-Qur’an menggambarkan tentang perintah berzikir yang selalu dikaitkan kepada kaum beriman.Seperti misalnya bahwa mereka itu selalu mengingat Allah dalam keadaan sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.Kemudian dari mengingat Allah itu mereka juga merenungkan tentang sesuatu dibalik penciptaan dan keadaan alam semesta. Kemudian mereka seraya berkata :Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.[58]
Selain itu orang-orang beriman hatinya menjadi tenang dan tenteram hanya dengan selalu zikir atau mengingat Allah.[59] Kemudian juga diajarkan jika kita ingat kepada Allah, maka Allah pun akan mengingat kita.[60] Selanjutnya ada peringatan bahwa kita jangan sampai lupa dari mengingat Allah, karena Allah pun akan membuat kita lupa dengan diri sendiri, yakni membuat kita menjadi manusia yang tidak integral, tidak utuh.[61]Orang yang melupakan Allah berarti mereka itu adalah orang-orang yang fasik, sebab perilaku orang-orang fasik yaitu orang yang tidak menjaga integralitas dirinya.
Yang menjadi permasalahan bagi kita di sini adalah bagaimana caranya agar jiwa dan hati kita senantiasa berzikir dan mengingat Allah.Apabila kita merujuk kepada literatur kesufian, maka orang-orang Sufi banyak mengajarkan tentang berbagai “tehnik” atau metode berzikir. Dari keragaman metode atau cara yang digunakan dengan sendirinya lafal (lafazd) “Allah” adalah yang paling banyak sekali digunakan. Demikian pula lafal-lafal lain, khususnya dari “Asma al-Husna”[62], seperti al-Ghafur, al-Wadud, al-Lathif, al-Qawiy, dan seterusnya, masing-masing dengan penghayatan mendalam akan maknanya seperti yang dijelaskan dalam buku-buku ternama yang membahas tentang nama-nama Allah itu.
Dalam rutinitas kehidupan sehari-hari terkadang muncul pertanyaan di benak seseorang, “Kenapa zikir kepada Allah yang dilakukan secara samar oleh lisan dan tanpa memerlukan tenaga yang besar malah menjadi utama dan lebih mendatangkan fungsi dan kegunaan yang tinggi dibandingkan dengan sejumlah ibadah yang dalam pelaksanaannya banyak mengandung kesulitan?”.Menanggapi ungkapan yang demikian, Al-Ghazali mengatakan, ketahuilah bahwa meneliti masalah ini tidaklah layak untuk dilakukan kecuali dengan menggunakan ilmu mukasyafah. Namun demikian Al-Ghazali juga menyatakan, bahwa kadar yang dibolehkan untuk diketahui – dalam masalah zikir kepada Allah Swt. – menurut ilmu mu’amalat adalah bahwa dampak zikir yang bermanfaat adalah zikir yang dilakukan secara berkesinambungan (kontinu) disertai dengan hadirnya hati kepada Allah.[63]
Ketentraman jiwa dan perkenan ridha-Nya senantiasa dapat diraih di dalam dunia ini dan terlebih-lebih saat kembali ke akhirat kelak menghadap-Nya, apabila zikir yang dilakukan setiap orang merujuk kepada metodologi yang dibenarkan.Seseorang dapat berkepribadian yang tangguh, jiwa yang kuatdan mendapat kenikmatan yang berkecukupan di dunia, apabila hadir hatinya benar-benar lurus hanya kepada Allah.Seseorang dapat selamat di dunia dan akhirat, apabila hadir hatinya betul-betul hanya terpusat kepada Allah satu-satunya Tuhan diibadahi.Sehingga Nabi menggambarkan perbedaan antara orang yang hatinya senantiasa hadir mengingat Allah dengan yang bukan yaitu, “Seperti perbandingan orang yang hidup dengan yang mati”.
Dalam pandangan Ibnu Taimiyah yang membahas seputar masalah zikir, menurutnya zikir yang menggunakan “nama-tunggal” (isim mufrad) tidaklah dianjurkan. Dengan melandasi argumentasinya, lebih jauh ia menegaskan, menurut petunjuk Nabi Saw. sendiri, zikir yang paling utama ialah kalimat lengkap “La ilaha illa Allah”, karena di situ terkandung pernyataan lengkap, yaitu peniadaan jenis penyembahan kepada sesuatu apa pun, kecuali hanya kepada Allah satu-satunya yang boleh, berhak, dan harus disembah. Tambahan lagi menurut Hadis Shahih Nabi Saw.bersabda:
“Sebaik-baik ucapan sesudah Al-Qur’an ada empat, dan semuanya juga berasal dari Al-Qur’an; Subhanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), La ilaha illa Allah (Tiada suatu Tuhan selain Allah, Tuhan yang sebenarnya), dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar), dan tidak mengapa bagimu mana saja dari kalimat-kalimat itu yang kamu mulai (untuk menyebutkannya)”.[64]
Dengan zikir dalam kalimat lengkap dan bermakna (kalam-un tamm-un mufid-un) maka, menurut Ibn Taimiyah, seseorang lebih terjamin dari segi imannya, karena kalimat serupa itu adalah aktif, menegaskan makna dan sikap tertentu yang positif dan baik. Sedangkan zikir dengan lafal tunggal belumlah tentu demikian.Lebih menarik lagi, Ibn Taimiyah kemudian memperluas lingkungan makna dan semangat zikir kepada Allah itu sehingga meliputi semua aktifitas (bukan fasifitas) manusia membuatnya dekat kepada Allah seperti mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta menjalankan “amar ma’ruf nahiy munkar”.[65]
Argumentasi Ibnu Taimiyah yang mengatakan, bahwa zikir kepada Allah dapat diperluas dari segi makna dan semangatnya sehingga meliputi aktifitas dalam kehidupan ini membuatnya dekat kepada Allah, sama maksudnya dengan zikir yang dilakukan dengan hadirnya hati kepada Allah di setiap bentuk aktifitas apapun, seperti yang telah diuraikan oleh penulis di atas. Jadi bentuk penjelmaan zikrullah itu meliputi seluruh orientasi manusia di dunia ini, sehingga manusia itu dapat memenuhi “perjanjian primordial”-nya kepada Tuhannya, yaitu bahwa manusia akan memusatkan seluruh orientasi kehidupannya hanya kepada Allah satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi. Hakikat penjelmaan zikrullah itulah fitrah manusia, yang idealnya manusia itu senantiasa berada dalam keadaan fitrah dirinya sendiri, tiada satupun bentuk perbuatan dalam kesehariannya tanpa dilakukan di hadapan Tuhan semesta alam.

2. Menjaga Amanah Allah
Manusia  dituntut untuk menzhahirkan unsur-unsur Ketuhanan yang ada dalam kediriannya, dengan menjalankan syariat-Nya dan tanpa harus sedikit pun meninggalkannya (syariat itu), karena ia merupakan pedoman yang padanya terdapat pahala dan hukuman.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS. Al-Ahzab [33]: 72)
Mengenai makna “amanah” yang terkandung dalam Al-Qur’an (Surah Al-Ahzab [33]: ayat 72) tersebut kebanyakan Ulama’ berbeda pendapat, tapi yang jelas seperti yang dikemukakan Imam al-Ghazali, dengan mengutip pendapat Syaikh Al-Qurthubi yang mengatakan bahwa, “Amanah itu mencakup semua tugas suci agama, menurut pendapat yang paling sahih. Pendapat itu adalah pendapat mayoritas Ulama’, dan mereka hanya berselisih pendapat dalam perinciannya saja”.[66]
Amanah dapat dipahami pengertiannya secara luas, baik sebagai tugas keagamaan (dalam konteks hubungan manusia dengan Allah, hablum min Allah), dalam konteks diri sendiri, ataupun tugas kemanusiaan secara umum (hubungan sesama manusia, hablum min al-nas, yang melingkupi kehidupan sosial-kemasyarakatan, ekonomi dan politik).Amanah merupakan konsekuensi logis penerimaan manusia sebagai Khalifah Allah di bumi. Berangkat dari penelusuran konsep amanah dalam Al-Qur’an dapat disimpulkan bahwa amanah mengacu pada kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang telah ditetapkan Allah dalam Kitab Suci-Nya, amanah mencakup sumber daya alam yang telah diciptakan Allah untuk keperluan hidup manusia, amanah juga mencakup potensi diri manusia, dan disamping ituamanah mencakup segala kontrak, perjanjian, titipan yang terjadi dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi masyarakat (mu’amalah).
Alam dengan segala isinya disediakan Allah kepada manusia untuk menjadi bidang garapannya sekaligus tempat tugasnya. Tugas manusialah untuk mengelola alam beserta segala isinya bagi sebesar-besar manfaat hidup manusia dengan tetap memperhatikan kelestarian alam itu sendiri. Manusia dipandang khianat apabila tidak memanfaatkannya, atau memanfaatkannya secara boros dan tidak memperhatikan kelestariannya.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna penciptaannya dibanding makhluk lainnya.Manusia memiliki akal (kemampuan intelektualitas), nafs, qalb (hatinurani), serta panca indera. Potensi yang dimiliki manusia ini adalah karunia Allah dan juga sebagai amanah yang dipercayakan Allah kepada manusia. Pemanfaatan amanah tersebut ditunjukkan dengan kesungguhannya untuk memfungsikan indera dan potensi diri lainnya sesuai dengan ketentuan syariat Allah. Ketika ia memfungsikan akal, nafs, qalb, mata, telinga, tangan, kaki sesuai dengan perintah-perintah Allah; akal dan nafs untuk berkreativitas dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahannya, mata untuk melihat, mengamati ayat-ayat Allah baik yang qauliyyah (wahyu) ataupun kauniyyah (alam dengan segala isinya), telinga untuk mendengarkan “pesan-pesan” Allah dalam makna yang luas, tangan dan kaki untuk beribadah dan bekerja mencari nafkah yang halal, maka sebenarnya seseorang tersebut telah menjalankan amanah yang dititipkan kepadanya.Sebaliknya, apabila dimanfaatkan untuk kemaksiatan, maka pada hakikatnya ia telah berkhianat pada dirinya sendiri dan tentunya kepada Allah.
Dalam surah Yaasin ayat 65 Allah berfirman, yang artinya : “Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada kami tangan mereka, dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang mereka lakukan selama ini.”
Menjaga amanah terhadap panca indera tidak saja ditunjukkan dengan memanfaatkannya secara baik dan sesuai dengan ketentuan agama, tetapi juga harus memberikan hak-haknya. Dalam satu riwayat, pernah dinyatakan bahwa Rasulullah saw menegur sahabat yang selalu saja beribadah sampai malam hari sehingga ia tidak tidur-tidur. Rasul mengatakan, wafi ‘ainika haqqun, dan pada matamu itu ada haknya untuk tidur, hak tangan dan kaki untuk istirahat dan sebagainya.
Amanah yang diserahkan oleh Allah kepada manusia, dimaksudkan untuk mengangkat derajat manusia pada posisi lebih tinggi (mulia) daripada Malaikat sepanjang amanah itu diembannya dengan baik, tetapi jika amanah itu diabaikannya maka akan menurunkan derajatnya sebagai manusia kepada tingkat yang lebih rendah dari binatang ternak. Dalam kehidupannya sehari-hari, manusia juga mengemban amanah dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, aktivitas ekonomi dan politik. Maka ketika manusia memegang amanah, dirinya harus mampu menjelmakan nilai-nilai Ketuhanan yang ada dalam kediriannya, menjadi tindakan nyata yang berorientasi untuk kebaikan umat manusia secara bersama.
Keselamatan suatu kaum atau suatu bangsa terjamin apabila pemerintahnya mampu mengemban amanah dengan baik. Penyelewengan terhadap amanah kekuasaan akan menyebabkan berjatuhan banyak korban, karena para macan-macan politiknya bertindak buas dan semena-mena sehingga membawa akibat berupa kesengsaraan dan ketertidasan rakyat banyak.
Demi terpeliharanya harmonisasi hubungan antar sesama manusia, seseorang harus mempertimbangkan kemampuannya untuk mengemban suatu amanah, terlebih-lebih jika amanah itu adalah amanah rakyat. Jangan tanpa perhitungan bila musim “pemilihan umum” berbondong-bondong memeriahkan pesta demokrasi untuk ikut dipilih menjadi “pemimpin” atau “wakil rakyat”, padahal dipundaknya akan terpanggul “amanah rakyat” yang untuk dijalankan tanpa harus memperkosa dan mengorbankan hak-hak rakyat. Itu merupakan suatu tugas yang cukup besar, maka dari itu berpikir dan renungkanlah apabila anda ingin menjadi seseorang pemegang amanah rakyat, yang hakikatnya juga amanah Tuhan yang harus diemban dengan sikap penuh kemuliaan serta menjunjung kebenaran.
Manifestasikanlah nilai-nilai Ketuhanan ke dalam diri kita dan pada seluruh dimensi kehidupan agar membawa keselamatan saat memegang amanah apapun. Sehingga dapat mewujudkan nilai-nilai kebenaran yang akan membawa setiap individu atau kelompok menuju kesejajaran dalam berkeadilan, pemerataan dalam berkesejahteraan, serta kemakmuran bagi semua kalangan.
Banyak Nabi telah mencontohkan sikap bijak yang penuh tanggung jawab serta kasih sayang di setiap momen, itu semua agar dapat menjadi pelajaran bagi seluruh umat-umatnya. Dengan menjalankan amanah secara benar berarti kita telah patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka dari itu jadilah manusia yang memiliki sikap amanah, baik kepada diri sendiri, kepada masyarakat, terlebih-lebih kepada Allah, karena segala sesuatu yang dimiliki saat ini dan segala bentuk tindakan yang diperbuat manusia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Firman Allah Swt. berbunyi : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. (Al-Qiyaamah [75] : 36).

3. Implementasi Tauhid dan Ihsan
Ajaran Islam secara fundamental adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah.Kesaksian ini meniscayakan ketundukan hanya kepada-Nya semata dan tidak kepada selain-Nya. Tauhid dapat dijelmakan dalam bentuk kesadaran manusia, bahwa pengabdian dan penghambaan yang benar itu hanyalah kepada Allah. Manusia  diciptakan dengan bentuk dan kadar tertentu yang membatalkan setiap bentuk kekhususan hubungan antara manusia dan Tuhan. Semua kedudukan manusia setara dihadapan Tuhan.Hanya Dialah Tuhan seluruh manusia, yang merupakan interpretasi dari intisari kepatuhan mutlak dan penyerahan diri hanya kepada-Nya.
Tauhid bukan saja mengandung makna keyakinan tentang keesaan Allah[67] tetapi sekaligus juga mencakup ajaran tentang “kesatuan penciptaan”,[68]“kesatuan kemanusiaan”,[69] “kesatuan tuntunan hidup”[70]dan “kesatuan tujuan hidup” baik sebagai hamba Allah[71] maupun sebagai Khalifah Allah.[72]Pengejawantahan pandangan hidup yang holistik ini di masa-masa awal Islam terlihat jelas sekali pada semua bidang kehidupan, baik pada bidang sosial, politik, budaya, hukum maupun pada sosial ekonomi. Ini merupakan dasar yang melandasi sebuah program pelaksanaan amal sholeh sesuai kehendak Allah. Inilah sebuah jalan aman yang menjanjikan bagi manusia untuk naik kepada kesempurnaan yang tinggi, Allah berfirman : “Barang siapa mengerjakan kebajikan dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari [disia-siakan], dan sungguh Kamilah yang mencatat untuknya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 94)
Jadi, apapun orientasi manusia di dunia ini harus mengacu kepada ketentuan bahwa hanya Allah yang menjadi pusat orientasinya. Dengan demikian manusia dalam mengisi setiap aspek kehidupannya dan dalam berinteraksi sosial di dunia, hanya akan mengacu dan tunduk pada hukum-hukum Allah, yang mengatur segi-segi sosial, yaitu hubungan timbal-balik antar sesama manusia. Dan jika yang demikian dapat senantiasa melekat dalam pengamalan kehidupan manusia, maka ia akan selamat dan terlepas dari belenggu kemusyrikan yang setiap saat menghampirinya serta mengajaknya untuk menyeleweng dari ketentuan hukum yang diatur-Nya.
Rasulullah Saw. bersabda : “Beribadahlah kamu kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim).
Konsep  ihsan yang terdapat dalam hadis tersebut, sebaiknya diamalkan bukan hanya mengatur pada aspek-aspek peribadatan yang bersifat ubudiyah yang identik kepada keformalitasan ibadah saja seperti, shalat, puasa, infaq, shadaqah, zakat, dan lain sebagainya, tetapi idealnya harus dijelmakan kedalam kehidupan sosialnya karena pada realitanya dan merupakan sunnah-Nya manusia lebih banyak beraktifitas secara sosial kemasyarakatan daripada melakukan ibadah formalnya. Sehingga dengan pemahaman yang demikian akan mengantarkan manusia atau seseorang kepada tertanamnya perasaaninsaf akan Kemahahadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan sosialnya di setiap waktu dan tempat (jiwa muraqabah).
Konsep ihsan sebenarnya adalah ajaran tasawuf yang merupakan bahagian dari tiga pokok utama agama yaitu : Iman, Islam, dan Ihsan. Ketiganya ini dapat dilihat dengan gamblang (mudah, jelas) dalam hadis Nabi Saw.,menurut beliau setiap Muslim hendaklah disetiap waktu dan tempat senantiasa menjalin hubungan yang intim dengan  Tuhannya. Sebab, bagi setiap manusia, khususnya seorang Muslim setiap gerakan anggota badan, pancaindera, dan bahkan gerak hatinya selalu diperhatikan oleh Tuhan.[73]
Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah dan akhlak seorang hamba. Ihsan juga merupakan wujud mahabbah (cinta) seorang hamba kepada Rabb-Nya. Oleh karena itu mereka yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkatan tersebut. Siapapun diantara kita, apa pun profesi kita, di hadapan Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan.
Allah Swt. berfirman : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.”(QS. An-Nahl [16] : 128)

4. Mencari, Mempelajari, Mengkaji dan Memperdalam Ilmu-Ilmu Agama
             Nabi bersabda : “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga. Dan sesungguhnya malaikat-malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena senang kepada orang yang menuntut ilmu, dan sesungguhnya orang-orang yang berilmu akan dimohonkan ampunan untuknya oleh penghuni langit dan bumi sampai ikan yang ada di dalam air.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari hadis di atas, maka ilmu akan mengantarkan manusia mendapatkan ampunan, yang sekaligus merupakan tazkiyah dari Allah Swt.

5. Muhasabah, Istighfar dan Berdo’a
            Muhasabah berarti introspeksi diri. Dengan melakukan muhasabah, seorang hamba akan selalu memanfaatkan waktu dan jatah hidupnya dengan sebaik-baiknya. Dia akan selalu berusaha keras memperbaiki dirinya agar “bernilai” dan mendapatkan derajat kemuliaan di sisi Allah.
            Tidak ada satu pun manusia yang luput dari kekhilafan atau kesalahan, dan juga tidak ada jaminan terbebas dari kesalahan-kesalahan yang akan datang.Iniakan menimbulkan noda-noda hitam dan dosa yang menempati wadah hati kita, yang dapat berpotensi terhalangnya rahmat dan pertolongan Allah dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, selalu lah beristighfar, memohon ampunan-Nya setiap saat. Jangan pernah yakin dengan seberapa banyak dan baiknya amal ibadah yang telah dilakukan, karena sesungguhnya hingga saat ini pun kita tidak mengetahui penghisaban Allah terhadap kita. Rasulullah Saw. saja yang telah dijamin Allah syurga baginya senantiasa beristighfar memohon ampunan.
            Do’a merupakan sarana terbaik seorang hamba meminta perlindungan dan penjagaan dari Allah agar dirinya tetap berada pada ketaatan dan jalan yang lurus serta diridhai-Nya. Berdo’a wujud dari sikap ketergantungan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Tak ada yang bisa menjamin, seseorang yang baik suatu saat bisa berubah menjadi seseorang yang jahat, begitupun sebaliknya, dan ini semua karena adanya campur tangan Allah, Dia Berkehendak atas petunjuk, hidayah, musibah, ujian ataupun azab bagi hamba-hambaNya, Dia berkuasa membolak-balikkan hati hamba-Nya.
            “Ya Allah, kayakan kami dengan Ilmu dan sifat Amanah, Hiasilah kami dengan ketenangan dan kebijaksanaan, muliakan kami dengan Takwa dan Istiqamah, Indahkan hidup kami dengan Sehat dan Selamat.” Aamiin.

D. PENUTUP
          Pada dasarnya tujuan akhir manusia adalah mengikat lingkaran rohaninya dengan Allah Swt. sebagai hubungan yang selamanya benar.Sesungguhnya, hubungan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan adalah suatu hubungan yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah, mustahil bisa berlepas diri dari keterikatan dengan-Nya. Bagaimanapun tidak percayanya manusia dengan Allah, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, manusia akan mengikuti sunnatullah yang berlaku di alam semesta ini.
            Dengan memahami bagaimana luasnya kekuasaan dan Ilmu Allah, akan timbul rasa kagum dan takut kepada Allah sekaligus menyadari betapa kecil dan hina dirinya. Pemahaman itu akan berlanjut dengan kembalinya ia pada hakikat penciptaannya dan mengikuti landasan hidup yang telah digariskan oleh Allah Swt.Ia menyadari ketergantungannya kepada Allah dan merasakan keindahan iman kepada Allah.
                Manusia  harus menempuh proses pembebasan diri dari kungkungan dan jeratan pemujaan, penyembahan dan ketundukan oleh selain Allah dengan memahami tauhid  secara murni. Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang Menciptakan, yang Maha Agung, Dia lah Sang Penguasa, Yang Maha Berkehendak, Pembuat Aturan, Pemberi Hidayah, Pemberi Rahmat dan Karunia, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, Yang Maha Menolong dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan serba Maha Hadir sehingga selalu dekat dengan manusia.
 Dengan demikian manusia tidak akan terombang-ambing dalam dinamika kehidupan karena ia sudah memiliki kepercayaan yang dapat diyakini sebagai tambatan dan jaminan hidupnya. Karena itulah Allah Yang Maha Kasih selalu mengirim utusan-Nya silih berganti kepada setiap umat manusia. Dan utusan-Nya itu adalah Nabi atau Rasul yang tampil sebagai pemberi peringatan dan bimbingan agar umat itu dapat menyalurkan dorongan rohaninya secara benar, yaitu hanya kepada Allah saja, dan membebaskan diri dari thaghut atau segala bentuk ikatan yang menyeret manusia kepada pemujaan yang palsu.Penyembahan  kepada selain Allah  adalah jenis alienasi (keterasingan) yaitu situasi ketika orang tidak lagi dapat menguasai buatan tangannya sendiri atau ditundukkan oleh perbuatannya sendiri. Penyembahan  berhala seperti ini adalah pangkal penderitaan batin dan kesengsaraan karena rohani yang terjerat.
            Pengenalan dan penanaman nilai-nilai ketauhidan yang benar akan membuahkan hubungan yang indah dengan-Nya. Hubungan itu akan ditandai dengan adanya rasa mahabbah yang sangat tinggi terhadap Allah, bahkan mengalahkan rasa cintanya kepada manusia lain ataupun benda yang dimilikinya. Ia memiliki cinta seperti yang telah Allah gambarkan dalam Firman-Nya :“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[74] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[75]gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfaal [8] : 2)
           
v  Pencerahan “Wukuf” di Padang Arafah :
1.    Mengenal Diri; agar kita sadar akan status diri di hadapan Allah dan sesama makhluk.
2.    Mengenal Hidup; agar kita sadar tanggungjawab, tujuan, makna, tugas, nilai, awal dan akhir hidup yang kita jalani.
3.    Mengenal Allah; agar kita sadar akan Kemahabesaran Allah yang sebenarnya, hidup dari Allah dan kembali pada Allah.
4.    Membenahi Diri (Berkaca Diri); agar kita sadar untuk membenahi diri secara terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan akhlak.









DAFTAR BACAAN


Komaruddin Hidayat,  Bisakah  Akal Menemukan Tuhan?, (Pengantar buku God and Philosophy karya Etiene Gilson,terj. Silvester Goridus Sukur, Bandung: Mizan, 2004

John Renard, Knowledge of God in Classical Sufism: Foundations of Islamic Mystical Theology (terj. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi), hal. XV, Bandung : Mizan, 2006.

William C.Chittick, Tasawuf di Mata Kaum Sufi (terj. Zaimul Am), Bandung : Mizan, 2002

M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung, Mizan, 2007, Cet. XVIII

Fakhruddin al-Razi,Kecerdasan Bertauhid, Menyelami Kekuatan Makna “La Ilaha illa Allah” Dalam Kehidupan Nyata, Jakarta, Zaman, 2011

Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius: Memahami Hakikat Tuhan,Alam, dan Manusia. Jakarta: Erlangga, 2007

Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan : Sebuah Pengantar filsafat Islam, Cet.I ,Jakarta: Lentera Hati, 2006

Komaruddin Hidayat,  Bisakah  Akal Menemukan Tuhan?, (Pengantar buku God and Philosophy

Ibn al-'Arabi, Fushush al-Hikam, diedit oleh Abu al-'Ali' Afifi, 2 bagian (Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1980),

Rumi, The Mathnawi of Jalal Al-Din Rumi, terj. Reynold A. Nicholson, London: Luzac & Co. Ltd, 1968. 

Muhammad Yusuf Musa, al-Akhlaq fi al-Islam, Kairo, Muassasah al-Mathbu’at al-Haditsah, 1960,

Ibnu Athaillah, Zikir Penentram Hati, Jakarta, Serambi, 2005, lihat juga dalam, M.Abdul Mujieb, Ahmad Ismail, Syafi’ah, Ensiklopedia tasawuf Imam Al-Ghazali,

Imam Al-Ghazali, Dzikrullah : Rahasia dan Kekuatan, Jakarta, Sahara Intisains, 2011, Cet IV
Mushtafa Hilmi, Ibn Taimiyah wa al-Tashawuf, Iskandaria, Mesir, Dar al-Da’wah, 1403/1982,

Imam Al-Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi, diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul, “Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila Hadhrah ‘Allam al-Ghuyub fi al-‘Ilmi al-Tashawuf”,Bandung, Pustaka Hidayah, 2006, Cet. I.

 


~ Sebuah Renungan ~

“Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan Keselamatan untuk hamba-hamba-Nya yang dipilih oleh-Nya. Adakah Allah itu yang lebih baik, ataukah yang mereka persekutukan dengan Allah itu yang lebih baik?
Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kepadamu semua kemudian Kami (Allah) menumbuhkan dengan sebab air tadi kebun-kebun yang indah permai. Kamu semua tentu tidak sanggup menumbuhkan pohonnya. Adakah tuhan disamping Allah?
Tetapi mereka itu adalah kaum yang berpaling dari kebenaran. Atau siapakah yang menjadikan bumi untuk tempat berdiam dan menjadikan sungai-sungai di tengah-tengahnya, menjadikan gunung-gunung untuk menjadi pasak dan menjadikan batas antara dua lautan? Adakah tuhan disamping Allah?
Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang sedemikian itu. Atau siapakah yang memperkenankan permohonan orang yang dipaksa keadaan menderita, apabila memohon kepada-Nya agar menghilangkan penderitaannya itu dan siapakah yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi?
Adakah tuhan disamping Allah?
Sedikit sekali kamu semua mengingat kepada Allah itu. Atau siapakah yang menunjukkan jalan kepadamu dalam kegelapan di lautan dan di daratan? Dan siapakah yang mengirim angin untuk membawa berita gembira sebelum datangnya kerahmatan Allah? Adakah tuhan disamping Allah?
Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan Allah itu.
Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk, kemudian akan mengulanginya kembali? Dan siapakah yang memberikan rezeki kepadamu semua dari langit
dan bumi? Adakah tuhan disamping Allah?
Katakanlah keterangan (alasan)mu, jika kamu semua memang benar!”

{QS. An-Naml [27] : 59 – 64}




[1]  Berkenaan dengan ini, Al-Qur’an menyebutkan adanya “Perjanjian Primordial” (primordial covenant, perjanjian sebelum lahir) antara manusia dan Tuhan, yaitu bahwa manusia mengakui Tuhan itu dan akan hidup berbakti kepada-Nya. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka. (seraya berFirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (QS. Al-A’raf [7]: 172).

[2]  Siapapun  yang  mengakui bahwa dirinya seorang hamba harus senantiasa mengembangkan potensi-potensi kerinduan yang ada dalam dirinya dalam rangka dapat berjumpa dengan Tuhan. Puncak ibadah adalah ketika seorang hamba (perindu) dapat bersua, berdekatan bahkan bersatu dengan yang dirindukannya (Tuhan).Lihat Pengantar Ahmet T. Karamustafa dalam buku John Renard, Knowledge of God in Classical Sufism: Foundations of Islamic Mystical Theology (terj. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi), hal. XV, Bandung : Mizan, 2006. Lihat juga Komaruddin Hidayat,  Bisakah  Akal Menemukan Tuhan?, (Pengantar buku God and Philosophy karya Etiene Gilson,terj. Silvester Goridus Sukur, Bandung: Mizan, 2004, hal. 13.

[3]  Lihat Pengantar Ahmet T. Karamustafa dalam buku John Renard, Knowledge of God in Classical Sufism: Foundations of Islamic Mystical Theology (terj. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi), hal. XV, Bandung : Mizan, 2006.
[4]  William C.Chittick, Tasawuf di Mata Kaum Sufi (terj. Zaimul Am), Bandung : Mizan, 2002, hal. 72.
[5]  Artinya: petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan.
[6]  Al-Qur’an Surah Ali Imran [3]: ayat 190–191.
[7]  Muhammad Asad, yang memiliki nama asli Leopold Weiss adalah seorang wartawan dan pengarang ternama dari Austria, dahulunya ia pemeluk agama Yahudi yang kemudian masuk Islam. Pengetahuan, pandangan hidup dan keyakinannya tentang Islam, banyak ditulisnya dalam bebagai buku.

[8]  Sebagaimana diuraikan secara luas oleh Nurcholish Madjid dalam Kata Pengantar bukunya “Cendikiawan dan Religusitas Masyarakat”.
[9]  M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung, Mizan, 2007, Cet. XVIII, Hlm. 15.
[10]             Baca, Al-Qur’an surah Al-Rum [30]: ayat 30.
[11]             Baca, Al-Qur’an surah Ali Imran [3]: ayat 190–191, sebagai bukti bahwa Allah banyak memuji-muji “Ulul al-Baab” adalah Al-Qur’an mengulang kata “Ulul al-Baab” sebanyak 16 kali, di antaranya Al-Qur’an surah Al-Baqarah [2]: ayat 179, 197, 269; surah Ali Imran [3]: ayat 7 & 190–191; surah Al-Maidah [5]: ayat 100; surah Yusuf [12]: ayat 111; surah Al-Ra’d [13]: ayat 19; surah Ibrahim [14]: ayat 52; surah Shad [38]: ayat 29 & 43; surah Al-Zumar [39]: ayat 9, 18, 21; surah Al-Mu’min [40] : ayat 52–54; surah Al-Thalaq [65]: ayat 10.

[12]             M. Quraish Shihab mendefenisikan “Ulul al-Baab” yaitu orang-orang yang memiliki akal yang murni. Kata Al-Albab” adalah bentuk jamak dari Lubb yaitu saripati sesuatu. Misalnya kacang, yang memiliki kulit menutupi isinya. Isi kacang dinamai Lubb. Jadi “Ulul al-Baab” adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan berpikir. Yang merenungkantentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
[13]             Fakhruddin al-Razi,Kecerdasan Bertauhid, Menyelami Kekuatan Makna “La Ilaha illa Allah” Dalam Kehidupan Nyata, Jakarta, Zaman, 2011, Hlm. 14–15.
[14]             Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah [2]: 21–22.
[15]             Al-Qur’an, Surah Al-Anbiya’ [21]: 22.
[16]             Nurcholish Madjid, Pintu-pintu Menuju Tuhan…hal. 90
[17]             Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius: Memahami Hakikat Tuhan,Alam, dan Manusia. Jakarta: Erlangga, 2007, hal. 2
[18]             Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan : Sebuah Pengantar filsafat Islam, Cet.I ,Jakarta: Lentera Hati, 2006, hal. 78-87.
[19]             Komaruddin Hidayat,  Bisakah  Akal Menemukan Tuhan?, (Pengantar buku God and Philosophy…hal. 15.
[20]             Ibn al-'Arabi, Fushush al-Hikam, diedit oleh Abu al-'Ali' Afifi, 2 bagian (Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1980), 1:225-226.
[21]             Lihat Rumi, The Mathnawi of Jalal Al-Din Rumi, terj. Reynold A. Nicholson, London: Luzac & Co. Ltd, 1968. 
[22]             Tentang esensi dan hakikat pengetahuan dapat dibahas dari aspek-aspek lain. Apakah  pengetahuan itu merupakan perkara-perkara eksternal dan Hakîkî, yakni mencerminkan apa-apa yang ada di alam eksternal ataukah hanyalah merupakan hal-hal yang bersifat pikiran belaka dan kita itu diperkenalkan dengan apa-apa yang terdapat dalam pikiran seseorang? Allamah Thabâthabâi, Nihāyah al-Hikmah,.. hal. 298 dan 293   
[23]             Rumi, The Mathnawi of Jalal Al-Din Rumi…hal. 251
[24]             Fakhruddin al-Razi, Kecerdasan Bertauhid, Hlm. 130.
[25]             Tentang keadilan di dalam Islam dapat dilihat ulasan yang lebih memadai dalam Muhammad Yusuf Musa, al-Akhlaq fi al-Islam, Kairo, Muassasah al-Mathbu’at al-Haditsah, 1960, Hlm. 23–25, sebagaimana dikutip Amiur Nuruddin, Jamuan Ilahi, Pesan Al-Qur’an Dalam Berbagai Dimensi Kehidupan, Hlm 73.
[26]             Lihat, dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash [28]: ayat 59.
[27]             Lihat, dalam Al-Qur’an surah Al-Rahman [55]: ayat 7.
[28]             Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.
[29]             Maksudnya: bercampur antara benih lelaki dengan perempuan.
[30]             Lihat Surah Al-Fath : 4, Ali-Imran : 126, Al-Hadiid : 27, Al-Anfaal : 2 dan 70, Al-Hujurat : 7 dan 14.
[31]             Lihat Surah Al-Hasyr : 10, Al-Baqarah : 93, Ali-Imran : 7, At-Taubah : 15, 45, 77, 156; dan Al-Fath : 26.
[32]             Lihat Surah Al-Hajj ayat 46.
[33]             Lihat Surah Al-A’raaf ayat 179.
[34]             Lihat Surah Al-Hajj ayat 46.
[35]             Lihat Surah Al-Maa’idah ayat 41; dan Surah Az-Zumar ayat 45.
[36]             Lihat Surah Al-Hajj ayat 260; Surah Al-Mu’min ayat 35; dan Surah Al-Hadiid ayat 16.
[37]             Lihat Surah Qaaf ayat 37; dan Surah Az-Zukhruf ayat 36.
[38]             Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.
[39]             Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.
[40]             QS. Ali-‘Imran ayat :14
[41]             QS. Ash-Shaff ayat : 10 – 12.
[42]             Aboe Bakar Atjeh (1984), Pengantar Ilmu Sejarah Sufi dan Tasawwuf, Semarang : Ramadhani, h.316.
[43]             Lihat QS. Al-Ankabuut [29] ayat 69.
[44]             Lihat QS. An-Najm[53] ayat 39-44.
[45] Lihat QS. Al-Furqan ayat : 43.
[46] Lihat QS. Al-Baqarah ayat : 74
[47] Lihat QS. Al-Baqarah ayat : 2
[48] Lihat QS. Ali-‘Imran ayat : 159
[49] Lihat QS. Al-Baqarah ayat : 10
[50] Lihat QS. Al-Hajj ayat : 159
[51]             Lihat QS. An-Nuur ayat : 35
[52] Lihat QS. Al-Qadr [97] ayat : 7-8.
[53]             M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Vol 15, Hlm. 358–359.
[54]             Ibnu Athaillah, Zikir Penentram Hati, Jakarta, Serambi, 2005, lihat juga dalam, M.Abdul Mujieb, Ahmad Ismail, Syafi’ah, Ensiklopedia tasawuf Imam Al-Ghazali, Hlm. 590–591.
[55]             Maksudnya adalah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya (Muhammad) dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, kemudian Allah menjadikan taat kepada Nabi Muhammad Saw. yaitu termasuk juga taat kepada-Nya.
[56]             Perkataan Ibn Abbas r.a. tersebut dikutip Al-Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi, Hlm. 75.
[57]             Hadis Nabi Saw. tersebut dikutipAl-Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi, Hlm. 75.
[58]             Lihat Al-Qur’an surah Ali Imran [3]: ayat 191.
[59]             Lihat Al-Qur’an surah Al-Ra’d [13]: ayat 28.
[60]             Bunyi Firman-Nya dalam Kitab Suci, Karena itu, ingatlah engkau kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu,  dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah [2]: 152).
[61]             Al-Qur’an surah Al-Hasyr [59]: ayat 19.
[62]             Perhatikan bunyi Firman-Nya, “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang mempunyai al-asma al-Husna (nama-nama yang baik)”. (QS. Thaha [20]: 8).
[63]             Imam Al-Ghazali, Dzikrullah : Rahasia dan Kekuatan, Jakarta, Sahara Intisains, 2011, Cet IV, Hlm. 11.
[64]             Mushtafa Hilmi, Ibn Taimiyah wa al-Tashawuf, Iskandaria, Mesir, Dar al-Da’wah, 1403/1982, Hlm. 515, sebagaimana dikutip Nurcholish Madjid,  Islam Agama Peradaban, Hlm. 87.
[65]             Mushtafa Hilmi,Ibn Taimiyah wa al-Tashawuf, Hlm. 515–516
[66]             Imam Al-Ghazali, Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi, diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul, “Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila Hadhrah ‘Allam al-Ghuyub fi al-‘Ilmi al-Tashawuf”,Bandung, Pustaka Hidayah, 2006, Cet. I, Hlm. 170–171.
[67]             Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah [2]: ayat 163, Al-Ikhlas [112]: 1–4
[68]             Al-Qur’an, Surah Al-An’am [6]: ayat 102, Al-Ra’ad [13]: ayat 16, Fathir [35]: ayat 3, Al-Zumar [39]: ayat 62, Al-Mu’min [40]: ayat 62, Al-Hasyar [59]: ayat 24
[69]             Al-Qur’an, Surah  Al-Baqarah [2]: ayat 213, Al-Maidah [5]: 48
[70]             Al-Qur’an, Surah Ali Imran [3]: ayat 85, Al-Nisa’ [4]: ayat 125
[71]             Al-Qur’an, Surah Al-Taubah [9]: ayat 31,Al-Dzariyat [51]: ayat 56
[72]             Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah [2]: ayat 30, Al-An’am [6]: ayat 165
[73]Abi Hurairah menjelaskan, Ketika Nabi Muhammad di tengah-tengah kerumunan manusia, lalu beliau didatangi seorang laki-laki dan bertanya kepadanya; Apakah iman itu? Nabi menjawab : Iman adalah engkau percaya kepada Allah, bertemu dengan-Nya, percaya akan adanya Malaikat-Nya, mengakui Rasul-Nya, dan bangkit dari kubur (hari kiamat). Lelaki itu bertanya lagi ; Apakah Islam itu? Nabi menjawab : “Islam adalah Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dirikan shalat, tunaikan zakat, dan berpuasa pada bulan ramadhan”. Lelaki itu bertanya lagi; Apakah ihsan itu? Nabi menjawab : Hendaklah engkau beribadah menyembah Allah, seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu bertanya lagi ; Kapan terjadinya hari Kiamat? Nabi menjawab : “Tidaklah orang yang bertanya lebih mengetahui  jawabannya tentang hal ini daripada orang yang ditanya, aku akan jelaskan tentang tanda-tanda kiamat (ialah) : apabila seorang budak melahirkan tuannya, apabila para penggembala binatang ternak telah berlomba bermegah dalam bangunan, ia termasuk lima hal yang tak seorangpun mengetahuinya kecuali Allah”. Kemudian lelaki itu pergi dan Nabi pun berkata kepada para sahabat : “Panggillah lelaki itu”, tetapi tak seorangpun dari sahabat melihatnya lagi. Lalu Nabi berkata: “Lelaki itu adalah Malaikat Jibril, ia datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama”. (HR. Bukhari dan Muslim).
[74]             Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[75]             Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

1 komentar: